Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 16 Februari 2016   15:41 WIB
Seorang Anak Yang Mengajarkan

Andika, seorang anak kecil yang masih berseragam sekolah dasar. Anak yang dianggap aktif bahkan terlalu aktif untuk seusianya. Cucu dari kepala sub bagian tata usaha di kantorku. Sesekali waktu dia mampir ke kantor kakeknya diantar ayahnya sehabis pulang sekolah. Kami menyebutnya ?si yesss?. Permainan game komputer menjadi kebiasaannya di kantor kami. Setiap kali bermain pasti berteriak ?yesss, yesss, yesss?. Beberapa minggu sebelum bulan ramadhan seperti biasa dia mampir menemui kakeknya, dan hal yang dia tuju hanya satu : sebuah komputer PC yang menjadi arena bermainnya. Kebetulan ada satu PC di kantor kami yang menjadi langganannya. Siang itu, dia merengek-rengek mencoba merayu kami menyalakan PC tersebut. Kami diam seakan menggodanya. Dia semakin lantang bukan merengek lagi, tapi menyuruh dengan kasar. Oh, anak ini kurang ajar pikirku. Aku yang jadi obyek sasaran suruhannya sambil menarik tanganku. Dia berusaha keras, tapi aku tetap tidak menggubrisnya. Sambil memperlihatkan wajah kekesalanku. Karena dalam otakku memandang anak ini ga sopan.

?dhin ati-ati lho, istrimu sedang hamil? celetuk salah satu teman kantorku.
Deg. Tanpa gerakan, tanpa kata-kata aku terdiam kaku. Darah di sekujur tubuhku seakan berontak tapi sudah terlanjur kaku. Aku langsung melihat seorang anak kecil disampingku yang merengek-rengek meminta menyalakan PC. Aku melihat wajahnya yang polos sambil beristighfar, astaghfirullahhal?adzim. Aku semakin banyak semakin banyak memenuhi hati dengan istighfar memohon ampunan Allah. Lalu aku pun bergegas menyalakan PC untuknya. Aku berjalan lemas kembali ke meja kerjaku.

?sabar dhin, memang andika ga kayak anak seusianya, kamu coba perhatikan gerak-geriknya? celetuk lagi temenku. ?Hah?? aku perhatikan dari ujung rambut sampe gerak-gerik andika. Aku menyadari untuk seusianya, andika ?terlalu aktif? dan dia mempunyai dunianya sendiri . Aku benar-benar ga tau. Seketika itu, aku menunjukkan senyumanku. Senyum malu kepada diri sendiri. Malu karena ga tau kondisi andika. Malu karena sempat kesal dengan kelakuan andika. Otakku langsung cepat merespon keadaan. Pandanganku berubah 180 derajat. Dari kesal menjadi seorang kakak yang berusaha menebar kasih sayang kepada adiknya. Kemudian aku berjalan dengan penuh senyuman menghampiri si anak kecil tersebut. Aku usap-usap kepalanya sambil meminta maaf, mendoakan dia. Hari itu seorang anak kecil telah mengajarkan aku. Perubahan kecil dalam pandangan, akan menentukan sikap terhadap sesuatu. Perubahan pandangan penuh kasih membawa sikap kehangatan kepada andika. Ya jika aku bisa memandang segala sesuatu dengan sifat Ar-RahmanNya mungkin bisa memenuhi kehangatan bagi sekitarku, atau paling tidak bagian terkecil dari aku, ketentraman hatiku.

Karya : dhina kharisma hari wibowo