Aku Rela Surga Di Telapak Kaki Ibu

dhina kharisma hari wibowo
Karya dhina kharisma hari wibowo Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 01 Maret 2016
Aku Rela Surga Di Telapak Kaki Ibu

Malam itu kami terbangun oleh suara tangisan bayi kami. Dengan sigap istriku langsung menggendong dan memberikannya ASI. Tak peduli sedang capek atau mengantuk. Tapi naluri dan kasih sayang seorang Ibu yang mengalahkan rasa capek dan kantuk itu. Kuperhatikan seharusnya istriku kelelahan setelah seharian bersama si baby yang ketika itu rewel sepanjang hari. Diam hanya dipegang dan diberi ASI oleh ibunya. Aku sebagai ayahnya hanya melihat dan memberi dukungan kepada istri saat memberikan ASI untuk bayi kami sambil sesekali kepala dan mataku terangguk-angguk tanda kantuk. Seketika lamunanku mengambang membayangkan ketika aku masih bayi. Ibuku pasti bertindak seperti istriku juga. Seorang ibu yang selalu sedia buat sang anak. Ibu tidak akan membiarkan anaknya berada dalam ketidaknyamanan.

Kebetulan istriku bekerja sebagai wiraswasta yang kantornya adalah rumah sendiri. Sehari semalam bisa full mengurus baby kami. Sedikit cerita dari temanku yang juga seorang ibu dimana dia harus bekerja di kantor dan meninggalkan seorang anak yang masih butuh ASI. Aku merasakan perjuangannya yang luar biasa. Aku tidak bisa membayangkan jika istriku yang berada di posisinya. Tiap pagi harus bangun awal untuk menyiapkan segala keperluan rumah tangganya, termasuk memasak buat suami dan menyiapkan kebutuhan si baby, tidak lupa menyiapkan ASI dalam botol susu yang siap diminum baby. Kemudian bekerja di kantor dengan segala tugas dan kewajibannya. Setelah bercengkerama dengan pekerjaan kantor, ada tugas menanti di rumah sebagai ibu. Tanpa merasakan capek dan lelahnya langsung mengambil alih baby dan bermain dengannya. Apakah capek dan lelah? Tidak, justru dengan bermain dengan anaknya semacam mendapatkan vitamin alami dalam batinnya sehingga seketika capek dan lelah itu hilang. Belum lagi anak yang rewel di malam hari yang mengharuskannya begadang. Amazing. Apapun profesi seorang ibu, dia akan tetap sanggup mengurus kewajiban di rumahnya. Dan setiap Ibu punya caranya masing-masing agar tetap menjaga kebahagiaan bersama keluarganya.

Aku masih ingat ketika istriku sedang mengandung. Di awal kehamilan harus meyesuaikan diri dengan perubahan hormon. Muntah, perut mual, pusing hampir tiap hari dirasakannya. Makanan yang biasanya sedap dimakan mendadak hambar. Fisik yang biasanya strong seketika lemah. Hari demi hari dilalui dengan perut yang semakin membesar otomatis fisik seorang calon ibu harus kuat menahan beratnya bayi yang dikandungnya. Seorang ayah di dunia ini tidak akan pernah bisa merasakan beban yang dialami seorang ibu dalam proses kehamilannya. Apakah ayah juga merasakan susah payah ketika melahirkan bayi yang bisa saja menghilangkan nyawa seorang ibu?

?Ayah, aku tidak tau bagaimana aku diciptakan. Aku pun tidak ingat bagaimana proses kelahiranku. Tapi ayah, seiring bertambah umur, semakin dewasa aku menjadi tahu. Tahu bagaimana aku diciptakan, tahu bagaimana aku dilahirkan dari rahim Ibu. Aku pun juga tahu ayah ternyata sebelum aku lahir, Ibu sudah menggendong aku selama 9 Bulan 10 Hari. Betapa kuatnya ibu ya Ayah. Betapa sabarnya Ibu dalam menanti aku lahir di dunia. Ibu tidak boleh stress kan Ayah sewaktu aku di dalam kandungannya? Padahal aku berat, butuh makanan, butuh ketenangan. Bayangkan ayah kalau Ibu stress, apakah tidak berpengaruh terhadap pekembanganku? Ditambah lagi sewaktu Ibu melahirkanku, ibu pasti kesakitan kan Ayah? Ketika aku rewel minta ASI, atau hanya bisa menangis ketika aku merasa tidak nyaman, Ibu juga kan Ayah yang memberikan aku ASi, menggendongku sampai aku tenang dan tertidur pulas.?

?Maaf Ayah, aku tidak mengesampingkan peran seorang ayah. Ayah, engkau mempunyai tanggung jawab besar dalam sebuah keluarga. Ibarat kapal, ayah bertindak sebagai Kapten sekaligus Nahkodanya. Mau dibawa kemana keluargamu wahai Ayah? Ibu dan aku akan selalu berada disampingmu Ayah. Jagalah kami ayah, lindungi kami ayah.?

  • view 289