Pembatas Buku

Diah Novita
Karya Diah Novita Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 11 Mei 2016
Pembatas Buku

Tak pernah ku sadari apa yang terjadi. Kakiku selalu melangkah ke arahmu. Seperti telah kau tanam magnet dalam diriku. Sehingga membawaku selalu padamu.

Meski kau diam namun kau seolah memanggilku dan memintaku duduk di sampingmu. Aku hanya terpaku mengunci bibirku. Tak dapat berkata-kata lagi bila di depanmu. Aku hanya mampu memandangimu penuh rasa kagum. Melihatmu tanpa kedip hingga perih terasa pada kedua bola mataku. Menemanimu membaca seakan aku adalah sebuah cerita dalam bukumu. Ya, seandainya aku adalah buku yang sedang kau baca itu. Yang selalu kau pegang dan kau amati tanpa henti. Yang membuatmu begitu larut hingga tak peduli lagi semua yang ada di sekitarmu. Buku itu seperti telah menyita seluruh perhatianmu. Memberimu dunia yang begitu luas. Membuatmu merasa tak biasa. Sesuatu yang tak bisa ku lakukan, telah mampu dilakukan oleh buku itu. Buku yang membuatmu tak menghiraukanku.

“Rian, mau minum nggak?”

“Di perpustakaan kan nggak boleh makan dan minum Vi.”

“Iya, maksudku kita pergi ke kantin.”

“Uhm, enggak ah aku masih mau baca ini. Kamu haus?”

“Nggak terlalu sih Rian. Ya sudah di sini saja.”

Lalu semua menjadi bisu. Hatiku berkeluh kesah padamu. Aku selalu mendamba pertemuan yang lebih indah dari ini. Namun kau tetap sama, dingin, beku, kaku. Aku harus selalu menebak apa yang ada di  pikiranmu. Dan seringkali tak sesuai dengan dugaanku.

Selain aku, tak ada lagi yang dekat denganmu. Rasanya buku adalah teman terbaik sepanjang hidupmu. Bahkan, aku yang telah dekat denganmu pun tak pernah berarti lebih dari buku-buku itu. Semula, aku mengagumimu karena hal itu. Namun, kini, entah mengapa aku tak suka lagi dengan kebiasaanmu. Aku cemburu? Apa aku mencemburui sebuah buku?

Aku tidak cemburu Rian. Andai saja kau tau kapan saat kau bisa berdua saja dengan bukumu dan kapan berdua denganku. Berdua. Aku lupa, kau tak pernah menganggap kebersamaan kita menjadi sesuatu yang lebih. Aku adalah teman biasa bagimu. Teman biasa yang tanpa tahu diri meminta lebih padamu. Teman biasa yang hanya berfungsi melengkapi tempat kosong di sebelahmu, dimana pun itu. Teman biasa yang melepaskan diri dari ramainya kerumunan hanya untuk menemanimu membaca. Meski sebenarnya, ada aku atau tidak, kau akan tetap menikmati apa yang kau baca. Dan dengan kata lain aku harus mengakuinya, bahwa aku tak berguna.

Entah sampai kapan begini. Jika kau pandai memahami setiap kalimat yang kau baca, mengapa kau tak pernah bisa membaca hatiku. Memahami apa yang ku harapkan darimu. Dan ajaklah aku membuat cerita kita sendiri. Cerita yang barangkali, akan dibaca oleh anak cucu kita nanti.

.  .  .  .  .  .

Kau berhenti. Waktu istirahat telah usai. Kau ambil sebuah pembatas buku. Kau selipkan di antara dua halaman terakhir yang kau baca. Kau bilang sampai bertemu lagi nanti.

Begitu sajakah?

Pertemuan kita, begitu sajakah? Aku telah menunggu lama untuk sebuah pertemuan singkat setiap harinya. Pertemuan singkat yang tak lebih dari sekedar sapaan orang asing.

Kau membuatku mengerti, seperti sebuah pembatas buku, selalu ada batas untuk kau dan aku. Kita adalah dua halaman yang amat dekat. Namun tak pernah bisa saling menyatu. Selalu ada batas di antara kita. Kita, adalah dua halaman dengan sebuah pembatas buku. Kita tak dapat bersatu. Meski cinta begitu menggebu namun harapan tetaplah semu. Karena rasaku dan rasamu tak saling bertemu. Dan aku, pilu.

 

 Gambar diunduh dari:  www.idntimes.com

  • view 231