Menunggu atau Melupakan

Dhini  Chalista
Karya Dhini  Chalista Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 13 November 2016
Menunggu atau Melupakan

Perlahan, aku mulai memahami karakter teman-teman disekitarku yang baru kukenal beberapa bulan lalu. Cukup menarik, memperhatikan dan berbaur dengan mereka saat berdebat mengenai hal-hal sepele, bercanda, sampai curi-curi kesempatan untuk mengutarakan isi hati secara tersirat. 

Masalah yang berkaitan dengan hati atau perasaan memang tak pernah ada habisnya, termasuk di kalangan keluarga keduaku ini. Mereka selalu antusias membenarkan persepsi masing-masing. Padahal, tidak ada kebenaran mutlak mengenai perasaan, bukan?

Ada yang sedang didekati oleh senior.

Ada lagi yang merasa nyaman dengan teman lawan jenisnya setelah sekian lama sulit melupkan mantan.

Ada juga yang serius menunggu, kemudian ditinggal menikah. 

Lantas, lebih baik menunggu atau melupakan? 

Menurutku, keputusan apapun yang diambil selama hal tersebut memberi dampak positif, ya, itulah yang terbaik. 

Jika dengan melupakan seseorang bisa membuat pikiran teralihkan dari si penyebab galau menjadi hal positif, kenapa tidak memaksakan diri untuk melupakan saja? Tapi, jika termotivasi untuk melakukan hal-hal baik dalam penantian seperti fokus belajar supaya punya prestasi yang bikin si dia melirik, atau fokus mengembangkan bisnis hingga puncak kesuksesan supaya si dia tertarik. Ya, itu juga tidak salah. Yang sangat disayangkan adalah jika seseorang menghabiskan hari-harinya dengan meratapi perasaannya yang tak terbalas, memikirkan si dia yang tak kunjung memberi kabar, atau bahkan menghabiskan energi untuk menangisi dia yang pergi begitu saja. Padahal, hal-hal menyedihkan itu bisa jadi berdampak positif jika dilihat dari sudut pandang berbeda. Saat tak berkabar, waktu senggang bisa dimanfaatkan untuk melakukan hal-hal kecil yang tentunya positif. Jika perasaan yang tak terbalas atau ditinggalkan justru menjadi cambuk untuk memperbaiki diri dan berprestasi, kenapa diratapi?

Soal hati memang identik dengan ketidakpastian. Maka dari itu, pengendalian diri sangat diperlukan oleh setiap individu. Ada porsi yang harus diperhatikan dalam menanggapi sesuatu. Banyak hal yang berpotensi membahagiakan selain si dia, hanya Sang Maha Baik satu-satunya yang tak pernah membuatku kecewa.

Do'a tulusku untuk semua, agar bahagia selalu mendominasi hari.

11/13/2016

  • view 244