Nil Battey Sannata: Menantang Zona Nyaman

Dhini Ari Zhona
Karya Dhini Ari Zhona Kategori Lainnya
dipublikasikan 25 Desember 2017
Nil Battey Sannata: Menantang Zona Nyaman

Walaupun bukan dibintangi artis yang sudah familiar seperti Kareena Kapoor, Deepika Padukone atau Kajol, film ini tetap apik dan enak dinikmati karena kualitas akting Swara Bhaskar disini sangat menjiwai dan natural menjadi tipikal emak-emak yang lugu dan sederhana, beda dengan perannya di Tanu Wed Manu Return yang menampilkan dirinya sebagai emak modern.

Kisah dimulai ketika Chanda Sahay (Swara Bhaskar), sibuk menyiapkan makanan sekaligus membangunkan putrinya, Apeksha 'Appu' Sahay (Ria Shukla) untuk sekolah, sebelum akhirnya Chanda pergi bekerja mejadi pembantu di rumah Dr. Diwan (Ratna Pathak). Appu merupakan siswi pemalas, yang lebih suka bermain-main dengan temannya, Sweety dan Pintu. Mereka bertiga bahkan sering dihukum karena terlambat dan selalu mendapat nilai jelek dalam pelajaran matematika. Appu malas belajar karena beranggapan bahwa ibunya tidak akan bisa menyekolahkannya hingga ke jenjang lebih tinggi. Padahal ibunya sudah berusaha mati-matian hingga bekerja sebagai pembantu, buruh di pabrik sepatu, bahkan menjadi buruh di pabrik rempah-rempah demi mengumpulkan uang untuk tabungan sekolah Appu.

Sampai dua puluh menit awal, pengantar film ini bagiku rada boring dan bakal dapat ditebak endingnya, tetapi ternyata ada twist yang mengejutkan di film ini yaitu untuk menyadarkan Appu agar giat belajar dan punya cita-cita, Chanda sendiri juga harus keluar dari zona nyaman! Nah lho...

isipikiranku_nil

Hal ini dikarenakan saat Chanda hendak mendaftarkan Appu untuk bimbel matematika, syaratnya nilai Appu harus diatas 50% sehingga Chanda bisa mendapatkan potongan biaya bimbel. Chanda pun curhat kepada Dr. Diwan, seandainya dia bisa matematika, dia akan mengajari Appu sendiri sehingga tidak akan mengeluarkan biaya. Sayangnya pemahaman matematika Chanda adalah nil battey sannata, sebuah pepatah India yang menggambarkan ketidakmampuan. Oleh Diwan, Chanda disarankan bersekolah lagi agar bisa belajar sendiri. Tidak hanya itu, ia harus bersekolah di sekolah Appu agar bisa mengetahui sendiri tingkat kesulitan yang dihadapi oleh Appu. Awalnya Chanda menolak, karena dia memiliki 4 pekerjaan dalam sehari yang harus dihadapi dan menambahkan sekolah dalam jadwalnya sama dengan harus extra kerja keras dan tepat waktu sampai di tempat kerja. Namun akhirnya, demi memotivasi Appu, Chanda pun mau mendaftar sekolah, menahan rasa malu karena harus menjadi siswa paling tua di sekolah sekaligus menyisihkan waktu untuk belajar matematika yang ternyata susaaah minta ampun....

Nah, seru kan? Kelanjutan ceritanya silakan nonton sendiri ya... Yang pasti endingnya memang bisa ditebak karena sasaran film ini untuk keluarga, sehingga ending yang selalu diharapkan adalah yang happy. Tetapi di film ini kita akan diperlihatkan perjuangan Chanda untuk bisa memotivasi putrinya yang sumpah bikin sebel karena Appu punya prinsip: Anak insinyur akan jadi insinyur, anak pembantu ya berakhir menjadi pembantu. Appu bahkan 'menipu' ibunya dengan giat belajar matematika untuk mengalahkan nilai matematika ibunya, agar ibunya tidak kembali bersekolah. Setelah itu, Appu kembali lagi ke titik nol. Sehingga emak-emak macam aku ini sampai ikut geregetan, apalagi aku punya anak cewek. Semoga Aqila jadi putri yang mempunyai impian dan bisa membanggakan oarangtuanya... Aamin.

Yang pasti dalam film ini kita bakal disuguhi klimaks yang mendebarkan kemudian ditutup dengan akhir yang mengharukan. Lagunya? Untuk soundtrack aku akui cukup bikin earworm alias lagunya bakal kebayang-bayang di pikiran, sekalipun cuma nyempil di adegan sedikit dan kebanyakan hanya sebagai lagu latar. Jadi gak cheesy kayak film India yang nonstop nyanyi dan nari. Sampai sekarang aku masih kepikiran lagu 'Math Mein Dabba Gu' yang jadi lagu latar pas Chanda mumet sama pelajaran matematika, berasa beneran kayak emak-emak putus asa pengen ngajarin anak, tapi kok susahnya minta ampun ha ha ha...

  • view 70