Kurma dan Seteguk Air

Dimas Erlangga
Karya Dimas Erlangga Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 02 Mei 2018
Kurma dan Seteguk Air

Aku menatap lurus ke arah layar monitor, tempatku menulis saat ini. Jujur, rasanya sulit menata kata setelah sekian lama 'menghilang' dari dunia ini, sifatku yang overthink about everything juga menjadi penghalang. Hal ini pernah menjadi rutinitas, namun kegiatan kuliah dan pekerjaan memaksaku meninggalkannya, tenggelam dalam realitas yang mencekik dan tiada akhir. Akhirnya aku memilih untuk kembali, bukan hanya pada dunia ini, namun pada semua dunia tempat hati melabuhkan diri. Walaupun tidak semua dapat memelukku erat kembali.

Beberapa minggu terakhir semua berjalan sama, namun berbeda. Bekerja, bertemu kawan, melepas canda dan tawa semua berjalan seperti biasa, namun ada sesuatu yang berbeda. Kuputuskan untuk break sesaat dan pergi dari ibukota. Sebuah bukit di pinggiran kota hujan itu menjadi tempat bersandar. Semua berjalan sama, tapi mengapa ada yang berbeda? Seakan hati merajuk dengan semua rutinitas, apa yang buat semua itu berbeda?

Kuambil kurma dan seteguk air sebagai pelepas lelah setelah menaiki bukit. Sambil menunggu sang fajar bangkit untuk melihat langit dan menatap kehidupan di dunia.  Tindakan yang kemudian menyadarkan, bahwa diri ini memang sedang dalam lara. Lara yang tidak patut untuk dijelaskan pada dunia. Bukan karena sebuah kehilangan, melainkan dengan adanya sebuah keberadaan. Keberadaan yang menyesakkan tiap kali mengetahui kenyataan tentangnya. Keberadaan yang mencengkram benak serta batin seakan memaksa untuk tetap tinggal. Ironis, karena keberadaan itu adalah hal yang sama, yang dulu juga pernah memeluk perasaanku dengan segala keteduhan dan kejujuran, keberadaan yang tanpa disadarinya, selalu buatku jatuh dengan segala impian dan harapannya.

Sekarang, keberadaan itu seakan menjadi hukuman. Hukuman bagi semua janji yang pernah terucap, hukuman bagi perasaan yang meragu tentangnya. Menyakitkan memang, tapi aku memilih untuk memeluk semuanya tanpa syarat. Karena keberadaan itu bagi hati memang tidak bisa ditawar lagi, meski lara mengikuti di setiap waktu, aku memilih untuk tenggelam sambil menunggu sebuah cahaya layaknya fajar, yang selalu menjumpai, memeluk sang langit tanpa syarat.

Sang fajar pun muncul menemui langit di bukit. Ditemani kurma dan seteguk air, kunikmati lara yang terus menggenggam diri. 

 

 

  • view 33