Di Sebuah Cafe

Di Sebuah Cafe

Dhini Ari Zhona
Karya Dhini Ari Zhona Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 Desember 2017
Di Sebuah Cafe

"Kurasa kau harus menulis sesuatu."
Aku tertegun. Entah kenapa aku merasa tersinggung.
"Tidak mudah, Kawan. Ide itu tidak muncul semudah yang kau pikirkan."

Kawanku tergelak. Ia lalu menyesap kopi favoritnya.
"Katamu kau seorang penulis. Sekarang mana hasil karyamu?"
"Masih proses," sergahku kasar.
"Kau juga katakan itu sepuluh tahun yang lalu. Lima tahun yang lalu. Juga saat kau sudah mengundurkan diri dari pekerjaanmu sebagai konsultan setahun yang lalu."
Aku merengut. "Aku sedang mengerjakan karya tulisnya. Hanya belum bisa runtut. Tersebar dimana-mana."
"Berarti rapikanlah. Kalau kurang data, cari saja. Kau toh punya banyak waktu sekarang," Kawanku berkata cuek seraya mengutak-atik ponsel pintarnya.
"Jangan banyak alasanlah. Apalagi sekarang ada ponselmu ini. Ada ide langsung tuangkan saja. Bila perlu publish via sosial media."
Lagi-lagi kata-katanya benar. Dan itu menusuk harga diriku. Namun membantah kawanku itu, aku merasa gagu.
"Apa aku cari kerja lain saja?" Bisikku ragu. Aku mengusap kepalaku seraya menghela nafas. "Mungkin aku tidak cocok jadi penulis."
"Kau mau kerja apa?" Kawanku mengerling ke arah pelayan wanita yang berpakaian seperti kartun jepang. "Pelayan kafe?"
Aku menggeleng. Usiaku sudah kelewat tua dibanding para fresh graduate yang bahkan lebih modis daripada aku yang old school.
"Mungkin aku akan jualan online atau pegawai toko." Desahku.
Kawanku tak segera menyahut. Ia sibuk menekuni roti bakarnya di atas meja. Ponselnya yang tergeletak di samping gelas kopinya terus menerus berbunyi, menandakan ada pesan masuk.

"Aku butuh uang. Tetapi menjadi penulis tidak mudah mendapat uang... Dan aku..."
"Kurasa karena kau tak cukup berusaha," potong temanku. "Apa yang kau lakukan setahun ini? Menonton drama Korea, mengikuti sinetron di televisi, bahkan ketika kau browsing, kau malah browsing tentang kuliner... Tak ada sangkut pautnya dengan tulisan."
Aku tergeragap. "Itu... Aku sedang mencari ide..."
"Lalu? Sudah sejauh mana tulisanmu?"
"Mmm.... Aku baru..."
"Tunggu!" Kawanku mengangkat tangannya yang sedang memegang garpu dan diarahkannya padaku. "Kau ini mau menulis apa sih? Fiksi? Jurnal ilmiah? Food blogger? Resensi drama korea? Apa?"
"Apapun. Penulis seharusnya menulis apapun."
"Hah!" Kawanku tertawa geli. "Genremu saja tidak fokus."
Aku tidak menyahut. Kuraih cangkir kopiku yang sudah mulai dingin. Apa salahnya? Memang tidak boleh berkeinginan menjadi penulis multitalenta?
Seolah dapat membaca pikiranku, kawanku berkata,"Terserahlah. Tetapi minimal kerjakanlah satu. Tulis saja yang kamu ingin tulis sekarang, lalu tekuni. Aku tidak tahu apa-apa tentang dunia penulisan, tetapi kukira hal yang paling baik untuk memulai adalah memilih satu yang kau ingin tulis. Itu dulu."

Aku tercenung. Bahkan setelah beberapa jam sesudahnya, kawanku sudah berpamitan terlebih dahulu karena harus meeting bersama kliennya, aku masih tercenung. Kurasa sampai sekarang, aku masih belum bisa menemukan apa yang ingin kutulis. Terlalu banyak alasan. Terlalu banyak penundaan. Seperti layangan putus yang terbang mengikuti angin. Tak tahu kemana akan melangkah. Tak punya keyakinan kuat untuk menuju.

Kopiku bahkan sudah tandas. Pelayan kafe berulang kali memberi kode agar aku berusaha pergi atau menambah pesanan, tetapi aku hanya mengabaikan mereka.

Mungkin aku ini memang pecundang. Tetapi... Pecundang takkan mampu hidup lama. Dan aku tak mau itu terjadi padaku. Aku mendesah. Kurasa sebaiknya aku pulang.

  • view 123