Merantau #3 : Kehidupan Pertama

dhina kharisma hari wibowo
Karya dhina kharisma hari wibowo Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 15 Februari 2016
Merantau #3 : Kehidupan Pertama

Selamat datang di Borneo -sebutan untuk pulau Kalimantan- . Akhirnya, obrolan lepas bapak dan omku diijabah Allah. Aku lulus kuliah dan aku di Kalimantan. Hebat. Aku menjadi semakin meyakini bahwa perkataan adalah doa. Apalagi perkataan orang tua kepada anaknya. Sebuah obrolan yang menjadi doa tulus keinginan dan harapan.

Aku mendarat selamat di Bandara Syamsudin Noor. Secara geografis administratif sebenarnya bandara tersebut berada di Kota Banjarbaru. Kurang lebih 40 menit dari Kota Banjarmasin. Seperti bandara Djuanda yang terletak di Kabupaten Sidoarjo bukan Kota Surabaya. Bandara Adi Sumarmo yang terletak di Kabupaten Boyolali bukan Kota Solo. Tidak seperti di Kalimantan. Itulah pikiran pertamaku ketika aku menyusuri pertama kali Kota Banjarbaru. Hmm seperti kotaku Sukoharjo gumanku. Perasaan bahagia terpancar. Bayanganku sebelum terbang, Kalimantan itu seperti hutan sepanjang jalan. Piss. Hehe. Serasa aku tidak berada di Kalimantan. Banyak pertokoan sepanjang jalan, gedung-gedung perkantoran, bank-bank nasional pun juga tersedia. Wah, bakalan betah aku disini. Aku meyakinkan diri.

Aku tinggal di rumah adik bulikku bersama Reren dan Panjul anak bulikku. Amang ? panggilan untuk paman. Bahasa banjar ? Hikmah. Bersama istrinya, Alhamdulillah aku diterima untuk tinggal disana. Amang Hikmah seorang PNS Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan yang sering pergi ke hutan, sedangkan istrinya seorang Dokter. Sebuah keluarga yang harmonis, adem dan humble. Meski aku belum kenal sama sekali sebelumnya, aku diterima layaknya keluarga sendiri. Aku suka keramahan beliau. Dan saya membuktikan orang dayak bukan seperti kebanyakan orang bilang. Ya, ada beberapa teman, saudara yang berpesan untuk berhati-hati dengan orang dayak, nanti bisa disantet atau dikasari. Jauh dari itu, bulikku asli dayak tapi beliau baik. Agamanya pun tegak lurus. Begitu juga dengan amang hikmah dan istrinya. Tinggalkan pikiran skeptis seperti itu. Banyak kok orang jawa di Kalimantan. Mereka bisa hidup berdampingan dengan penduduk pribumi. Selama berprinsip ?dimana bumi dipijak, disitu langit dijinjing? kita bisa hidup bersama. Sebagai perantau hormati adat istiadat dan penduduk pribumi.

Aku masih belum paham waktu itu kenapa aku langsung memilih kota Banjarmasin sebagai tempat test wawancara. Tanpa konsultasi dan koordinasi dengan keluarga di Kalimantan, aku langsung pilih. Aku ga tau om tinggal dimana, apakah dekat dengan Banjarmasin atau malah jauh. Ternyata Reren tinggal di Banjarbaru. Dan omku ternyata tinggal di Kota Muara Teweh, Kalimantan Tengah. Kurang lebih 9 Jam. Satu kemudahan aku dapatkan. Alhamdulillah. Reren yang sejak 2007 menjadi PNS di Departemen Kehutanan tinggal di Banjarbaru sangat akrab denganku. Waktu aku kecil, kami selalu kumpul mulai dari tidur, belajar dirumah hingga bermain bersama. Banyak kenangan semasa kecil yang kami obrolkan. Dari kami pernah mencuri semangka di kebun, sampai dikejar ibu-ibu yang rumahnya kami ganggu dengan mercon. Seberkas nostalgia sebagai pembuka obrolanku dengannya. Walaupun dia lahir di Kalimantan, dia lancar berbahasa jawa. Begitu juga dengan Panjul, masih mahasiswa jurusan kesehatan lingkungan. Anak om yang paling bontot ini kurang lebih seperti kakaknya. Suka usil. Dulu ketika masih kecil, dia sering kena marah keluargaku berkat keusilannya. Rupanya sudah insaf sudah sehat ketika beranjak dewasa.

Malam itu aku langsung diajak jalan-jalan ke Kota Banjarmasin. Sekalian survey tempat test wawancaraku esok hari. Jalan menuju Banjarmasin sangat lenggang. Ruas-ruas jalan dua kali lipat dari kotaku sukoharjo. Sebagai ibukota Provinsi Kalimantan Selatan, aku seperti merasakan berada di Kota Solo. Gapura Banjarmasin Bungas ? cantik. Bahasa banjar ? menandai kemewahan kota tersebut. Banyak gedung-gedung tinggi menjulang. Banyak tempat hiburan. Sepanjang jalan tertata rapi warung-warung lalapan lamongan. Ada pula mall beserta isinya. Wah, ini sih kota bukan hutan. Siapa bilang Kalimantan ga ada mall. Haha. Aku benar-benar menikmati malam itu. Senyum selalu terpancar, mataku menyatakan bersemangat menyambut kota. Hari pertama aku sudah bisa membayangkan aku kerja disini dengan segala hingar bingar kota ini. Sangat bersemangat sekali hingga lupa itu apakah itu semangat membara atau hanya nafsu belaka.

Keesokan harinya aku diantar Reren pergi menuju tempat test wawancara. Tanpa persiapan. Ya aku ga sempat membaca atau mencari informasi terkait BUMN ini. Gambaran untuk test wawancara pun, zonk. Tidak ada sama sekali. Ah, yang penting aku berangkat. Yakin, doa dan minta doa restu ibu. Oke, aku berangkat. Ujian pertama ternyata bukan wawancaranya, hehe. Tetapi aku diuji dengan hujan. Hujan lebat mengguyur Kota Banjarbaru. Sabar. Kami nekat membawa motor dengan menggunakan mantel. Sambil sesekali aku memohon hujan reda. Daripada mengutuk hujan mending memohon doa. Alhamdulillah selamat di tempat test. Sebuah kantor Kopertis di daerah Kayutangi, Banjarmasin. Aku perhatikan banyak sekali kompetitorku. Tidak ketinggalan, temanku Pambudi juga hadir. Dia tinggal dirumah pamannya tidak jauh dari tempat test.

Test pertama, kami dipanggil satu-satu untuk menghadap seorang psikolog. Test pertama ada 3x test. Sabar karena hujan, sabar karena menunggu panggilan. Aku datang jam 10 pagi, panggilan wawancara setelah magrib. Sabar. Senyum. Tebar pesona. Hehe. Dan akhirnya test wawancara pertama. Pertanyaan yang masih umum. Tentang diri, kelebihan, kelemahan, motivasi terbesar dan sebagainya. Seputar potensi diri. Kami harus jujur dengan diri sendiri. Itu kuncinya. Tanpa perlu kebohongan untuk menaikan rating dihadapan pewawancara. Hehe. Ada sebuah pertanyaan yang masih kuat dalam ingatanku.

? Apa misi jangka menengahmu, 5 tahun dari sekarang? tanya pewawancara cantik jelita yang ternyata orang boyolali itu. Heran aku, ibunya ini selalu senyum kepadaku. Deg - deg an, jadi malu. Hehehe

? Saya menikah bu? jawabku dengan yakin. Kewanen. Jawaban spontan yang tanpa pikir panjang. Pekejaan belum ada, calon jodoh pun masih jauh. Saat itu aku berumur 22 tahun. Apakah itu sebuah doa atau hanya action saja di depan pewawancara. Entahlah.

Pengumuman test akan diberitahukan lewat website seminggu kemudian. Nothing to lose aja dah. Aku nikmati hari-hari awalku di tanah rantau. Ada sebuah tempat mangkal anak muda mudi. Lapangan Murjani, kami sering menghabiskan waktu disana. Tempat yang sederhana, tetapi dikelola dengan baik oleh pemerintah setempat. Banyak penjaja makanan disana di sepanjang jalan memutari lapangan. Asik. Sore hari atau malam hari kami duduk santai menikmati tingkah laku polah anak muda jaman sekarang. Hehe. Tak ubahnya aku yang masih terbakar jiwa muda ingin juga ngaksi disana. Yah, apalah daya, diam lebih baik. Kesempatan untuk bermain sementara di pause sejenak. Pekerjaan yang jadi fokus perhatianku sekarang menjadi benteng sikapku.

Seminggu berlalu setelah test pertama aku bergegas ke warnet terdeka demi penguman test. Kubuka perlahan daftar yang dinyatakan lolos. Alhamdulillah, namaku masuk daftar. Langsung kukabarkan kabar bahagia ini ke ibu. Test selanjutnya masih wawancara. Tapi kita berkelompok. Focus group discussion (FGD). Makanan apalagi itu, pikirku. Hehe. Tiap kelompok berisi 5 orang dan diberi satu permasalahan untuk didiskusikan mencari solusinya. Pengalaman ini menarik. Aku bisa tau karakter masing-masing orang. Dan memang test ini untuk mengetahui kinerja, sikap, dan karakter pribadi. Ada yang ambisius, yang pengen menguasai kelompok dimana dia berusaha menjawab dan tampil dominan di hadapan kelompoknya dan pengujinya. Ada pula yang kalem, sedikit bicara tapi solutif. Senang membantu kelompoknya tanpa perlu banyak bicara, bicarapun apa adanya sesuai dengan solusi yang ditawarkan. Lugas, cepat, solutif. Aku memilih untuk bicara yang mengandung solusi, ga berbelit-belit mengungkapkan teori ini teori itu. Penguji memberi masalah dan kami berikan solusi. Sederhana. Tetap tenang ketika ada teman kelompok yang berusaha menonjolkan diri. Pasang senyum paling manis dah. Haha. Jika sudah giliran berbicara, aku sampaikan singkat saja tetapi langsung aku tawarkan solusi dihadapan kelompok dan pengujinya. Alhamdulillah strategiku ini berhasil. Malam itu juga aku dinyatakan lolos babak berikutnya, test terakhir.

Dari wawancara pribadi sampai diskusi kelompok sudah aku lalui. Ngeri. Sumpah kalau yang ini deg-deg an. Test kesehatan dan wawancara dengan direksi menjadi bagian pamungkas test nya. Dan Alhamdulillah, aku gugur. Hehe. Direksinya pintar. Pertanyaannya banyak jebakan betmen. Haha. Berbeda dengan wawancara pertama masih bersifat umum, masih bersifat potensi diri. Nah kalo yang ini nih, direksinya suka memutar pertanyaan. Pertanyaan pertama nanti bisa diulang lagi. Disitu kudu punya konsistensi jawabannya. Aku ga tau apakah aku masuk dalam kategori konsisten atau tidak. Pertanyaan teknis seputar pekerjaan juga diulas habis disana. Padahal jauh hari aku persiapkan baju baru untuk menyambut senyuman direksinya. Mungkin direksinya jaim, dari awal sampai akhir wawancara ga senyum sama sekali. Bisa jadi habis makan asem, jadi senyumnya kecut. Hehe. Berbeda dengan pengumuman sebelumnya, untuk pengumuman test terakhir ini tiap saat aku ga tenang, gelisah. Aku atasi dengan sholat pun, sholat juga ga tenang. Ah, terlalu besar nafsuku untuk pekerjaan ini. Keyakinanku akan kekuatan Allah sirna. Aku lebih tertarik untuk gelisah mengikuti kemauan nafsuku. Aku goyah, bayanganku akan pekerjaan hilang semua. Semangat yang menyala membara seakan disiram air es kutub utara, langsung adem. Senyumku terasa hambar. Seketika galau. Galau mau ngapain. Mau pulang jawa, malu. Kalo masih tinggal, trus ngapain. Tetapi point penting hikmah dan prestasinya adalah aku sampai test terakhir sebuah BUMN. Hehe. Menghibur diri biar ga galau stadium akut.

Kukabarkan semua ini ke Ibu. Sedihku sudah mengecawakan ibu. Pun disaat seperti ini aku masih berusaha membesarkan hati ibu. Aku yakinkan ibu, insyaa Allah akan diberikan yang lebih baik lagi dari pekerjaan ini.

?Bu, sabar nggih. Insyaa Allah aku diberi kesempatan untuk belajar dulu bu. Belajar hidup, belajar sabar, belajar kuat ketika gagal.? Isakku lirih di sebuah handphone Nokia 6070.

Setelah kegagalanku tersebut, hampir tiap hari sabtu hunting korang local untuk mencarik secarik berita lowongan pekerjaan. Kemudian di hari senin apply ke lowongan yang tersedia. Begitu seterusnya hingga memupuk keyakinan yang berujung suatu yang dinamakan harapan.

  • view 270