Ramadhan : Seberkas Kisah Klasik

dhina kharisma hari wibowo
Karya dhina kharisma hari wibowo Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 16 Juni 2016
Ramadhan : Seberkas Kisah Klasik

‘Tangi le, tangi, kowe sahur opo ora?’ celetuk ibuku membangunkanku di setiap waktu sahur bulan ramadhan. Ya, bulan ramadhan bagi seorang anak kecil, remaja yang beranjak dewasa memang mempunyai banyak cerita. Setiap tingkatan kehidupan dan pendidikan termaktub seberkas cerita lama yang  menjadi cerita masa kini. Sebuah kisah klasik mengiringi langkah kehidupan selanjutnya.

Dimulai dari seorang anak kecil yang baru mencoba berpuasa. Anak sekolah dasar yang mengawali puasa ramadhan dengan puasa mbedhug. Puasa yang berbuka dua kali, adzan dhuhur dan adzan magrib. He. Curang.  Anak kelas 1 SD yang belum berfikir pahala dan segala keberkahan puasa ramadhan. Satu-satunya balasan yang diinginkan cuma 2 : uang lebaran dan baju baru buat lebaran. Nice. Alhamdulillah puasa mbedhug pun lancar sampai di penghujung bulan ramadhan. Sakses. Sampai kelas 2 SD aku masih bertahan dengan puasa mbedhug. Perjalanan puasaku dengan satu buka di adzan magrib dimulai ketika duduku di bangku kursi kelas 3. Satu bulan ramadhan full. Dengan konsekuensi badan jadi kurus. (yang Gendud coba puasa dengan 1 buka. Mungkin bisa kurus. He).

Seperti layaknya siswa lain di penjuru pelosok negeri, tiap bulan ramadhan adalah waktu terbaik buat untuk mencatat segala amal ibadah baik sholat, puasa, silahturahmi di sebuah buku catatan ramadhan. Yang kemudian nanti disetorkan kepada guru agama islam untuk dinilai. Sholat dicatat, dari subuh hingga magrib. Jamaah atau munfarid. Puasa pun juga dicatat. Sekumpulan anak-anak berbondong-bondong sholat tarawih di masjid sampai akhir untuk meminta tanda tangan sang imam. Aku sedikit menduga waktu aku mendengarkan ceramah di sela-sela sholat tarawih itu cuma menentukan judul ceramah yang harus ditulis di buku ramadhan.  Pertanyaannya apakah para guru tersebut benar-benar menilai buku ramadhanku? Apakah juga mengecek juga judul ceramahnya? Kalau aku palsukan tanda tangan imam dan judul ceramahpun kayaknya guru juga bakalan ga tau. Masih misterius. Tetapi dimanapun tempat  guru pasti digugu lan ditiru. Guru nyuruh catat dan kumpulkan, manut aja. Jadi sebelum internet dan media sosial bertaburan berhamburan, pencatatan dan pengumuman amal ibadah sudah aku mulai sejak SD. Hehe.

Terkantuk-kantuk dalam sholat subuh dan tarawih di masjid hal yang biasa. Belum terasa kenikmatan sholat. Pernah aku sujud di sholat subuh tertidur, sampai para Jemaah yang lain pada pulang.  No problem. Ketika ramadhan tiba pasti banyak anak-anak berkumpul di masjid. Pemandangan anak-anak yang bicara sendiri, ketawa sendiri, bahkan mengganggu para orang tua yang sedang sholat sudah biasa. Aku pun demikian. Beberapa orang dewasa terganggu kemudian memarahi dan mengusir mereka. Tetapi ada sebuah nilai ketika seorang anak sudah berkenalan dengan masjid. Anak diajarkan untuk mencintai masjid. Mencintai sholat. Memori anak masih segar. Dia dapat mengingat bahkan sampai tua. Sehingga lebih bijak jika menanamkan memori mencintai masjid dimulai dari anak-anak.

Ketika duduk kelas 5 atau 6 SD, sehabis sholat subuh, aku bersama segerombolan anak-anak kampung jalan-jalan sambil membawa petasan. Layaknya preman kampung. Sudah menjadi kebiasan kami setelah sholat subuh bermain petasan. Dari yang cabe rawit sampai petasan cap Leo/singa. Gede. Kami iseng melempar petasan ke rumah seorang ibu-ibu setengah tua yang tinggal di sebelah sekolah kami. Bu Kardi namanya ( maafkan saya ya bu ) yang juga membuka warung kecil  buat anak-anak sekolah. Hari pertama tidak terjadi apa-apa. Tanpa perlawanan apapun. Hari kedua pun tanpa perlawanan. Kami semakin gencar. Astaghfirullaha’ladzim. Di hari ketiga, ketika kami mengira tanpa perlawanan, ternyata bu kardi sudah ancang-ancang siap-siap melawan melalui pintu belakang. Beliau berlari-lari sambil mengejar kami dengan membawa parang/arit. Dan dilemparkan kepada kami. Beruntung kami bisa menghindari lemparan beliau. Kalo terkena salah satu dari kami, Astaghfirullahal’adzim. Maafkan kami bu. Maaf. Usai kejadian itu, kami tidak lagi mengganggu beliau. Yang bikin aku malu, ketika aku jajan di warung beliau, beliau cerita di hadapanku sambil tersenyum bahwa diganggu anak-anak dengan petasan. Entah waktu itu beliau ingin menghukumku atau memang ga tau bahwa aku salah satu dari mereka yang mengganggu.
Kehidupan ramadhan SMP ditandai dengan lebih banyak nongkrong di sekitar kampung. Sudah mulai begadang. Entah apa yang dicari dari begadang. Kebetulan ada tetanggaku yang jualan HIK sampai subuh. Baru kali ini aku merasakan begadang sampai membangunkan warga keliling kampung. Sahur, sahur. Sahur, sahur. Asik. Tanda aku mulai beranjak dewasa pikirku. Hehe. Dan puasa pun jadi lebih ringan. Ringan karena tidur ngebo. Tidur habis subuh. Yang kadang tidur setelah jalan-jalan berpetasan. Pola hidup dibalik. Aku tidur jam 5/6 pagi bangun habis dhuhur. Jam 13/14. Praktis puasaku cuma setengah hari. Setengah hari dipakai buat tidur. Sipp

Ada sebuah impian kecil waktu itu. Keinginan mempunyai sepeda motor. Kelas 2 SMP aku sudah lancar berkendara sepeda motor. Imajinasiku akan sepeda motor waktu itu yang terkenal Honda Supra. Aku membayangkan indahnya sholat tarawih di Masjid Raya dengan sepeda motor sendiri. Jalan-jalan subuh keliling kota dengan sepeda motor. Ngabuburit sambil bersepeda motor. Imajinasi sederhana dari seorang remaja yang kelar belajar sepeda motor. Impian itu tetap aku jaga sampai kelas 3 SMP yang akhirnya tetap saja masih belum punya….

SMA menjadi masa yang lebih berani. Menghabiskan malam ramadhan dengan nongkrong kesana kemari. Ga baik sebenernya. Hehe. Dalam masa itupun aku pernah sekali berani sengaja membatalkan puasa di siang hari dalam bahasa kami mokah. Pada kelas 3 SMA tepatnya. Ga tau kenapa aku yang dari SD selalu menjaga puasa tiba-tiba berani dengan sengaja. Bulan ramadhan menjadi biasa-biasa saja. Ga sesakral waktu SD. Puasa ya puasa. Ga ada greget kepuasan batin. Dalam berpuasa tujuan utamanya adzan magrib. Hehe. Mungkin jaman kegelapanku, hehe. Padahal aku sudah gelap. Tetapi ada satu berkah sendiri bagiku. Jatah fitrah bagi-bagi rezeki (baca: Uang) ketika lebaran dari paman dan keluargaku satndarnya naik. Dalam karir jatah fitrah sebelum aku kerja mungkin masa SMA yang tertinggi. Bisa sampai jutaan. Hehe.

Cerita anak kost yang berpuasa diidentikan dengan makanan dan harga beserta porsinya. Setelah SMA aku melanjutkan kuliah di UNS. Dan aku merasakan jadi anak kost walaupun jarak rumah dan kampus bisa dijangkau. He. Kehidupan ramadhanku sedikit lebih teratur daripada di SMA. Aku lebih memperhatikan hal-hal yang membatalkan dan mengurangi pahala berpuasa. Tetapi tetap saja tidak bisa mengalahkan kesakrakalan jaman SD. Begadang tetap jalan tapi lebih menahan diri. Aku dah ga membiasakan untuk tidur pagi bangun siang. Kuliah. Walaupun aku kadang nakal, tapi kuliah jalan lancar. Hal yang mengasyikkan adalah ketika kami mencari warung untuk sahur dan berbuka. Aku sama teman-teman kost yang lain mempunyai prinsip yang sama tentang makanan : harga murah, enak dan porsi kuli (baca : porsi banyak). Aku survey ke teman-temanku melalui cerita mereka. Kami pun mempunyai tempat favorit untuk sahur dan berbuka. Ya, murah, enak dan porsi banyak. Yang aku suka, kami kadang melaksanakan sholat tarawih di kost. Kebetulan ada teman kost kami lulusan pondok pesantren. Keakraban kami sampai sekarang masih terjaga. Kami terkumpul selama kurang lebih 4 tahun dalam kost yang sama.

Aku  merasakan Ramadhan berbeda ketika berada di tanah rantau. Aku yang merantau jauh dari orang tua dan kerabat di Jawa. Awalnya banyak yang bilang kalo Kalimantan banyak mistis, dukun, santet. Tapi aku malah merasakan hal sebaliknya. Sisi masyarakat religius disini kuat. Entah aku terbawa suasana jauh dari orang tua, teman berbagi ato memang budaya kebiasaan masyarakat disini dalam menyambut ramadhan. Aku merasakan keberkahan dan makna ramadhan itu sendiri. Sisi religi yang dulu tidak terlalu aku sentuh, sedikit sedikit aku mencoba belajar. Belajar memperbaiki sholat fadhu, belajar menambah sholat sunah, belajar memulai membaca al-qur’an, belajar menghadiri majelis taklim. Yang dulu aku seakan tidak peduli. Bahkan cenderung acuh. Ramadhan aku manfaatkan sebaik-baiknya. Apalagi tahun pertama aku berada di sini masih dalam perjuangan untuk pekerjaan. Dimana di Ramadhan tahun pertama, aku masih menganggur hingga aku pun merasakan Hari Raya Idul Fitri di tanah rantau karena belum berhasil bekerja dan uangku pun mevet. He.

Hal yang sekiranya menarik buatku barangkali adalah ketika aku berada di suatu pondok di tengah hutan. Tempat berkumpulnya orang-orang yang belajar. Belajar berkebun. Belajar bertani ikan. Belajar sabar dan syukur. Hehe. Berdiri 4 bangunan dari kayu. Lengkap dengan dapur. 1 khusus sebagai langgar tempat sholat.  Banyak orang jawa berkumpul disana. Aku merasakan seakan-akan aku berada di kampung, Bahasa jawa tidak terhindarkan sebagai obrolan sehari-hari. Untuk memasak pun masih memakai kayu bakar. Ya aku belajar disana. Belajar menghargai alam, tumbuhan sekitar, menghargai manusia yang ( maaf ) bukan orang kaya. Makan sahur dan berbuka seadanya. Tidak berlebihan. Jauhkan keinginan minum es degan, es campur yang segar. Air putih dan teh hangat nikmat syukur luar biasa. Lauk tahu tempe sambal dan sayuran hasil tanaman berkebun sendiri sudah menjadi makanan yang mewah. Sesekali ada lauk ikan lele hasil kolam sendiri.  Alhamdulillah aku belajar bersyukur disaat kami merasakan cukup. Tidak mencari yang tidak ada. Sholat menjadi hal yang utama disana. Adzan selau berkumandang di waktu sholat, lalu semua aktivitas berhenti. Sholat berjamaah menjadi keasyikan tersendiri. Alam yang terbuka menambah keromantisan kami dalam bermunajat dan bersimpuh sujud di hadapanNya. Seoalah-olah kita sedang memeluk Allah SWT melalui alamnya.

Pada akhirnya bulan Ramadhan dengan segala keberkahan nya aku jadikan waktu yang penuh untuk belajar. Sekolah khusus. Sekolah Ekslusif. Hingga berharap ‘lulus’ seperti apa yang Allah SWT firmankan “………. agar kamu bertakwa”
[ Q.S. Al-Baqarah : 183 ].
Aamiin. Wallahu’alam.

Marhaban Ya Ramadhan

Sumber gambar : http://martaboy.deviantart.com/art/Ramadhan-Month-Typography-Bulan-Puasa-425343177

  • view 173