Merantau #4 : Iman

dhina kharisma hari wibowo
Karya dhina kharisma hari wibowo Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 15 Februari 2016
Merantau #4 : Iman

JIka kamu berada di zona tidak nyaman, kegagalan datang, tidak ada kawan berbagi, tidak ada orang tua sebagai tempat mengeluh dan ketika hidup harus berlanjut, siapakah tempatmu kembali dan bersandar?

Kegagalan test BUMN yang membawaku ke Kalimantan menjadi pukulan telak. Aku benar-benar berharap bisa bekerja disana. Apalagi test itu yang menjadi passionku di Kalimantan. Disaat yang sama, Pambudi teman kost ku yang test bareng aku diterima dan bekerja disana. Sungguh beruntung dia dalam pikirku waktu itu. Aku harus mengatur hati, bagaimana harus bersikap. Jujur, sulit untuk bersikap bijak, sabar dan syukur.

Sehari, dua hari pasca kegagalan masih bingung. Ini mau ngapain ya. Mau curhat teman di jawa, takut ganggu. Aku mencoba merubah sikap, yang dulu lemah terhadap keadaan yang tidak mengenakan sebisa mungkin aku kudu kuat. Kuat dalam artian menahan cerita yang berbau kesedihan. Cerita ke ibu pun aku meyakinkan bahwa aku kokoh bakoh seterong. Hehe. Seminggu dua minggu berlalu, saatnya muv on. Aku baca koran harian setempat, banyak lowongan pekerjaan. Aku masukkan satu persatu surat lamaran pekerjaan. Entah berapa lamaran pekerjaan yang aku kirimkan, mungkin sekitar 30-40an selama aku belum punya pekerjaan.

Menyebar surat lamaran kerja kesana kemari pun juga belum berhasil. Menunggu. Menunggu dering handphone nokia jadul. Menunggu panggilan kerja. Sambil bersih-bersih rumah, mencuci piring dan pekerjaan rumah tangga lainnya. Bersyukurnya, aku lakukan pekerjaan rumah itu dengan senang hati bukan paksaan atau disuruh. Karena sadar, aku menumpang. Hehe. Ya itulah caraku untuk berterima kasih karena sudah ditampung dan dibantu. Secara tidak langsung hal itu menumbuhkan setitik cahaya harapan buatku. Aku ga perlu memikirkan tempat buat tidur, buat makan. Paling mikir hari ini ngapain, hari ini makan apa, masak apa. Hehe.

Alhasil karena aku belum punya pekerjaan aku masih ikut makan orang. Haha. Reren yang menghidupiku. Dari makan sampai kadang pulsa teleponku. Ya memang itu sebagian rezekinNya yang diberikan kepadaku. Tetapi malu rasanya. Seorang sarjana masih bergantung hidup sama orang lain. Memang ga ada sama sekali pikiran untuk berwiraswasta membuka usaha. Sebenarnya jika menilik kultur pola hidup dan ekonomi masyarakat sekitar, sangat terbuka dan sangat berpotensi untuk berwiraswasta. Banyak perantauan dari Jawa yang membuka usahanya. Dari jualan nasi goreng, bakso, soto, mie ayam, jual lalapan, sayuran dan masih banyak lagi. Bahkan aku mendapati orang Klaten membuka angkringan/wedangan/HIK jualannya laris manis, rumah dan mobil sudah kebeli katanya. Entah kenapa mindsetku hanya dua : bekerja dan mencari pekerjaan.

Tiap hari aku habiskan waktu untuk melakukan apa yang dirumah tidak aku lakukan. Dari hal-hal kecil seperti mencuci baju sendiri. Di rumah jawa, aku bisa dibilang manja. Tidak pernah aku mencuci baju sendiri. Ibuku yang mencucinya. Di kost pun, aku tingal mengantar ke tukang laundry. Awalnya aku mencuci pakai tangan. Ngucek. Memeras. Tangan langsung kram. Haha. Manja. Trus kemudian disarankan tuan rumah untuk memakai mesin cuci. Alhamdulilah. Pun dengan mesin cuci aku juga belum pernah sama sekali. Hehe. Yes, aku bisa mencuci sendiri, ucapku bangga. Belum lagi menyeterika baju sendiri. Hehe.

Kehidupanku sangat berbeda. Jikalau dulu setiap ada masalah, sering merengek-rengek ke sahabat, teman, sekarang? Ga mungkin aku menghabiskan ribuan pulsa untuk sekedar sms atau bertelepon kesana kemari untuk mengeluhkan keadaanku. Untuk berbagi dengan keluarga disini, belum ada chemistry diantara kami. Disaat itulah, ada satu tempat yang harus sering aku tuju. Satu tempat dimana seorang manusia mengakui kelemahannya, mengakui keterbatasannya, mengakui segala dosa-dosanya, mengakui kekurangannya, mengakui kehinaanya dihadapan Sang Penciptanya. Tempat untuk sujud. Tempat yang sering aku tuju. Tempat dimana seorang manusia bebas bercerita, berkeluh kesah tentang semua kehidupannya, tentang segala macam masalahnya, segala penyakitnya.

Kembali ke Allah. Mungkin itu bisa menjadi sebuah kalimat klise, dimana seseorang penuh dengan penderitaan dan kegagalan dalam hidup yang akhirnya harus kembali kepada Yang Memberi Hidup. Dan aku pun mengakui itu. Tidak ada jalan lagi, ga ada sebuah harapan yang besar kecuali kembali ke Allah. BersamaNya semacam mempunyai harapan, kekuatan, keyakinan baru dalam menapak sebuah kehidupan. Semakin yakin untuk meraih cita cita, visi kehidupan kita. Apalagi bagi seseorang (seperti aku) yang jauh keluarga, jauh dari teman-teman. Moment tersebut pas banget.

Apakah sebelumnya aku melupakan Allah? Apakah sebelum ke Kalimantan aku mengabaikan Allah dalam setiap kehidupan? Menurut aku pribadi ada 2 jawaban. Ya dan tidak. Jawaban Ya, mungkin aku dalam beribadah kurang menyertakan Allah dalam hati. Zona nyaman, kehidupan serba ada (keluarga, teman, makanan. Hehe ), enak ( walaupun harus berjuang juga untuk membantu ibu ) membuatku seakan kurang butuh kekuatan Allah. Bayangkan, kewajiban sholat 5 waktu saja, aku sering banget bolos subuhnya, masyaa Allah. Bukan sering lagi, tetapi malah tiap hari. Bisa dihitung dalam sebulan sholat subuhnya. Dan aku akui, aku sholat ?hanya? 4 waktu saja. Dhuhur, ashar, magrib, isya. Itu pun sering di akhir waktu. Sholat dan berdoa melupakan ruhNya, sedangkan dosa tiap saat bertambah. Jawaban tidak, aku tidak melupakan Allah. Karena setiap waktu shalat aku masih ingat aku harus kembali. Setiap ada masalah aku kencengin doanya. Aku melaksanakan kewajibanNya, dan menjauhi laranganNya (walaupun kadang masih melakukan yang dilarang). Tetapi jawaban semua itu, aku kembalikan lagi ke Allah. Dia Yang Maha Tahu isi hati. Maha Melihat dan Maha Mendengar. Wallahu?alam.

Ada sebuah kalimat yang tidak sengaja ( atau memang sudah diarahkan Allah? ) aku baca di internet. ?Penderitaan mendekatkan manusia kepada Tuhannya?. Apakah aku perlu penderitaan agar aku ingat Allah? Insyaa Allah aku memang perlu. Memang manusia diberi anugerah dan kelebihan masing-masing. Ada yang tidak perlu menderita langsung bisa dekat Tuhannya, dan ada pula yang perlu penderitaan agar tahu caranya kembali. Alhamdulillah, aku bersyukur masih diberikan kesempatan opsi yang kedua ( bayangkan kalo sudah menderita, tapi masih jauh dari Tuhannya dan Allah sengaja menyesatkan. Masyaa Allah ). Kayaknya aku butuh penderitaan dulu deh biar dekat sama Allah. Kira-kira begitu setelah aku baca kalimat tersebut. Bukan berarti aku memohon penderitaan, tetapi aku memohon rahmat Allah, tuntunan Allah agar aku bisa dekat kembali denganNya. Ada kalimat motivasi lagi di Internet ( memang waktu itu aku googling kalimat-kalimat motivasi. Hehe ). ? Doa seseorang yang menderita lebih khusyuk?. Dan benar juga kalimat itu. Wah hebat motivatornya, pasti dulu pernah menderita. Haha. Doaku kenceng banget, sampe tangisan juga. Hehe

Jika Allah berkehendak. Kun Fayakuun dah. Meyakinkan diri. Hampir tiap hari dari pagi sampai siang / sore aku dirumah sendiri. Motor ga ada dipakai semua, duit pun pas-pas an. Trus ngapain? Hehe. Alhamdulillah, berkah buat aku. Ada sebuah buku dirumah yang terpampang jelas di ruang tamu rumah. La Tahzan, Jangan Bersedih judulnya karangan DR. ?Aidh al Qarni. Aku ga promosi, tapi sedikit bernostalgia dengan buku ini setiap aku menangis. Hehe. Insyaa Allah, buku ini wasilah dari Allah untuk memberikan ilmu dan imannya kepada aku. Setiap bersedih, apalagi habis sholat dengan sedikit suara sesenggukan dan linangan air mata, aku membaca buku ini. Alhamdulillah, isi nya penuh dengan untaian kalimat hikmah dan menggugah jiwa. Mungkin keluargaku ga pernah tau jika sehabis sholat sering menangis. Apalagi di dalam doaku aku ingat dengan Ibu. Ibu yang jauh disana sangat mengharapkan anaknya untuk bekerja, sukses dan mapan. Tapi keadaanku masih jauh dari itu, ibarat kata rezeki belum sampai. Ibu yang ingin anaknya mengangkat derajat keluarga. Ya, salah satu motivasi terbesarku adalah Ibu. Jika memang jalan ini harus aku lalui untuk ?mengabulkan? doa-doa dan keinginan Ibu, aku siap Ya Allah. Salah satu kalimat favoritku untuk bertahan dan lanjut berjuang.

Awalnya aku akui berat, tetapi untuk bertahan hidup bukankah kita harus bergerak? Bukankah setiap kejadian manusia, Allah menyelipkan hikmah dan pelajaran? Allah Akbar.

  • view 226