Kausa

Dimas Erlangga
Karya Dimas Erlangga Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 05 Mei 2018
Kausa

Untukmu, matahari
 
Selalu ada sebab dari setiap kejadian. Entah itu pertemuan, perpisahan, maupun sekedar melintas di jalan. Seperti makan karena lapar, minum karena haus dan bekerja karena harus.  Setiap kejadian dapat berupa rutinitas maupun kebetulan semata, namun lebih banyak karena takdir yang sudah digariskan.  Sebuah kejadian dapat melibatkan beberapa orang, dua orang maupun hanya satu orang, namun semuanya memiliki makna yang berbeda bagi tiap manusia yang mengalaminya. Bagiku, setiap kausa yang dialami diri sendiri maupun bersama orang lain memang sudah ditakdirkan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Setiap kausa yang ditakdirkan Tuhan dapat membawa kita pada kebahagiaan dan juga kesedihan mendalam.  Dan diantara semua, kausa tentang kita yang paling kubenci.
 
Dalam kesedihan dan keraguan, kita dipertemukan dengan cerita yang berbeda. Tidak butuh waktu lama untuk kemudian menjadi pendengar dalam kisah lara masing-masing kita, "Dia meninggalkanku demi orang lain", katamu dan "Aku menyayanginya bertahun-tahun tapi dia selalu menghindar dan akhirnya memilih yang lain", kataku. Entah berapa petuah bijak penyembuh yang terucap dari kita, sekedar menjadi bekal dalam menghadapi cerita kehidupan. Selebihnya orang lain mengambil peran utama dalam mendatangkan bahagia maupun tangisan. We both seems to be okay about it, aren't we? Sepakat dengan zona yang kita buat sendiri, sepakat dengan peran yang kita buat untuk dimainkan dalam zona ini.
 
Entah siapa yang memulai, memangkas jarak dan datang di sisi-sisi kecil kehidupan, membuat setiap kata, cerita dan tindakan menjadi bermakna berusaha menyatukan arah yang selama ini melawan. Namun kausa tentang kita tidak pernah hilang, datang dan menghantui kita, hingga hati yang sudah diberikan justru menjadi duri yang menyesakkan. Memutuskan pergi adalah keputusan yang dianggap baik, katamu, meski aku tahu itu hanya kamu hanya melakukan yang kau anggap benar tapi bukan dari hatimu dan dengan bodohnya kuterima. Hingga hal yang paling kutakutkan terjadi.
 
Kamu kembali, tapi hati tidak lagi disini. Kamu kembali, memainkan zona yang dulu pernah ada. Dimana orang lain menjadi peran utamanya. Kali ini tiada lara, hanya cerah dan senyummu yang ada di pandangan mata. Dan akhirnya kita kembali ke jalan yang sejak awal kita tempuh. Tapi itu tidak lagi sama buatku, kamu telah membawa sesuatu yang berharga dan mungkin tidak bisa kuambil kembali. Dekat di pelupuk mata namun jauh dijangkau hati, itulah kita kini. Disebuah kedai kopi di selatan jakarta seorang sahabat menasehati, "Janganlah menyesali setiap pertemuan yang terjadi, karena itu akan membentuk kita jadi lebih baik". Kamu benar, aku tidak pernah menyesali pertemuanku dengannya karena itu hal terbaik dalam hidup, tapi yang kubenci adalah kausa tentang kita. Kausa tentang kesedihan dan keraguan yang mampu hadirkan pertemuan, perasaan dan kepergian.
 
"You were the stubborn coffee stains on my clothes, that i still have to carry everywhere " -nurul a.k

  • view 43