Merantau #1 : Awal Mula

dhina kharisma hari wibowo
Karya dhina kharisma hari wibowo Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 10 Februari 2016
Merantau #1 : Awal Mula

Sekitar akhir tahun 2006 atau awal tahun 2007 aku masih belajar di bangku semester 4 fakultas hukum universitas sebelas maret (UNS). Sebuah kampus yang sangat menyenangkan untukku. Bisa dibilang aku ini termasuk orang yang beruntung. Bagaimana tidak, menjadi mahasiswa salah satu kampus favorit di Kota Solo tanpa ujian dahulu. Hehe. Sebuah jalur PMDK, - yang aku lupa singkatanya - mengantarkanku belajar disana. Jalur dimana serorang mahasiswa dinilai layak masuk universitas berdasarkan nilai raport semasa sekolah di SMA. Wah, pintar juga ya aku? Tidak juga, nilai rapor semasa SMA didukung beberapa faktor, antara lain tempat duduk juga teman yang baik. Hehe. Ilmu hukum yang aku pilih jadi modal ilmuku bisa dibilang tidak sengaja. Sama sekali tanpa bayangan ilmu hukum seperti apa dan bagaimana. Sebenarnya banyak pilihan sih waktu itu. Ilmu ekonomi, aku ga suka yang ada angkanya. Ilmu Komunikasi, hmm, aku seorang pemalu masih grogi berkomunikasi di depan umum. Ilmu kedokteran, ya ga mungkin lha wong aku anak IPS. Akhirnya aku memilih ilmu hukum biar menegakkan hukum dan keadilan di negeri ini. Sebuah cita-cita yang mulia ( pada waktu itu ). Hehe.

Aku tinggal di sebuah kampung kecil Carikan di Kota Sukoharjo, ya kurang lebih 30 menit dari Kota Solo. Kata bapak, rumah kami turun termurun dari mbah buyutku. Rumah yang lumayan besar, dengan halaman yang dimana kami bisa bermain bulutangkis atau tenis meja. Kami tinggal satu pekarangan dengan kakek nenekku. Ya memang dulu rumah ini ditempati kakekku kemudian diturunkan kepada Bapakku. Bapakku seorang pelayan masyarakat. Pengabdi Negara istilah kerennya, atau seorang Pegawai Negeri Sipil, PNS masyarakat menyebutnya. Sudah cukup untuk hidup jika kami hidup di kampungku yang sederhana dengan pekerjaan sebagai PNS golongan III biasa bukan pejabat. Sedikit banyak pekerjaan bapakku mempengaruhi pola pikir dan sikapku. Beliau dikenal sebagai Lurah - sebuah jabatan yang mengepalai sebuah kelurahan - yang dikenal masyarakat. Sikap seorang anak lurah kudu bisa menjaga nama bapaknya, pikirku. Dan kembali lagi pilihanku ilmu hukum sebagai ilmu lanjutanku kelak dipengaruhi oleh pekerjaan bapakku. Pola pikir ku sederhana : lulus kuliah sebagai sarjana hukum dan menjadi PNS di pemerintahan seperti bapak. Hehe.

Pagi itu, Paman ( aku biasa memanggil Om. Karena adik Bapakku ) dan bulikku yang dari Kalimantan datang kerumah kami. Omku satu-satunya anak kakekku yang tinggal di luar Jawa. Beliau anak ke-6 sedangkan bapakku anak ke-2. Omku sejak akhir tahun 70 an sudah merantau ke Kalimantan. Menurut cerita beliau, dulu ada seorang putra Jawa Tengah yang juga mantan Bupati Sukoharjo menjadi Gubernur Provinsi Kalimantan Tengah. Bapak Gatot Achmad Safari Amrih namanya. Nah pas menjabat menjadi Gubernur, beliau mengeluarkan program kebijakan transmigrasi ke Kalimantan Tengah. Omku sedari membujang sudah melalang buana ke hutan Kalimantan. Beliau pun berjodoh dengan wanita asli suku dayak Kalimantan. Bulik Rita, aku memanggilnya. Ya mungkin waktu beliau disana belum ada telepeon atau handphone, jadinya komunikasi dengan di Jawa sulit akhirnya ya dapat jodoh orang Kalimantan. Hehe. Bulikku kalo ngomong bahasa dayak wuih kayak The Flash, wuuuss cepet banget.

? Di, kalau Dhina lulus kuliah, biar ikut kamu ke Kalimantan sana ya? seru bapakku kepada om ku ( Nama omku Joko Hadi Susanto, di keluargaku biasa dipanggil Hadi ato disingkat Di ) dalam suatu obrolan lepas suatu pagi di rumah kami. Satu obrolan yang sayup-sayup terdengar olehku.

? Gampang mas, biar Dhina lulus dulu. Moga aja mau aku ajak kesana? jawab omku sambil melirik senyum ke aku yang ketika itu masih disibukkan dengan cucian sepeda motor. Sepeda motor legendaris, sebuah suzuki shogun R tahun 2003 warna merah hitam.

Aku terdengar samar obrolan singkat tersebut tapi ya dengan tampang kalem ( sambil ngelap motor ) dan senyum aku menoleh ke kedua orang hebat tersebut. Dari obrolan tersebut, ada point penting. Pertama, bapak berharap aku lulus kuliah. Kedua, bapak pengen aku ke Kalimantan. Sebuah harapan dan doa yang tulus dari seorang bapak yang menginginkan anaknya menjadi seorang sarjana. Mengapa Kalimantan? Mungkin hanya bapak yang bisa menjelaskannya. Aku pun ga sempat bertanya kepada beliau. Sebuah peristiwa terjadi di bulan Oktober 2007. Bapak dipanggil Allah dengan wasilah sakit komplikasi yang berujung pada sakit jantung. Seorang anak lelaki muda yang masih butuh nasehat dan wejangan seorang bapak harus kehilangan sosok penopang dalam keluarga. Bahkan beliau pun tidak pernah ada dalam foto wisudaku. Hanya ada dalam hati dan kenangan serta dalam selipan doa bahwa aku punya sosok bapak yang hebat.

Di tahun 2008, om sama bulik pulang lagi ke Jawa. Aku lupa pulang lebaran atau menghadiri pemakaman nenekku. Tahun 2008 nenekku dijemput malaikat Isrofil untuk menghadap Allah. 2 tahun berturut-turut kami kehilangan sosok panutan dalam keluarga. Nenekku yang punya nama Suskamdani ( mirip dengan nama pemilik Sahid Group. Bapak Sukamdani Sahid Gitosardjono. Memang dulu beliau satu kampung di Carikan dengan kakek nenekku sewaktu masih muda dan teman bermainnya ) dikenal sebagai sosok yang sabar, baik dan mantan guru SD yang ramah. Aku masih ingat, dulu masih duduk di SMA nenek yang menawari dan membiayaiku kursus bahasa inggris di LIA alasannya supaya bisa bersaing di masa depan. Harus bisa dan mengerti bahasa inggris kata beliau. Yang sering buatkan indomie rebus kesukaanku. Yang sering kupinta jatah bulanan setiap awal bulan dari gaji beliau. Terima kasih nek.

? Gimana na, berani ga ikut aku ke Kalimantan? Laki-laki kudu berani merantau? pertanyaan kecil om kepadaku dengan wajah senyum sambil ketawa dalam suatu kesempatan. Ga tau apakah pertanyaan ini candaan atau tantangan atau malah ajakan seperti apa yang diamanahkan almarhum bapakku.

? Santai Om, berani aja. Biar aku lulus kuliah dulu ya. Hehe ? aku menjawab dengan sedikit deg-deg an.

Belum ada pikiran untuk ke Kalimantan untuk seorang mahasiswa semester 6. Skripsi saja belum dapat judul sudah ditawari merantau. Aku jawab dengan syarat kelulusan. Entah nanti kemana, yang penting lulus kuliah yang utama.

? Ayo Mas Dhina melu nang kalimantan wae, ben ngumpul karo reren, herman, panjul? timpal bulikku dengan cengkok dayak nya yang khas yang memaksa menimpali dengan bahasa jawa. Lucu kalo mendengar bulik bercakap-cakap dengan bahasa jawa. Kadang cuma menganggu-angguk saja sebagai isyarat paham isi pembicaraan. Reren, Herman, Ranjul ketiga nya anak om bulik. Ketiga nya pernah ikut bapak ibukku ketika sekolah di Sukoharjo. Reren dan Herman dari SD sampai SMP. Panjul cuma setahun saja

? Iya bulik, liat besok kalo lulus. Insyaa Allah? aku jawab dengan bahasa Indonesia saja. Hehe.

Insyaa allah bukan berarti aku mengiyakan atau menolak. Ya memang ada sedikit keinginan kesana, tetapi belum sreg di hati dan pikiran. Hanya Allah yang berkuasa atas diriku kemanapun aku pergi.

Tahun 2009 aku pun lulus kuliah. Sarjana Hukum. Alhamdulillah tahap awal aku bahagiakan orang tua. Bapak pasti bisa tersenyum di alam yang berbeda. Bapak pasti bangga punya anak seorang Sarjana Hukum seperti harapannya. Pun demikian dengan ibu. Ibu yang menjadi penopang keluarga setelah bapak pergi. Yang harus banting tulang sendirian. Sewaktu kuliah, aku diminta fokus untuk belajar dan ga boleh bekerja. Urusan biaya, Ibu yang menanggung. Alhamdulillah, sedikit banyak aku bantu biaya dengan hasil beasiswaku dan kadang-kadang ikut membantu proyek dosenku. Bahkan bapak ibuku mengizinkan aku menjadi anak kost di Solo walaupun jarak rumah ke kampus bisa ditempuh dalam waktu 30 menit dengan harapan aku lebih giat belajar, lebih semangat kuliah dan lebih cepat untuk lulus. Alhamdulillah dengan menjadi anak kost aku bisa sedikit belajar hidup mandiri, temanku bertambah, dan lebih suka berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Terima kasih bapak ibu. Anakmu kini sudah menjadi seorang sarjana.

Dan tak lama kemudian setelah lulus, aku pun ada panggilan ujian test sebuah BUMN di Banjarmasin, Kalimantan Selatan!

Kebetulan atau sudah diatur Allah ?

  • view 278