Kisah Seorang Teman

Dhini  Chalista
Karya Dhini  Chalista Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 17 Desember 2016
Kisah Seorang Teman

Seorang teman bercerita kepadaku tentang kekecewaannya terhadap seorang lelaki.

Pada awalnya, ia merasa semua berjalan normal dan wajar. Kemudian, pikirannya kerap terganggu oleh kehadiran lelaki itu. Bukan sekali saja ia merasakan hal itu. Semakin lama, memikirkan si lelaki itu menjadi sebuah kebiasaan. Lalu, timbul rasa rindu yang kemudian menjadi candu. Ia sangat percaya bahwa si lelaki adalah sosok terbaik yang pernah ia kenal. Sejak saat itu, ia putuskan untuk perlahan memupuk rasa kepada si lelaki. Ia sangat mahir menutupi perasaannya. Ia selalu berusaha menyembunyikan bunga-bunga yang bertebaran dalam hatinya tiap kali berpapasan dengan si lelaki.

Hingga suatu hari, ia tanpa sengaja mendengar pembicaraan si lelaki dengan seorang temannya mengenai perempuan pilihan si lelaki. Hatinya sakit sekali. Ia merasa sangat bodoh telah begitu dalam memupuk perasaannya terhadap si lelaki. Ia terlalu mengabaikan kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi. "Pokoknya, dia yang terbaik. Aku yakin dia akan memiliki perasaan yang sama kepadaku," begitu katanya saat ku sarankan agar tidak memujanya secara berlebihan. Padahal, setiap orang pasti punya kekurangan dibalik kelebihan mereka, bukan?

" Aku harus bagaimana?" katanya.

"Sudah ku bilang untuk tidak berlebihan, bukan?" sahutku.

"Ya, tapi sudah kepalang basah. Aku kecewa dengan kenyataan yang bertolak belakang dengan harapanku."

"Netralisir hatimu! Jangan pernah menggantungkan kebahagiaan pada orang lain, itu hanya akan membuahkan rasa kecewa."

"Kalau sudah terlanjur kecewa, bagaimana?"

"Ku bilang, netralisir hati!"

"Caranya?"

"Lakukan hal-hal yang kamu sukai untuk mengalihkan pikiranmu dari dia. Coba lihat segala sesuatu dengan wajar. Tidak perlu berlebihan. Semua orang tahu, berlebihan itu tidak baik."

"Apa aku akan bahagia?"

"Serahkan pada Yang Maha Membolak-balikkan Hati. Ia akan selalu mengarahkanmu pada hal-hal baik jika kamu  yakin pada kuasa-Nya."

"Apa itu yang membuatmu selalu terlihat tenang selama ini?"

"Mungkin.

 

 

Thumbnail diambil dari sini

 

 

  • view 166