Peraturan Dibuat untuk Dilanggar?

Diah Novita
Karya Diah Novita Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 15 Agustus 2016
Peraturan Dibuat untuk Dilanggar?

Sore itu, untuk pertama kalinya, aku merasa lelucon bersama anak-anak menjadi suatu hal yang mencekam. Aku sedang mengetik soal placement test untuk anak-anak kelas 6 SD yang akan mengikuti kelas persiapan Ujian Sekolah. Kemudian kakak beradik, sebut saja Tom dan Jerry, dua anak laki-laki yang duduk di kelas 3 dan 5 SD. Seperti biasa mereka meminjam telepon kantor untuk menghubungi mamanya.

Brak!

Tom (si kakak) menaruh gagang telepon dengan keras.

“Hish, teleponnya bisa rusak Tom. Besok jangan pinjam lagi.” Gerutuku yang tak pernah ditakuti oleh anak-anak. Mereka tahu, aku tak pernah benar-benar marah.

“Kenapa mama nggak angkat teleponnya sih mbak? Kapan aku dijemputnya?”

“Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang.” Jawabku sedikit sadis.

Lalu Tom mencoba sekali lagi. Dan kembali tak terangkat.

“Sudah sudah. Kalau tidak diangkat itu berarti mama masih nyetir. Tunggu sebentar lah. Kalian itu harus belajar jadi orang sabar.”

“Huh.” Mereka kompak memonyongkan bibir ke arahku.

Mereka pun akhirnya menunggu. Bukan menunggu dengan duduk manis sambil membaca atau kegiatan yang tenang lainnya. Mereka saling berteriak. Yang satu mengejar. Yang satu sembunyi. Menyeret kursi sebagai benteng pertahanan. Persis sekali, Tom dan Jerry. Mereka gaduh sekali.

Aku mendatangi mereka dengan raut muka sok galak. “Bisa diem nggak?”

“Enggak.” Mereka menjawab dengan kompak lalu tertawa terbahak-bahak.

“Nggak lucu. Sekarang diam, duduk yang tenang.”

“Ya nggak maulah.” Sahut si Jerry.

“Kalian nggak baca peraturan ha?” Jawabku sembari menunjuk tempelan kertas di dinding dekat pintu masuk kantor, yang intinya melarang siapa saja yanag berbuat gaduh.

“Haha, mbak nggak pernah dengerin pepatah ya?” Tom balik bertanya.

“Apa?” Tanyaku dengan sedikit melotot.

“Peraturan itu dibuat untuk dilanggar.” Jawab Tom yang akhirnya membuat mereka kembali tertawa.

“Heh denger ya. Itu bukan pepatah. Itu kalimat konyol yang keluar dari mulut orang yang sedang frustasi. Kalian jangan ikut-ikutan begitu. Dasar anak kecil. Sudah gini aja ya, kalau kalian nggak bisa nunggu jemputan dengan tenang, mbak akan naik ke guru kalian biar ditambahin PR-nya.”

“Yah mbak ini nggak asyik.”

“Gini ya, kalian rame gitu, ganggu kelas sebelah, tahu? Mereka lagi belajar, kalau kalian rame nanti mereka nggak konsen lagi belajarnya. Coba kalau kalian lagi belajar, terus orang lain ganggu, gimana perasaan kalian?” Kataku, berharap mereka mengerti dengan menempatkan mereka pada posisi yang sama.

“Ehm, kita nggak masalah ya Jer?” Jerry mengangguk, mengiyakan kata-kata kakaknya. Lalu Tom melanjutkan, “Lagian kalau kita rame terus mereka terganggu ya itu bukan masalah kita mbak, itu masalah mereka, wek!” Tom menjulurkan lidahnya kepadaku.

Lalu mereka kembali duduk dan mengabaikanku. Mereka duduk dengan lebih tenang dan berbincang tentang game yang sedang mereka gemari saat ini. Dan aku kembali ke tempatku. Aku kembali mengetik dengan isi kepala yang hampir membeludak. Apapun yang dikatakan Tom dan Jerry seolah menarikku pada persoalan negeri ini. Negeri yang dihuni oleh para pecundang. Kata-kata Tom barusan membuatku bertanya, begitukah cara berfikir para pecundang negeri ini? Mereka melakukan apa saja, asalkan tidak menjadi masalah bagi mereka, dan meski hal itu menjadi masalah untuk orang lain, mereka tak peduli. Ahh, mereka anak-anak, mengapa aku menganggapnya serius. Tapi, di sisi lain aku berfikir, bahwa pecundang negeri ini dulunya juga anak-anak yang manis seperti ini. Dan entah mereka keracunan apa atau kelebihan vitamin apa sehingga mereka berubah, menjadi monster mengerikan pemakan sesama. Hidup semaunya. Sekali lagi berputar dalam otakku, kata-kata kakak-beradik itu.

“PERATURAN DIBUAT UNTUK DILANGGAR”

Dari mana mereka menemukan kata-kata itu. Sudah sedemikian jauh kah kehidupan sosial ini mencuci otak mereka? Apa orang tua mereka tahu soal ini?

Mereka di masukkan ke sekolah yang bergengsi. Kabarnya sistem pengajaran dan fasilitasnya sangat baik. Ya, ada harga ada rupa. Orang tuanya mengeluarkan banyak uang untuk sekolahnya, untuk les ini dan itu. Buku-buku terbaik pun semakin menunjang proses belajar mereka. Tak heran jika kini mereka tumbuh menjadi anak-anak yang sangat pandai. Sangat pandai bicara, sangat pandai berdalih, sangat pandai menyangkal perkataan orang dewasa. Mereka terlalu banyak belajar dan membaca. Mereka jadi tahu banyak hal. Untuk beberapa kondisi, mengetahui banyak hal menjadi tidak baik. Mungkin kepandaian mereka akan menjadi bumerang suatu hari nanti. Semoga uang gedung 20 juta per siswa yang keluar setiap tahunnya dan SPP 3 juta per bulan tidak keluar dengan sia-sia. Uang sebanyak itu terbuang hanya untuk menjadikan mereka banyak bicara. Oh sungguh.

Anak-anak, mendadak aku kasihan kepada mereka. Mereka telah mengenal kalimat menyedihkan itu sejak dini.

“PERATURAN DIBUAT UNTUK DILANGGAR”

Kata orang, anak-anak adalah perekam terbaik. Bahkan untuk hal-hal yang belum mereka mengerti, akan terekam dengan rapi dan tersimpan di dalam otaknya. Hingga pada saatnya apa yang terekam dahulu kala akan mempengaruhi pikiran mereka di masa mendatang dengan sendirinya. Aku khawatir kalimat yang baru saja mereka katakan akan terbawa hingga mereka dewasa. Dan akan menjadikannya terbiasa. Tiba-tiba aku menjadi sangat perhatian kepada orang tuanya. Bagaimana jika suatu hari, mereka melakukan kesalahan, lalu orang tuanya mencoba meluruskan, namun mereka menyangkal dengan argumen-argumen yang mereka ciptakan untuk mempertahankan diri? Bagaimana jika dia menenggelamkan rasa hormat mereka pada orang lain untuk dapat duduk dengan tenang di atas bangku yang mereka kuasai?

Kring … , kring… , kring … . Telepon berdering. Aku mengangkatnya. Ada suara seorang ibu yang merasa bersalah di seberang sana.

“Tolong sampaikan pada anak-anak ya Miss, saya akan terlambat, jalannya macet sekali.”

“Baik Ibu akan saya sampaikan.”

Hatiku terisris. Seorang ibu yang berhati lembut itu, akankah Tom dan Jerry, si mungil yang biasa bercanda denganku ini akan benar-benar tumbuh menjadi monster penghancur negeri ini? Semoga prasangkaku keliru.

“Tom, Jerry, mama bilang agak terlambat, jalanan macet.”

“Yah, mesti macet kalau jam segini.” Gerutu Jerry.

“Iyalah, ini kan jam orang pulang kantor. Lagian kalian kenapa milih jam les yang sore?”

“Kan pulang sekolahku jam setengah tiga mbak.”

“Kalian kan masih SD. Waktu SD pulangku jam dua belas.”

“Itu jaman dulu mungkin mbak.” Jerry bermaksud mengejek.
“Ya, terserah lah. Yang penting jangan bikin onar. Ingat peraturannya apa?”

“Mbak ini lho selalu peraturan. Udah dibilangin peraturan dibuat untuk dilanggar kok.” Kata Tom menatapku tajam.

“Lagian lho mbak, kalau satu orang taat peraturan tapi sepuluh orang melanggar kan jadi peraturannya nggak berarti. Kaya mbak gini, ngotot soal peraturan, tapi kalau aku sama kak Tom melanggar dan teman-teman lain juga melanggar, mbak mau apa?”

“Mending ikut ngelanggar aja ya Jer?” Lalu mereka tertawa lagi. Aku sempat berfikir, mungkin mereka kelebihan hormon bahagia karena mereka sering tertawa, bahkan pada hal-hal yang tidak lucu seperti itu.

“Rupanya kalian nggak sia-sia sekolah di tempat yang mahal. Kalian jadi pintar sekali.”

“Iya dong.” Mereka menyahut dengan kompak dan bangga.

“Heh, mbak nggak lagi muji ya ini. Kalian itu jangan pinter-pinter harusnya. Mulai sekarang kalian harus ganti buku-buku tebel itu dengan komik. Kalian jadi terlalu pinter sebelum waktunya, tahu?”

“Yah mbak ini, emangnnya pinter ada ukurannya mesti kapan ha?”Tom menyangkalku lagi.

“Ya adalah. Kalian kan masih SD, tapi sudah banyak tahu hal-hal yang harusnya baru diketahui setelah kalian kuliah. Dasar!”

“Itu sih mbak aja yang katrok. Huh.” Lagi-lagi mereka kompak memonyongkan bibir padaku.

Lalu lelucon itu berakhir. Ku biarkan mereka berbuat sesuka hati. Aku memilih diam daripada harus membuang tenagaku untuk hal yang sia-sia. Mereka selalu memiliki sejuta jawaban untuk satu pertanyaan yang kuberikan. Sekali lagi aku benci jika mereka terlalu banyak membaca. Oh, aku ingat beberapa waktu yang lalu. Tom datang les lebih awal. Waktu itu Jerry sakit sehingga tidak datang. Tom membawa buku yang sangat tebal, sebagai ganti untuk menghabiskan waktu menunggu karena tak ada Jerry yang dapat ia ajak main bersama. Buku itu adalah sebuah buku terjemahan yang entah isinya apa. Kata Tom, dia memiliki banyak buku serupa di rumahnya. Tom bercerita sedikit tentang buku itu, tapi aku tetap tak bisa memhaminya. Bahasanya terlalu tinggi untuk ku mengerti. Dia menceritakan beberapa tokoh dunia dengan kisahnya masing-masing yang namanya sulit untuk ku ingat. Mungkin Tom memiliki kelebihan ruang di otaknya untuk mengingat semua nama itu. Apa pun yang dia baca, memiliki pengaruh dalam hidupnya. Caranya berfikir, caranya bicara, berbeda dari teman-teman seusianya. Entah manusia macam apa mereka itu. Sekecil itu sudah sebegitu pandainya, bagaimana besarnya nanti? Apa mereka akan mengetahui setiap sisi dunia ini?

 

Dingin, gelap, perjalan pulang menjadi lebih mencekam dari biasanya. Aku masih terbayang-bayang wajah bu Ester. Seorang mama berhati lembut. Yang melakukan segala yang terbaik untuk anak-anaknya. Semoga saja mereka tumbuh menjadi anak yang berbakti, setidaknya menjadi anak-anak yang tahu diri. Orang tua mereka mengeluarkan biaya berpuluh-puluh juta untuk mereka setiap bulannya. Semoga mereka mampu membalas budi, menjadi siapapun mereka suatru hari nanti. Bu Ester selalu ramah dan baik hati. Ia selalu membuataku berada setara dengannya. Ia tak pernah membuatku merasa harus mengerti di mana posisiku ketika kami berbicara. Ia tak pernah membuatku merasa kecil meski SPP anak-anaknya lebih besar dari gajiku, dan harga satu tasnya sebanding dengan harga pakaianku satu lemari penuh. Bu Ester adalah orang yang sangat pandai menghargai. Menghargai apaun itu. Mengahargai orang lain, menghargai setiap peraturan yang dibuat. Selalu mengantar anak-anaknya tepat waktu. Selalu bayar uang les tepat waktu. Semoga anak-anak tak hanya pandai mempelajari apa yang mereka baca. Semoga mereka juga pandai mencontoh hal-hal baik dari orang tua dan orang-orang di sekitarnya. Semoga belum terlambat untuk menghapus ingatan-ingatan buruk dari otak Tom dan Jerry. Jika mereka terus mengingat dan menerapkan hal-hal buruk yang mereka tahu, akan menjadi manusia macam apa mereka nanti? Jika ada lebih dari separuh penduduk menerapkan kalimat menyedihkan itu, akan jadi apakah negeri ini?

“PERATURAN DIBUAT UNTUK DILANGGAR”

Oh, siapa yang akan menjelaskan? Apa aku benar-benar harus bertanya pada rumput yang bergoyang?

 

Menyedihkan.

  • view 506