Sandal Butut dan Keluarga

dhina kharisma hari wibowo
Karya dhina kharisma hari wibowo Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 28 Maret 2016
Sandal Butut dan Keluarga

Sepasang sandal tersusun dalam rak berhamburan bersama sepatu pantofel dan sepatu olahraga. Pagi ini aku amati di beberapa bagian sandal sudah terkoyak. Warna coklat menyala sudah sedikit luntur dan mulai memutih. Hampir putus sandalnya, tapi aku olesi dengan lem alteco di beberapa bagian agar tidak putus. Aku ingat-ingat sandal ini sudah berumur 1,5 tahun. Aku membeli waktu lebaran tahun 2014 dan masih membujang kala itu. Sangat mudah membeli barang ketika masih single. Sampai sekarang hanya sandal ini yang setia menemani langkahku kemanapun. Karena hanya ini sandal yang aku punya. Memang jika dilihat sandal ini sudah tidak stylis, kuno, terlebih warnanya sudah luntur. But, hanya ini yang ada di hadapanku saat ini dan aku masih nyaman memakainya. Belum lagi sepatu olahragaku kira-kira sudah berumur 3 tahun. Masih awet, hanya aku pakai jogging dan senam. Itu pun tidak setiap hari. Hehe.

Saat ini, puji syukur kepada Allah aku dianugerahi istri yang tidak hanya cantik namun baik ditambah kami langsung diberi amanah seorang bayi yang cantik pula dan berharap membawa keberkahan bagi kami. Banyak kata-kata bijak yang aku jumpai di beberapa literatur tentang keluarga. Keluarga adalah segalanya. Keluarga adalah harta yang tidak ternilai. Keluarga adalah sumber kebahagiaan. Dan lain sebagainya. Adalah keluarga yang membuatku lebih bertanggung jawab dalam hal apapun di kehidupan. Sebagai seorang figur pemimpin dalam keluarga aku mengharuskan diri membuang sikap egois diri sendiri. Jikalau dulu ketika masih single, kemanapun beli apapun aku siap. Tidak sekarang. Kebutuhan keluarga lebih utama, seorang suami dan ayah wajib mencukupi kebutuhan keluarganya.

Hal yang aku rasakan sekarang ini, kadang aku merasa cuek dengan apa yang aku kenakan, apa yang aku punya, yang penting saat ini aku merasa bahagia dengan anugerah besar yang disebut keluarga. Aku fokus bagaimana aku bisa menjaga, melindungi dan mencukupi keluargaku. Sifat dan sikap keAkuan mulai memudar. Aku sekarang tidak perlu membuktikan diriku siapa. Tidak perlu bergaya parlente biar dilihat menarik oleh orang lain. Atau aku perlu sandal baru buat mengganti sandal butut yang menua itu? Mungkin baju dan popok anak lebih aku utamakan daripada sandal baru. Toh, aku masih nyaman dengan sandal bututku.

Love you my family.

Pagi di bulan Februari'16

  • view 171