Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 22 Mei 2018   22:17 WIB
Maya

Kembali menulis dari berbagai rutinitas yang mencekat sudah bagai oase di padang pasir. Atas nama kewajiban, rutinitas tak peduli waktu, tempat dan perasaan budaknya. Kenyataan bahwa hal ini akan berlangsung selama masa hidup kadang buatku merajuk, hanya rasa syukur yang dapat selalu  menjadi obat.

Masa sekarang, semua orang tidak lepas dari maya. Dunia yang menawarkan segala kemegahan informasi, baik dan buruk, benar dan salah, lengkap dan ringkas. Maya membuat kita bertemu berbagai orang dengan macam-macam latar belakang, hingga ribuan mil jauhnya, melihat berbagai sisi kehidupan di belahan dunia lain yang mungkin tidak akan terjangkau hingga tutup usia. Semua orang kini terhubung pada maya.

Maya mempertemukan segalanya, termasuk kita.

Dalam maya, kita pertama kali berbalas kata. Kadang sekedar saling sapa, menyemangati disaat jatuh dan bangun, hingga nasihat bijak. Tak perlu waktu lama untuk kita muncul dalam keseharian masing-masing, datang disaat yang tepat mungkin, disaat kenyataan hidup menyempitkan ruang bagi pemikiran ideal, denganmu aku bebas menjadi diriku sendiri dan tanpa ragu menceritakan bagaimana hidup seharusnya. Meskipun jarak ribuan mil dan perbedaan waktu yang signifikan, tidak menyurutkan kita untuk saling berbagi cerita kehidupan.

Melalui maya, jarak sukses memainkan peran protagonisnya dalam mengeratkan. Kadang itu pada teriknya sang surya, maupun teduhnya malam kita mencuri waktu, melepas lelah dan lara. Pelan tapi pasti, maya membawa kita menyentuh perasaan masing-masing. Bagiku, menghabiskan maya bersamamu merupakan waktu yang tidak dapat digantikan. Bersamamu dunia seakan berhenti, memberi waktu bagi kita untuk berbagi. Hingga akhirnya aku menemukannya, bagian dari puzzle masa depan yang aku butuhkan. Kamu, yang datang dengan segala kelebihan dan kekurangan, buatku bertekuk lutut, menyerah menerima segala kesejukkan dan keteduhan yang dihadirkan.

Namun maya dan nyata kadang tidak berjalan beriringan dan kejamnya, nyata pelan-pelan memudarkan segala yang dirasa oleh kita. Bertemu di persimpangan maya yang membuat erat ternyata belum cukup untuk membawa keeratan itu pada kenyataan. Bingkai penyesalan yang menyesakkan dada menyerang saat mengetahui bahwa kenyataan tidak mempertemukan kita dan justru membawa ke jalan lain, jalan yang membuat kamu pada akhirnya merengkuh kebahagiaan pada sosok yang nyata di pelupuk mata dan memberikan hangatnya kasih sayang.

Apakah segala sesuatu yang kita rengkuh pada maya adalah nyata? Apakah aku hanya sekedar 'sang pendengar' bagimu? Atau apakah segala yang kita miliki bersama hanya boleh ada pada maya?  Dan segenap semesta bersekongkol mencegahnya menjadi nyata. Apakah yang kita rasakan selama ini apakah cuma fiksi yang tercipta sekedar menjadi penawar pahit kehidupan, yang tidak dibutuhkan apabila kita telah direnggut kenyataan yang membahagiakan? Apabila itu benar adanya, maka jelaskanlah kenapa hati ini dapat merasakan setiap keteduhan yang dibawa olehmu. Karena bagiku, perasaan itu nyata adanya.

Karya : Dimas Erlangga