Aku, Anis, dan Dara

Dhini  Chalista
Karya Dhini  Chalista Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 10 Juni 2017
Aku, Anis, dan Dara

Aku percaya bahwa tidak ada pertemuan yang kebetulan. Semua telah diatur dengan sangat rapi oleh-Nya. Aku merupkan seseorang yang banyak mendapatkan pelajaran dari orang-orang yang baru ku kenal. Semakin banyak aku mengenal orang baru, semakin aku belajar mengenai berbagai hal baru dalam hidupku. Pertemuanku dengan Anis dan Dara merupakan salah satu hal yang sangat aku syukuri hingga detik ini.

Pada akhir 2013, aku mengenal Anis melalui salah satu media sosial. Kami sama-sama tergabung dalam grup calon mahasiswa salah satu Perguruan Tinggi Negeri. Dalam grup itu, aku merasa sangat tertarik dengan Anis yang terlihat aktif, hangat, dan penuh semangat. Kemudian aku dan Anis mulai berkomunikasi secara personal. Bertukar cerita, informasi, dan saling menyemangati merupakan hal yang selanjutnya menjadi kebiasaan kami.

Aku dan Anis merasakan kegagalan yang sama pada saat itu. Namun, energi positif dalam diri Anis seolah menelisik dan menjadi darah dalam diriku. Kami tetap saling menyemangati, berbagi informasi dan saling menguatkan. Aku merasakan bagaimana pedihnya menumpahkan air mata dalam usaha mencapai cita-cita. Aku mulai lelah. Namun keberadaan Anis membuatku merasa bahwa aku tidak sedang berjuang sendiri. 

Kemudian, aku memutuskan untuk bergabung dalam club bisnis yang juga diikuti Anis.  Perkumpulan tersebut dipenuhi oleh anak-anak muda  yang aktif, selalu semangat dan berpikiran positif.  Disitulah aku mengenal Dara. 

Aku dan Dara dikenalkan oleh seseorang yang merasa bahwa karakterku dan karakter Dara memiliki banyak kesamaan. "Aku gabungin kalian supaya kalian bisa saling sharing dan bekerja sama." begitu katanya. Dan benar saja, semakin aku mengenal Dara, semakin aku melihat betapa karakter kami sangat mirip. Aku dan Dara juga mulai berkomunikassi secara personal, saling menyemangati dan bekerja sama. Aku merasa sangat bersykur dipertemukan dengan banyak sekali orang-orang baik ketika sedang berada dalam masa sulit, sehingga aku merasa jauh dari hal-hal atau pemikiran negatif yang sangat berpotensi untuk merusak diriku.

Meskipun kemudian aku, Anis dan Dara tidak aktif lagi dalam club bisnis itu, kami tetap menjaga komunikasi dengan sangat baik. Kami punya impian masing-masing, kami memilih jalan berbeda namun tetap saling menyemangati dan mendukung kegiatan positif apapun yang dilakukan satu sama lain. 

Setelah itu, kami bertiga daftar di universitas swasta berbeda yang letaknya tidak jauh dari tempat tinggal masing-masing. Anis di selatan, Dara di sebelah barat, dan aku di bagian timur. Kami kemudian mulai sibuk dengan kegiatan masing-masing hingga akhirnya aku dan Dara dikejutkan dengan Anis yang rupanya belum berhenti berjuang. Dia dinyatakan sebagai salah satu penerima beasiswa ke Serbia. Setelah melewati berbagai proses yang butuh perjuangan dan kesungguhan, akhirnya Anis berhasil. Saat Anis memberikan kabar baik itu, aku langsung teringat masa-masa ketika kami bertiga sama-sama menghadiri education expo dan mencari informassi mengenai beasiswa luar negeri melalui berbagai situs maupun grup para pencari beasiswa.

Pertemuan terakhir kami bertiga adalah ketika aku dan Dara mengantar keberangkatan Anis ke bandara. Aku tidak bisa menahan air mataku untuk tidak tumpah pada saat itu karena terharu. Anis merupakan salah satu bukti nyata bahwa berjuang sepenuhnya akan mengantarkanmu pada hasil yang luar biasa. Percaya pada kemampuan diri sendiri dan kebesaran Sang Maha Sempurna juga menjadi bahan bakar tiap kali rasa lelah menjalar. 

Untuk Anis. Semoga kuliahmu lancar dan bisa lulus tepat waktu.

Untuk Dara. Semoga impianmu segera tercapai dan semangat tidak pernah pudar.

Semoga akan terus ada cerita baru mengenai pencapaian kita masing-masing setelah ini. 

 

 

Thumbnail diambil dari sini.

  • view 66