Hitam Putih J&T Sebuah Sikap

Dhini Ari Zhona
Karya Dhini Ari Zhona Kategori Renungan
dipublikasikan 04 Desember 2017
Hitam Putih J&T Sebuah Sikap

Lagi rame hastag
#penjajahjamannow
#jntblunder
#GatheringBangsat
#stoppakeJNT

Ada banyak versi cerita dan infonya. Ada yang bilang, memang disediakan miras, tapi tidak disetiap meja, hanya bagi yang mau saja, alias sesuai permintaan.

Ada yang bilang hanya chinese yang minum dan mabok, yang lainnya minum air putih saja.

Ada yang bilang semua meja disediakan miras, bahkan ada juga yang bilang sampe "dipaksa" minum.

Banyak versi mengenai kasus ini, saya sendiri belum tau mana yang benar, pertama karena tidak berada di tkp, kedua info dari sosmed juga simpang siur. Dan akhirnya berujung pada boikot J*T. Sebagian besar berpendapat, itu pilihan masing-masing. Bagi muslim yang masih mau pake J*T dan bekerja disana, silahkan, tapi pertanggungan masing2 nanti di akhirat. Ada yang berpendapat ya itu cuma hura-huranya petinggi J*T, nggak usah gampang terprovokasi sama isu gak jelas, bedakan kerja profesional kurir sama budaya chinese

Jujur saya bingung ditengah polemik J&T ini. Kalo memang benar bahwa ditiap meja disuguhi miras, padahal banyak peserta gathering yang muslim bahkan berjilbab, saya merasa geregetan. Kalo cuma yang non muslim yang minum, itu urusan mereka, toh dari agama mereka nggak melarang. Tapi untuk muslim itu kan aqidah, nggak bisa sekedar pake isyu toleransi terus disuguhi miras yang jelas-jelas hukumnya haram di Islam.

Saya pernah dapet cerita teman saya akhwat berjilbab yang kerja di perusahaan Jepang, ketika gathering, bosnya pribadi yang membantu dia untuk milih menu yang halal dan dia juga nggak disuguhi apalagi dipaksa minum sake juga, padahal disana udah jadi budaya. Nah lho, itu islam disana minoritas lho. Disini mayoritas, masuk forum gathering hanya karena ada non muslimnya disuguhi miras, kan nggak banget.

Balik lagi ke masalah J*T ini, ada yang masih mengganjal pikiran saya:
Apa hukumnya bagi kita umat Muslim yang masih menggunakan jasa J*T dan bekerja di perusahaan tsb, setelah tau kejadian kemarin?

Saya cukup sering memakai jasa ekspedisi ini untuk mengirim dan menerima barang, apalagi frozen food, ketika dikirim ke luar kota kudu cepat sampai, kalo nggak ya basi.

Jadinya bingung, disatu sisi saya merasa butuh, tapi disisi lain dengan pemberitaan ini saya jadi ragu. Akhirnya saya belajar-belajar infonya dari gurunda Mas Jaya sama Dewa Eka.

Dan inilah hasil akhir dari perenungan saya.

Walaupun isu J*T sudah mereda, tapi saya merasa masih perlu untuk mengambil sikap. Bagaimanapun sebagai seorang manusia, ia harus memilih dan menanggung konsekuensi pilihannya.

Tentu akan banyak yang mencela, atau bahkan menilai saya.
Itu hak anda, hak mereka.
Dan ini hak saya berpendapat.

Dalam kasus J*T, saya banyak cari info, bukan hanya sekedar lihat video orang mabok doang. Saya lihat video wawancara mas Jaya Setiabudi dengan salah satu peserta gathering, isi wawancaranya bisa dipertanggungjawabkan.

Saya baca dari beberapa status kawan mas Dewa Eka yang juga jadi peserta. Semuanya mengatakan miras disuguhkan di SEMUA meja, bukan karena permintaan, atau di meja tertentu. Bagi saya, ini namanya pelecehan. Saat mas bojo bilang, Yang iniloh karyawan J*T mabok. Saat itu saya merasa, walau risih, ya biarin aja. Toh itu urusan pribadi mereka. Tapi begitu viral, saya mulai cek, barulah saya nggumun.

Ini gathering RESMI perusahaan. Bukan private party bos-bosnya. Yang diundangpun juga ada owner olshop yang sering pake jasanya mereka. Rerata muslim, dan bahkan yang berjilbab. Oke. Tapi yang saya nggak habis pikir, kenapa di TIAP MEJA disuguhkan miras? Sudah tahu tamunya nggak minum miras kok masih disediakan? Kalo emang ada budaya tos, dan gelasnya boleh diisi yang lain seperti air dll, kenapa itu mirasnya masih disuguhkan untuk undangan yang MUSLIM? Bahkan berdasar penuturan narsum, ketika ada yang meminta kepada waitres agar mirasnya disingkirkan dari meja, koordinator penyelenggara malah melarang.

Saya ibaratkan begini, ada orang Thailand, ngundang mitra kerjanya orang Indonesia ke Thailand. Seluruh biaya ditanggung sama pihak Thailand. Orang Thailand tahu, kalo orang Indonesia nggak makan tikus. Tapi yang disuguhkan adalah aneka masakan tikus. Bagi saya, itu jelas menyinggung. Lha gitu, ketika dijadikan viral, orang Indonesia lain malah menyudutkan dia. 'Kan emang biasa orang Thailand makan tikus, ndeso. Nggak pernah ke luar negeri kayak Thailand ya.' 'Masak gara-gara orang Thailand makan tikus, nggak mau kerjasama sama orang Thailand. Profesional lah. Bedakan antara kerjasama sama habit ownernya.'

Oke.

Ownernya suka mabok, saya nggak soal wes. Babahno. Ownernya bikin pesta miras gede-gedean, ya wes. Walaupun mungkin potensi kerusakan karena pesta miras juga gede, dan saya risih juga liat orang mabok, okelah. Anggaplah ini toleransi saya. Biarlah itu jadi urusan dia dan agamanya dan sekitarnya. Consider I don't care.

Tapi ini acara RESMI. Ngundang olshop-olshop juga atas nama perusahaan, bukan ini si X bosnya J*T lagi party di hotel bintang lima. Jadi ketika tahu BANYAK undangannya ini muslim, terus disuguhi MIRAS, situ WARAS? Kalo emang cuma buat non muslim aja, kenapa kok harus ditiap meja ada mirasnya? Kalo pengen mabok, yawes maboklah dewe sana. Tapi nyuguhi orang muslim MIRAS bagi saya itu sudah termasuk pelecehan.

Pihak J*T dengan kata lain tidak bisa menghormati tamunya. Yang juga adalah partner kerjasamanya atau ya... klien or customer.

Kalo menghormati customer aja gak bisa, ya mohon maaf itu sudah moral utama dari perusahaan. Akhirnya sikap saya jelas, Apabila saya belanja online, saya tidak akan menggunakan J*T. Saya bukan memboikot, karena aksi boikot kaitannya untuk kemaslahatan yang lebih besar, tetapi ini adalah sikap pribadi saya dan usaha. Saya juga tidak akan merekomendasikan J*T kepada pelanggan mocemil.com, namun jika mereka ingin menggunakan J*T untuk pengiriman produk mocemil.com, saya perkenankan. karena yang bayar ongkir pihak pelanggan.

Ini bukan masalah antipati ras. Atau kebiasaan owner mereka. Apalagi konspirasi wahyudi. No cyin.... Woleslah. Kapitalis C*na mau curi data untuk jualan produk mereka sendiri, no.... It's not about that.
Namanya jualan, kompetitornya canggih, ya pinter-pinteran strategi sama pelayanan aja.

Ini adalah masalah toleransi, dan J*T sudah tidak bisa bertoleransi kepada umat muslim. Secara etis, bagi saya itu sangatlah tidak patut bahkan kurang ajar. Kalaupun ini dianggap alasan irasional, it's okey. Toh saya yang nanggung resiko. Bagi J*T juga nggak ngefek, berapa sih kiriman saya.

Anggaplah sikap saya yang mungkin dianggap irasional ini, sama seperti sesimpel saya nggak beli nasi goreng di tempat X, karena orangnya hobi ngupil pas masak. Selesai.

  • view 141