Yang Kau Buat Terkejut

Diah Novita
Karya Diah Novita Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 17 April 2016
Yang Kau Buat Terkejut

Hidup ini penuh dengan kejutan. Sungguh, penuh kejutan. Terkadang, yang ku harapkan datang justru ia menjadi yang terlebih dahulu pergi. Dan kadang, yang tak terpikir sama sekali justru adalah yang hadir di sisi.

Dan kamu, selalu memberi kejutan dalam hari-hariku.

Suatu hari yang lampau, kita bukan siapa-siapa. Tak pernah tau satu sama lain. Dan hanya karena angin menyatukan topimu dan kertas ulanganku yang terjatuh, kita bertemu. Sapaan pertama darimu. Dan pujianmu atas nilai baikku, entah itu hanya basa-basi sebagai perkenalan dua orang asing agar memberi kesan terbaik atau memang sungguh kau memujiku, itu tak penting lagi. Kau lebih dari itu. Bukan ketika memujiku, bukan ketika bertutur sapa denganku, kau tersenyum saat melihatku itu lebih dari yang kuingin. Dengan senyummu aku telah terkejut. Kau tak perlu membuatku lebih terkejut daripada itu.

Beberapa lama setelahnya, kita telah saling dekat. Lebih dekat dari hari-hari sebelumnya. Kita sudah sedemikian dekat. Hingga, jika seseorang melihatku dia akan tau siapa kamu. Dan jika seseorang melihatmu, dia akan tau siapa aku. Tentu saja, kita bukan anak kembar. Namun, kita bagai dua jiwa yang berpadu menjadi satu. Jika kau sedih, aku juga turut merasa. Jika kau bahagia, aku pun sama. Kita menikmati sedih yang sama. Kita memiliki bahagia yang sama. Kita melewati banyak hal bersama-sama.

Dan hari ini, kau membuatku kembali terkejut. Kejutan terhebat yang pernah kudapat darimu. Kini, kau buat kita berada di sudut yang berbeda. Kita tak lagi melalui segala hal bersama. Bahagia kita telah berbeda. Sedih kita pun juga. Kau terlihat bahagia bersama dia – yang berhasil membuatmu bahagia setelahku. Dan entah, kali ini, kebahagiaanmu adalah sebuah kesedihan bagiku. Aku berbohong jika kukatakan aku bahagia melihatmu bahagia bersamanya. Satu-satunya hal yang ku rahasiakan darimu, hanya ini.

“Aku baik-baik saja. Biarkan dia memiliki tempatku di hatimu, barangkali dia adalah yang lebih baik bagimu. Dan aku dengan senang hati menurunkan tingkatku dari hatimu, aku akan menjadi teman yang baik untukmu.”

Dan kau terlihat benar-benar lega dengan pernyataan palsuku. Kau pergi dengan langkah yang begitu ringan untuk menghampirinya, hingga ku lihat kau tak lagi berlari, kau seperti terbang karena beban perasaanmu terhadapku telah dileburkan.

Tanpa kau tau, dan sepertinya tak mau tau, bagaimana keadaanku. Apa kau tau aku menahan nafas selama mengatakan keikhlasan palsu itu? Bagaimana aku menahan sesaknya dadaku dan ingin berteriak memakimu? Bagaimana aku kesulitan membendung airmataku yang hampir saja deras menghujani pipiku? Bagaimana tersiksanya aku menarik bibirku, memberi senyum terbahagiaku dengan hati yang beku?

Bagaimana bisa kau percaya saat kubilang aku baik-baik saja. Bagaimana kau bisa yakin dengan semua kepalsuan yang kubuat. Apa aktingku terlalu bagus? Atau kau yang terlalu buta dengan cinta barumu hingga tak melihat sesungguhnya aku? Atau memang, kau telah kehilangan pedulimu? Bahagia atau sedih saat aku mengatakan itu, kau akan tetap pergi dariku. Ya, itu jawaban termudah untukku.

Dan kamu, berbahagialah selalu. Aku tak akan lagi menunggu kejutan darimu. Bahkan di hari esok, jangan berikan lagi padaku. Setelah ini, aku tak akan lagi mudah terkejut olehmu. Karena kau, telah memberiku kejutan melampaui batasmu.

Bye. Aku aku pastikan aku akan bahagia, meski dari sudut yang berbeda. Jika kau menemukan seseorang yang lebih menyenangkan hatimu. Aku pun sama, akan selalu ada yang terbaik untuk hati yang rela melepaskan. Dan itu bukan sekedar kejutan, melainkan kepastian.

 

  • view 180