Catatan Singkat untuk Kisah yang Panjang

Diah Mulyaningsih
Karya Diah Mulyaningsih Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 30 Agustus 2016
Catatan  Singkat untuk Kisah yang Panjang

Alur kehidupan ini siapa yang bisa mengetahui. Apa pun yang terjadi adalah sebuah ketetapan dari-Nya yang harus dijalani dengan keikhlasan hati. Tak selamanya, apa yang diinginkan setiap insan di dunia ini harus dipenuhi, karena Tuhan yang lebih mengetahui mana yang dibutuhkan daripada yang sekadar diinginkan.

Seringkali terbersit dalam benakku, kenapa Tuhan tak kunjung menjawab doa-doaku. Namun ketika semua kusadari, aku baru mengetahui bahwa diriku masih jauh dari kata sempurna. Sampai sekarang pun aku masih belajar dan terus belajar. Memahami detik demi detik yang terjadi di hidupku dengan penuh arti. Aku terus berharap hingga kelak menemukan jawaban dari apa yang selama ini kucari.

Kau. Mungkin adalah salah satu hal dari apa yang selama ini ingin kupahami. Walau terkadang tak kumengerti, aku selalu berusaha menyelami sisi hidupmu yang tak kuketahui.
Mengenalmu bukanlah suatu kebetulan. Dan bukanlah sebuah hal yang mudah kulakukan, mengingat kau datang setelah hatiku remuk tak beraturan. Kehadiranmu bagaikan sapuan angin yang memberikan kesejukan setelah badai datang. Kehampaan yang kurasakan dalam linangan air mata seakan perlahan mulai sirna. Namun aku masih tak mengertimu. Apakah usia yang terpaut di antara kita menjadikan celah itu ada? Entahlah, aku tak tahu jawabannya.

Pernah suatu sore kita bercengkrama, ditemani segelas es capuccino di sudut kota. Berbincang denganmu seakan tak ada habisnya. Kita yang baru kali pertama bertemu pun seakan tak sungkan lagi untuk saling bersua. Aku masih ingat betul hari itu. Kau datang sambil melambaikan tanganmu dari seberang jalan. Dan kau pun berjalan ke arahku. Sejenak setelah itu kita memilih tempat duduk di cafe paling sudut, kemudian kita berbincang seolah tanpa jeda. Tak terasa jam pun menunjukkan pukul 21.30 dan kita pun harus berpisah karena hari telah malam. Kau tahu? Itu adalah pertemuan pertama kita yang sangat mengesankan bagiku. Aku bahkan selalu mengingatnya. Sejak saat itu, kau pun menjelma menjadi sosok sahabat, teman, dan kakak yang baik untukku. Aku bisa bercerita banyak hal padamu, kau pun begitu.

Seiring waktu yang berlalu kita pun semakin akrab. Aku menyadari, kau memberikan begitu banyak kenyamanan yang tak bisa kuungkapkan. Entahlah, aku sendiri pun tak tahu bagaimana hati ini menginterpretasikan. Kedekatan yang terjadi di antara kita, sadar atau tidak memberikan cukup ruang untuk sesuatu yang lain yang tumbuh di antara kita. Tapi aku tak tahu, bagaimana dengan dirimu. Terkadang gelisah menghinggapi saat kau tiada berkabar seharian. Setiap dering bunyi telepon genggamku, aku selalu berharap di sana tertera namamu.

Sebenarnya, aku sangat ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersamamu. Setidaknya melewati setiap akhir pekan denganmu, ke tempat-tempat yang belum kita jamah di sudut kota yang tercinta ini. Tapi aku paham, aku tak berhak untuk setiap waktu yang kaupunya. Untuk 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu, dan 30 hari dalam sebulan dalam waktu yang kaupunya pun aku tak berhak, termasuk mengganggu aktivitasmu.

Aku sadar, pencapaian karir dalam pekerjaanmu tidaklah mudah. Karir yang terlalu kuat untuk kau tingggalkan, sementara kau terlalu lemah untuk melawan segala kesibukan yang harus kau tunaikan.

Hanya satu harapanku, jika kau luang, sediakanlah sedikit waktumu. Untukku bisa mendengarkan kisahmu, bercerita tentang kisahku, sudah sangat melegakan hatiku. Semoga di kota nan jauh di sana kau selalu baik-baik saja. Aku selalu menantikan saat-saat kepulanganmu, dan berharap aku menjadi salah satu alasan mengapa kau pulang. Semoga Tuhan mendengarkan doaku.

  • view 221