Sekolah Menengah Pertama ~ Rasaku

Diah Novita
Karya Diah Novita Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 06 Mei 2016
Sekolah Menengah Pertama ~ Rasaku

Aku masih selalu mengingat setiap pagi itu. Kamu berjalan memasuki gerbang dan ada aku yang duduk di taman tanpa kamu  sadari. Aku mengikutimu dengan sembunyi sembunyi. Seperti detektif yang sedang ingin memecahkan kasus. Aku suka sekali menjadi bayang bayangmu. Bayangan yang sama sekali tidak memaknai hidupmu.

Sejak aku mengenalmu, banyak hal berubah dalam hidupku. Dulu aku semangat pergi ke sekolah agar aku bisa menimba ilmu sebanyak banyaknya. Tapi setelah hari dimana aku dengan sengaja ingin membuang topimu yang kamu letakkan tanpa perhatian di teras perpustakaan kala itu. Kamu kesal dan menganggapku kurang ajar. Lalu aku berbalik menyalahkanmu, kenapa bisa seteledor itu. Kenapa kamu baru peduli setelah topimu akan dibuang oleh orang asing yang kurang kerjaan sepertiku? Lalu kamu diam dengan geram. Kamu mengambil paksa topimu kemudian pergi melewatiku. 
Semenjak saat itu, tujuanku pergi ke sekolah agar aku bisa melihatmu dan mengganggu hidupmu dengan kelakuan kelakuan dramaku.

Aku bukan perempuan yang tomboi. Tapi aku juga tidak suka berdandan. Aku jarang sekali peduli dengan penampilanku. Aku akan berpenampilan sedikit lebih baik saat ada upacara saja. Tapi semua berubah sejak hari dimana aku beberapa kali berselisih untuk hal hal kecil denganmu. Saat aku tanpa sengaja menginjak kakimu. Aku jalan dengan setengah berlari bersama sahabatku karena bel masuk sudah berbunyi. Dan kamu juga sama. Kamu sedang berlomba maraton dengan waktu. Disana, di bawah pohon flamboyan kamu menatapku tanpa kedip, seperti singa yang telah diganggu tidurnya. Dan ternyata aku salah mengira, kamu tidak sekejam itu. Kamu hanya mengatakan bahwa aku ini seperti anak ayam yang berjalan tanpa haluan. Dan aku adalah perempuan paling aneh karena memakai pita kupu kupu disisi kiri dan kanan rambutku. Penampilan yang menurutmu buruk untuk anak yang bukan SD lagi. Lalu kamu pergi dengan terburu buru karena takut waktu akan mengalahkanmu. Aku juga pergi dengan langkah yang sedikit lambat tanpa berfikir bahwa waktu akan mendahuluiku. Aku masih setengah berfikir kata katamu itu reflek dari rasa kesalmu atau karena sesuatu yang belum aku tau. Kamu menjadi sepeduli itu padaku. Dan sejak kamu mengoreksi penampilanku, aku meluangkan waktu untuk memotong rambut panjang kebanggaanku menjadi sebahu. Dan aku beri voni sedikit seperti kebanyakan teman temanku. Entah kena hipnotis apa sehingga aku sangat peduli dengan penilaianmu. Seolah olah aku harus selalu tampil indah di depanmu.

Dulu aku keluar ruangan saat pelajaran berlangsung hanya jika ada perintah dari guru atau karena hasrat ingin berkunjung ke belakang terlalu menggebu. Tapi semua berubah sejak hari dimana kamu memergokiku memetik buah cerry di kebun belakang sekolah. Sebelum kamu berkata apa apa aku sudah dengan lantang membela diri. Aku bilang kalau aku sudah ijin ke pengurus kebun. Dan aku boleh memetiknya sesering yang aku mau. Kamu menghela nafas kemudian berkata bahwa aku sok tau. Kamu bilang bahwa kamu hanya ingin mengingatkanku kalau pohon cerry itu letaknya sangat menepi. Jika aku terlalu melonjak aku akan jatuh ke sungai. Lalu kamu berjalan mendekat memberiku isyarat untuk mundur dengan tanganmu. 
Kamu mengambil alih galah yang diujung atasnya sudah menempel botol minuman yang dipotong sebagian. Kamu mulai mencari cari buah cerry yang matang. Setelah cukup banyak yang kamu dapatkan, kamu menarik tanganku. Kamu menuangkan semua hasil usahamu. Kamu hanya mengambil satu yang masih setengah matang dan setelah itu pergi tanpa pamitan. Saat itu kebun yang penuh sesak dengan rumput rumput liar tiba tiba serasa berubah menjadi taman dengan bunga bunga indah seperti yang pernah kulihat di film film India. Setelah kejadian itu, aku sering mencari alasan untuk keluar kelas. Untuk mengintipmu dari kebun belakang sekolah, di samping kelasmu. Dan aku bisa melihatmu tanpa sepengetahuanmu.

Aku tidak tau kapan rasa itu mulai hadir.Aku terlambat menyadari bahwa hatiku perlahan lahan mulai membutuhkan perhatianmu. Inilah masa saat hatiku benar benar berfungsi untuk merasa. Saat perasaanku membunuh akal sehatku secara paksa. Saat aku bisa menikmati senyuman senyumanku yang tanpa alasan. Saat aku berfikir bahwa sedikit saja senyummu bisa mengobati segala kesedihanku. Saat aku mulai betah berlama lama di sekolah dan saat libur akhir semester menjadi sekian lamanya kurasa. Saat aku ingin menon-aktifkan alarm sekolah agar bel tidak berbunyi jam satu siang nanti. Aku ingin memperlambat waktu tanpa peduli dengan masakan ibuku yang biasa menggoda imanku. 
Saat hari hariku dipenuhi dengan rasa ingin bertemu. Rasa yang biasa disebut dengan rindu. Dimana lagu lagu yang biasa kudengar di radio menjadi berarti lebih untukku. Seakan akan akulah yang sedang diceritakan oleh lagu itu. Ajaib bukan? Satu rasa saja bisa merubah hidupku sedemikian jauhnya. Bisa membuatku menangis dan tertawa pada saat yang sama. Rasa yang tumbuh begitu saja. Rasa yang tidak bisa dipaksakan kedatangannya. Rasa yang tidak ada rumusnya. Rasa yang sama, yang masih selalu kubawa. 

Dan aku masih mencarinya.
Segenggam hati yang kau ambil dari tempatnya. Kini ... akulah sungai tanpa muara. 

http://diahtnov.blogspot.co.id/2014/07/sekolah-menengah-pertama-rasaku.html

 

  • view 111