Merantau #2 : Ridho Ibu

dhina kharisma hari wibowo
Karya dhina kharisma hari wibowo Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 11 Februari 2016
Merantau #2 : Ridho Ibu

Tahun 2009, aku menyelesaikan amanah orang tua dengan menjadi seorang sarjana. Ya mungkin agak berat, Sarjana Hukum. Seseorang yang dianggap tahu dan menguasai bidang hukum. Ga peduli entah itu hukum pidana, perdata, tata Negara, warisan dan banyak lagi. Pokoknya kudu tau semua hukum. Titik. Padahal jujur aku ga menguasai kesemuanya itu, hukum tata Negara yang jadi fokusku di akhir semester. Hehe. Piss. Jangan tanya aku kalo ada masalah perdata atau pidana ya. Hehe.

Aku diketok palu oleh Pembantu Dekan 1 dan dinyatakan lulus sebagai sarjana bulan November 2009, dan ikut wisuda sebulan kemudian, Desember 2009. Selama 2 minggu aku ngurus administrasi dan bla bla bla agar bisa wisuda. Dan selama itu pula aku sama teman kost aku, Pambudi yang dikenal kemaki iseng-iseng ikut test online sebuah BUMN di internet. Jika dinyatakan lulus test online, akan dilanjutkan test wawancara di berbagai kota. Ada 4 pilihan kota waktu ( kalo ga salah.) Medan, Banjarmasin, Makassar trus satu lagi lupa, Ambon kayaknya. Pilihan aku waktu itu : Banjarmasin. Satu-satunya kota di pulau Kalimantan yang dipakai tempat wawancara. Dan pikirku, masih ada harapan jika aku lulus test online aku bisa melanjutkan test wawancara toh di Kalimantan aku ada keluarga yang mungkin bisa membantu aku selama test disana. Ya, Banjarmasin pilihan kota test wawancara. Padahal aku belum konsultasi sama ibu atau keluarga. Yang aku tau Banjarmasin ada di Kalimantan. Hehe. Dan ada omku di Kalimantan, walaupun aku juga ga tau omku ada di kota mana. Haha. Pokoknya daftar, milih dan test online dulu. Otak kanan men! He.

Masih segar dalam ingatanku, test online aku jalani di sebuah bilik warung internet di daerah Ngoresan, Jebres, belakang kampus UNS. Spidernet. Test dimulai dari test logika, sampai test berhitung yang selalu menjadi momok buatku. Maklum anak IPS paling ga suka hitung berhitung. Beruntung temenku sudah test duluan. Hehe. Jadi dia beritahu kisi-kisi dan bentuk soalnya seperti apa. Setiap soal ada batasan waktunya. Disarankan untuk makan dahulu, karena hampir 4 jam test online dilangsungkan. Bayangkan jika di tengah test pas laper, ya pasti sudah muntah. Hehe. Aku amini pernyataan kaum pekerja bahwa logika tanpa logistik ga bakalan jalan sesuai rencana. Yang diberi logistik aja kadang masih amburadul, apalagi tidak diberikan asupan logistik. Hmm?

Dan benar saja, Alhamdulillah aku dengan temanku lulus test online. Padahal aku mengerjakan sambil lalu. Tanpa beban. Plong. Ga ngoyo untuk menjawab setiap pertanyaan. Sedikit diam aku dalam bilik sebuah warung internet sambil melihat pengumuman. Tertulis namaku dalam daftar test lanjutan. Hari Rabu, 9 Desember 2009 bertempat di kantor Kopertis Banjarmasin. Sebuah Tanggal, hari dan tempat test wawancara yang terpampang dengan jelas di layar monitor. Seketika pikiran dengan hati ga sinkron. Oh, apakah benar saya harus merantau ke Kalimantan? Trus bagaimana ibuku?

Sesampai di rumah langsung aku konsultasi dengan ibu. Yang saat itu juga baru pulang dari bekerja. Ibuku seorang bendahara di sebuah sekolah swasta yang tiap hari harus mengayuh sepeda onthel ke pasar lalu naik bis umum menuju sekolahannya. Kasihan ibuku. Seorang wanita menjelang tua harus banting tulang demi keluarga.

?Ibu, aku ada panggilan test wawancara BUMN di Banjarmasin, enaknya gimana ya bu?? tanyaku dengan pandangan ga berani menatap ibu. Saat itu aku belum wisuda, tetapi sudah dinyatakan lulus. Sedangkan tanggal wisuda jatuh pada tanggal 3 Desember 2009. Itu berarti hanya 6 hari setelah wisuda aku harus pergi.

?Ya monggo nak. Ibu cuma bisa berdoa nak, itu hidup kamu. Ibu selalu mendukung keputusanmu, ibu percaya setiap keputusanmu pasti baik?

jawab ibu dengan suara getir. Sungguh suatu keputusan sulit juga bagi beliau. Mengingat hanya sebentar saja merasakan euphoria anaknya yang akan diwisuda. Apalagi aku yang selalu diandalkan ibu untuk mengantar kesana kemari semenjak bapak meninggal. Ibuku ga bisa mengendarai motor. Dan kakakku sudah punya istri dan anak, juga sibug kerja.

?Tapi bu kalo sudah pergi ke Kalimantan, aku bakal disana dulu kerja disana dulu, ibu gak papa?? aku menimpali jawaban ibu sambil sedikit aku mencuri pandangan ke ibu.

?Insyaa allah gapapa nak, yang penting kerja jujur. Trus bisa mengangkat derajat bapak ibumu?

Masyaa Allah, jawaban sekaligus doa dan harapan seorang ibu untuk anaknya. Obrolan singkat yang melegakan hati juga memberatkan hati. Lega karena ibu ridho, berat karena meninggalkan ibu. Sesaat setelah itu, aku terdiam di dalam kamar. Entah ingin meneteskan air mata atau bingung aku hanya terdiam.

Hari semakin cepat dan mendekat kepergianku. Praktis hanya selang seminggu setelah wisuda aku harus terbang ke Kalimantan. Selama seminggu itu aku manfaatkan untuk berkumpul keluarga, silahturahmi ke teman-teman, minta doa restu dari mereka. Untung waktu itu ga punya pacar, jadi ya ga ada yang nggondeli. Itulah nikmatnya single. Realy, single dikala belum bekerja sungguh nikmat. Kita masih bisa alasan kenapa jomblo : males ah, boros, duit aja masih subsidi ortu. Nanti aja kalo sudah bekerja aja. Sebenarnya ini alasan klise. Padahal ga laku. Haha. Ya aku masih ingat, ibuku pernah berpesan kalo aku mapan dan sudah bekerja, nanti ada aja wanita yang dekat. Oke bu, aku percaya. Aku turuti sampai nanti aku buktikan sendiri nasehat seorang ibu.

Persiapan pun dimulai. Dari beli koper (yang besar, yang bisa muat untuk pindahan. hehe) sampai beli tiket pesawat. Tiket pesawat waktu itu hal yang baru buatku, sesuatu yang mewah ( katrok. haa ). Sesuatu yang menaikkan derajatku, disaat teman-temanku banyak yang belum pernah naik pesawat. Hehe. Harga tiket waktu itu 650ribu jurusan Jogjakarta ? Banjarmasin. Ibu hanya bisa beri uang 700ribu aja. Itu pun pinjam kawan beliau. Tetapi ibu sudah mengeluarkan banyak uang untuk persiapanku merantau. Beli koper dan keperluan lainnya. Alhamdulillah aku masih ada tabungan dari beasiswaku juga sumbangan dari keluargaku, paman dan budheku. Oh men, sudah sarjana masih disumbang. Duhhh. Sejak saat itu aku yakinkan bahwa uang tiket itu pemberian uang terakhir dari ibu, tekadku, hari esok aku yang harus memberi Ibu sampai akhir hayat beliau. Bismillah.

Malam sebelum keberangkatan entah kenapa aku hanya ingin dirumah. Semakin berat meninggalkan rumah yang sudah terlalu nyaman buatku. 22 tahun aku berada di rumah itu. Dan kenyataannya keesokan hari harus meninggalkannya. Aku meminta ibu tidur di sampingku. Perasaan yang adem campur gelisah. Ibu pun aku rasa juga sama. Sampai akhirnya aku sedikit menitik air mata yang ibu pun ga tau.

Tanggal 8 Desember 2009 aku bersama ibu diantar ke jalan raya oleh kakaku. Kami menunggu bis umum menuju stasiun Solo Balapan. Ga ada keluarga lain yang mengantarkanku. Sesampai di stasiun kami sudah disambut oleh kawan-kawanku Panitia Sembilan yang sudah aku anggap keluargaku. Dengan candaan kami yang khas, kami tertawa lepas di dalam kereta Prambanan Ekspres menuju Jogjakarta. Ga peduli orang-orang di sekitar kami. Seolah-olah itu candaan terakhir kami. Sesekali aku melihat wajah ibu yang semakin mendekat stasiun Maguwo Jogja semakin mengerucut senyumnya. Entah apa yang dirasakan ibu waktu itu. Hiburan dari kawanku sedikit mengurangi kegelisahan yang ga tau ujungnya dimana.

Tibalah kami di bandara Jogjakarta (sumpah baru pertama kali liat dan masuk bandara secara langsung! Duhh). Degupan hati semakin mengencang. Aku menyerah, aku sudah ga bisa bercanda lagi. Aku yang biasanya cerewet seakan dihantam palu Thor sampai terdiam. Kawan-kawanku masih mencoba menghiburku dan ibuku. Tapi aku tau senyumku waktu itu senyum seperti makan gula asem, kecut.

Panggilan penumpang Mandala Airlines untuk dipersilahkan ke ruang tunggu. Masyaa Allah, berat. Aku tahan airmataku agar terlihat tegar dihadapan ibu. Senyum mengembang aku daratkan di bibirku agar ibuku ga terlalu sedih. Aku melihat salah seorang kawanku menangis. Dan ibuku memberikan senyum terbaiknya kepadaku. Terima kasih ibu.

Ini menjadi pengalaman naik pesawat terbang pertama kali buatku. Dimulai dari cek in, sudah bingung. Trus di ruang tunggu aku duduk dengan hati dan pikiran waspada alias tegang. Setiap orang yang duduk disamping ku, aku tanya ?Mau ke Banjarmasin pak/bu/mas/mba??. Kalo memang ke Banjarmasin, ya aku nanti tinggal ngikut di belakangnya. Hehe. Oke akhirnya ada orang yang satu pesawat. Di dalam pesawat, badan semakin tegang. Ada tips dari kawanku, jika mau take off, badan jangan bersandar dan makan permen aja. Mengurangi tegang katanya. Tapi tetap saja tips nya ga berlaku bagiku. Hehe. Mata mau dimeremkan juga ga sanggup, kalah sama degub jantungnya. Dan ini yang bikin semakin ga tenang, ibu-ibu yang duduk di sampingku di atas pesawat masih sms an! Oh God. Mau menegur sungkan, dikira sok tau. Aku diamkan saja sambil sesekali melirik ibu nya. Alhamdulillah drama ketegangan (khusus aku saja) di dalam pesawat akhirnya mencapai titik klimaks. Kami mendarat selamat di bandara Syamsudin Noor Banjarmasin.

Welcome to Borneo.

  • view 187