Bagaimana kabarmu, Ayah?

Diah Novita
Karya Diah Novita Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 23 Oktober 2016
Bagaimana kabarmu, Ayah?

Tut… tut… tut…

“Halo, assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam. Sedang apa Yah? Bagaimana kabar Ayah?”

Lalu percakapan telepon berlangsung begitu saja, sedangkan hatiku masih terpaut dengan kalimat tanya, “Bagaimana kabar Ayah?”

Mengapa harus ada pertanyaan semacam itu di antara kita, Yah? Jika saja tak ada jarak di antara kita. Seandainya tak ada batas untuk bertemu. Seandainya Ayah masih bersamaku. Aku tak perlu lagi bertanya bagaimana keadaan Ayah. Aku bisa menyaksikannya melalui mataku sendiri. Ketika Ayah sedang bahagia aku dapat melihatnya. Saat Ayah bersedih, aku akan ada di samping Ayah. Bahkan saat ayah tersenyum untuk menutupi rasa lelah, aku akan tetap tau bagaimana keadaan Ayah.

Tetapi, kita tak saling bertemu. Aku harus bertanya padamu. Dan Ayah, bagaimanapun jawabannya, aku tak pernah tau. Entah Ayah sungguh-sungguh dalam keadaan baik atau Ayah hanya berpura-pura baik demi menjaga hatiku dari rasa khawatir, aku tak tau. Aku tak begitu pandai menilai nada bicaramu, Yah.

Apa Ayah ingat, pertemuan kita sembilan bulan yang lalu, di hari pernikahanku? Pertemuan pertama kita setelah sepuluh tahun Ayah menghilang dariku. Setelah pernikahan berlangsung, malam itu saat semua telah menjadi sepi, Ayah belum juga tidur. Aku duduk di samping Ayah, membawa secangkir teh hangat. Lalu Ayah bilang, “Rasanya ini hanya mimpi. Rasanya baru kemarin Ayah datang, lalu acara pernikahan telah selesai. Dan beberapa hari lagi Ayah akan segera kembali.”

Iya Yah, ini hanya seperti mimpi bagiku. Baru saja aku melihatmu lalu kau akan segera menghilang lagi dari sisiku. Kau harus kembali pada mereka, yang Ayah sebut sebagai keluarga baru. Mengapa harus begini Yah? Aku putrimu dan kau meninggalkanku, ada tempat lain sebagai tujuan pulangmu. Aku merasa hanyalah tempat persinggahan sesaat bagimu.

“Tapi, Ayah akan segera datang lagi. Nanti, kalua kamu melahirkan cucu Ayah, bagaimana pun keadaannya, Ayah akan segera datang.” Ayah berkata dengan penuh semangat. Aku hanya tersenyum.

Mengapa harus seperti ini. Mengapa harus menunggu saat-saat tertentu untuk bertemu? Andai saja kita masih bernaung di bawah atap yang sama, kita akan selalu bertemu. Ketika di meja makan, ketika di ruang keluarga, ketika menonton TV, ketika hendak pergi tidur, kita akan selalu bertemu, Ayah. Tak perlu menunggu esok, lusa, setahun, dua tahun, saat aku menikah, saat aku melahirkan, tak perlu saat-saat tertentu. Kita harusnya bebas bertemu. Lalu, mengapa begini, Yah? Mengapa harus ada alasan bagiku untuk menemuimu?  Apa ada sepotong penjelasan untukku?

Tidak ada kan, Ayah?

Bagaimana pun, aku harus mengerti. Aku tak bisa terus merengek sebagai putri kecilmu. Jika aku harus menunggu, aku akan menunggu. Jika harus ada alasan, aku akan mencari alasan itu. Meski sulit, meski rindu terasa menyengat setiap hari, akan sanggup ku lalui. Hanya saja, jangan bersembunyi. Apa yang kau rasa, apa yang sedang kau lalui, katakanlah padaku, Ayah. Biarkan aku selalu tau tentangmu. Karena hanya dengan itu, aku merasa lebih dekat denganmu. Meski tanpa melihatmu, itu cukup bagiku.

Jadi, Ayah, bagaimana kabarmu? Biarkan aku mendengarnya darimu.

  • view 297