Ramadhan, Tetaplah di Sisiku

Diah Novita
Karya Diah Novita Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 01 Juli 2016
Ramadhan,  Tetaplah di Sisiku

Rasanya,  baru beberapa hari yang lalu khimarku diayun lembut oleh nafasmu.  Kala itu,  untuk pertama kalinya kita bertemu. Kau hadir memelukku setelah sekian lama aku menunggu.  

Ketika itu,  surau-surau tak lagi sepi.  Dan shaf-shaf penuh terisi.  Anak-anak kecil saling bergandeng tangan,  gembira sekali. 

Aku bahagia.  Terlalu bahagia.  Ya,  dini hari pertamaku bersamamu. Menikmati segelas teh hangat dan semangkuk mie rebus beserta telur dan irisan cabai,  nikmat sekali.  Aku akan melalui hari-hariku bersamamu sebaik yang ku bisa. 

Jika kau suka aku bersabar, menjaga amarah,  lisan dan perbuatan, dengan pasti akan ku lakukan.  Jika kau suka keningku mencium sajadah berkali-kali,  sudah tentu akan ku jalani.  Jika kau ingin aku bersenandung dengan ayat-ayat suci,  akan kulantunkan setiap hari. 

Kau teramat istimewa bagiku. Segala yang terbaik,  adalah untukmu.  Tak peduli lelahku.  Tak peduli penatnya aku. Kau adalah pemusnah bagi semua itu. 

Kita lalui hari demi hari.  Mengobati hati yang rindu.  Menghabiskan seluruh waktu yang tersisa,  hingga akhirnya...,  hari kemenangan akan segera tiba. 

Betapa pilunya aku.  Orang-orang asyik bepergian,  berbaur di pusat perbelanjaan.  Borong ini borong itu. Mereka lupa kepadamu.

Andai mereka sebahagia itu ketika menyambutmu.  Andai mereka meluangkan banyak waktu denganmu.  Andai di sepuluh malam terakhirmu digunakan untuk bermanja-manja denganmu.  Namun,  nyatanya, mereka lupa waktu.

Di sisi lain,  kau sedang benar-benar mencari cinta sejatimu.  Siapa gerangan yang akan menundukkan kepala,  meninggalkan rumahnya dan datang kepadamu.  Menghabiskan seluruh malamnya untuk bercengkerama denganmu.  Dan kau temui,  hanya sebatas hitungan jari. 

"Kemana kekasih sejatiku?  Kemana yang katanya sungguh mencintaiku?  Mereka tak disisiku bahkan di hari-hari terakhirku. " Ramadhan bersedih meratapi banyak hati menghilang darinya. Tapi kemudian,  ia pandang di sekelilingnya,  meski dapat dihitung dengan jari,  tapi demikianlah orang yang mencintai.  Dia tetap ada disaat kebanyakan orang hilang entah kemana.  Ramadhan memeluk mereka yang tersisa.  Dengan derai air mata yang penuh dengan cinta. 

Ramadhan,  jangan berlalu dariku.  Rasanya,  kita baru saja bertemu.  Aku harus menghabiskan waktu yang amat lama untuk kembali berjumpa denganmu.  Harus selama itu menahan rasa rinduku. Bahkan,  akupun tak tau,  masih bisakah aku berjumpa denganmu,  dilain waktu.

Bagai seorang kekasih yang hilang, kau akan selalu ku rindukan. Bagai seorang kekasih yang setia,  aku akan  menunggu hingga kembali kita berjumpa.  

Sampai bertemu, Ramadhanku.  Aku akan selalu rindu. 

  • view 133