Yang Telah Pergi

Diah Novita
Karya Diah Novita Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 24 April 2016
Yang Telah Pergi

Aku menemukanmu kembali, dalam ingatanku. Semua tentangmu menarik seluruh hatiku. Kau tak pernah luput dari ingatanku.

 

ÿÿÿ

 

“Kita ke taman dulu ya Ar.”

“Untuk apa?”

“Metik bunga melati.”

“Kamu sadar nggak kalau kamu aneh? Sekarang aku mulai curiga. Kenapa kamu selalu memetik bunga melati setiap hari Rabu?”

“Karena melati itu harum sekali. Rasanya bisa bikin segar. Dan hari ini pelajaran Sejarah. Aku selalu ngantuk. Jadi aku butuh ini.” Jelasku sembari memegang beberapa bunga melati di tanganku.

“Sekarang aku sadar kalau kamu benar-benar aneh. Yah, tapi untunglah, aku kira itu ritual buat melet aku.” Katamu dengan senyum terindah yang akhirnya ku dapatkan pagi itu.

 

ÿÿÿ

 

Kini, hanya ada aku dengan khayalku sendiri. Mengingat semua tentangmu hingga larut dalam sepi. Sebuah kenyataan yang membuatku sesak hingga kini, bahwa kau masih tetap tinggal dalam hati. Tak pernah pergi meski aku mengusirmu berulang kali. Kau tetap lekat di tempat, dan tak bergeser barang sesenti.

Kenapa tak ada lagi hal-hal sederhana yang bisa kita tertawai bersama? Kenap kita tak lagi menyaksikan senja bersama? Menutup hari kita dengan segala gelisah. Menyambut setiap rindu yang akan memeluk malam kita. Membuat mata kita terpejam dengan penuh rasa tak sabar untuk setiap pertemuan hari esok kita.

Andai kau masih memberiku ucapan selamat pagi. Dan kau selalu menutup perjumpaan kita dengan kata ‘sampai jumpa’ , sebagai upayamu meyakinkanku bahwa waktu akan membuat kita kembali bertemu. Dan masih jelas tergambar dalam benakku, ‘sampai jumpa’ terakhirmu.

 

ÿÿÿ

 

“Kenapa bertemu di sini?” Tanyaku tak mengerti.

“Katamu ingin tempat yang indah. Ini taman, ada bunga-bunga. Di ujung sana tempat bunga melati. Dan di tempat ini, setiap pagi kita bertemu.”

“Di tempat ini juga kamu mulai menyadari bahwa kamu memilih orang aneh sebagai kekasihmu.”

“Hah.Iya juga. Kenapa aku memilihnya ya. Harusnya ku putuskan saja sejak dulu.”

“Huh dasar.”

“Jadi, mau metik bunga melati lagi tidak?”

“Enggak ah. Sekarang aku nggak bisa ngantuk-ngantukkan. Sebentar-bentar telephon berdering. Dan aku jadi sangat melek jika suara di seberang sana adalah seorang wanita yang gemar uring-uringan.”

“Sabar bu …”

“Susahnya kalau kerja di bidang jasa. Tau hukumnya? Jika ada hukum bahwa wanita selalu benar, di dunia jasa itu customer selalu benar. Jadi kebayang kan kalau customernya wanita. Berapa tingkat ‘selalu benar’nya. Huh”

“Hahahaha.” Kau menertawaiku. Lalu mengayunkan lenganmu. Membawanya ke pundakku. Kau tertawa begitu lepas. Entah karena apa,  ku rasa gerutuku tidaklah lucu. Kau masih melengkungkan lenganmu. Jemarimu mengusap halus rambutku. Nafasmu semilir menghangatkanku. Kau menutup hariku dengan indah. Kau mengusir segala lelah tanpa harus banyak bicara. Kau cukup terdiam dan di sampingku, aku tenang.

Kita melewati senja bersama. Hanya saling diam dan membiarkan hati kita bicara. Menyaksikan burung-burung pulang. Menyaksikan matahari pergi memberi terang ke sisi dunia yang lain. Aku begitu larut dalam dekapmu. Hingga gelap membutakan mataku.

“Ayo pulang Lang.”

Kemudian kita berjalan dengan lenganmu yang masih melingkar. Kita melangkah pelan, seolah tak ingin malam membuat kita terpisah. Dan kita telah melewati pergantian waktu yang menyesakkan ini bertahun-tahun. Dari tahun pertama putih-abu-abu kita. Hingga kita telah mengabdikan diri di sebuah perusahaan yang barangkali bukan dambaan kita sebelumnya.

Kakiku terasa berat. Tak ingin rasanya melangkah pergi darimu. Ingin terus berada di dekapmu. Hingga tak ada lagi rindu yang memenuhi kalbu. Entah bagaimana denganmu, kau terus membawaku pergi.

“Sudah sampai tuan putri. Pangeran telah mengantarkan tuan putri dengan selamat.”

“Aku benci saat-saat seperti ini Ar, andai tak ada lagi kata berpisah.”

“Sudah, ketika kita berpisah ingat selalu bahwa kita akan selalu bersama ketika sudah menikah. Jadi jangan khawatir.”

“Ya….” Jawabku dengan senyum tanda bebanku telah lebih ringan.

“Sampai jumpa.”

Aku mengangguk dan masih dengan senyum yang sama. Ku lambaikan tanganku. Dan dalam sekejab kau hilang dari pandangku.

 

ÿÿÿ

 

“Malam ini nggak pergi Neng? Kalau pergi cepat siap-siap, sudah sore.” Suara Ibu membangunkan lamunku.

Aku memandang Ibu dan mengangguk. Tak lekas beranjak, aku masih terduduk lesu memandang cincin di jari manisku. Kenagan terindah yang pernah kau beri untukku. Selain ‘sampai jumpa’ terakhirmu, ini adalah hal yang paling kuingat dalam hidupku. Meski sesungguhnya, kau bisa memberi makna lebih indah untuk ‘sampai jumpa’mu itu. Kau lelaki tak tepat janji. Kau telah pergi. Harusnya malam itu kau tak membodohiku dengan kata ‘sampai jumpa’ untuk membuatku percaya bahwa kita akan bertemu lagi. Harusnya kau katakana saja “Selamat tinggal dan jangan berharap aku akan kembali.” Agar aku memiliki persiapan lebih untuk saat ini. Harusnya kau goreskan luka sedikit saja pada hati ini, agar aku punya cukup alasan untuk mengikhlaskanmu pergi. Kenapa kau banyak mengukir kenangan indah dan meninggalkannya bersamaku sendiri?

Aku masih tak beranjak pergi. Sejuta senyum kita masih tak mampu mengobati luka hati. Air mataku terus mengalir tak berhenti. Berharap kau kembali dan mengusap pipi. Memberi senyum terindah seperti yang kau lakukan selama ini. Kau bilang kita tak akan berpisah lagi. Kau bilang kita akan selalu bersama hingga nanti.

Tapi, akhirnya sampai di sini. Dengan isak tangis yang belum mampu kubuat berhenti. Dengan hati yang masih memintamu kembali, aku harus merelakanmu pergi.

 

Tuhan, ini adalah hari ke empat puluh setelah ia pulang pada-Mu.

Semoga Kau terima kedatangannya dengan indah.

Semoga Kau sediakan tempat terbaik untuknya.

Jika Kau ijinkan aku untuk lupa, maka buatlah aku lupa.

Namun jika tidak, biarkanlah dia menjadi kenangan terindah selama hidupku.

Tak akan ku lupakan tahun-tahun yang kami lewati bersama.

Tak akan ku buang semua hal yang kami lewati bersama.

Semua telah berakhir, namun biarkan ia tetap hidup dalam ingatanku.

Jika Kau memintanya pulang lebih awal, itu tandanya Kau begitu menyayanginya.

Maka, biarkan ini menjadi alasan terbaik untuk ikhlas membiarkannya pergi.

Terima kasih telah mengirimnya padaku.

Kepadanya yang telah pulang pada-Mu, aku akan selalu rindu.


  • Dinan 
    Dinan 
    1 tahun yang lalu.
    Layak like, promote dan dikomentari.

    Prediksiku, besok ini akan 'terpajang di teras' ... Semoga tak salah jikapun salah itu artinya aku memang bukan Cenayang yg bisa melihat hari esok. Hehehee

    Pointnya 'sampai jumpa' mirip point yang di posting CEO di Fanpagenya.

    Cerita dan cara mengungkapkannya mengalir dan asyik sekali.. Melantun lembut dan sangat enak dibaca.

    Dan, endingnya ituloh, bagus. Happynya gak Happy amat tapi Happy yg damai (apasih gado-gado)...hehe

    Bravo Mba Diah ato Mba Novita ???
    Salam Hangat
    *_*

    • Lihat 1 Respon