Manusia yang pelupa

Dhilla Erizal
Karya Dhilla Erizal Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 29 Mei 2016
Manusia yang pelupa

Manusia yang bergegas dan hiruk pikuk kaki yang berdetak hingga ke jantung jalan. Sibuk mencari jutaan klimaks dan piagam yang tak pernah kenyang. Jalanan ini sering dilewati meski tak peduli siapa namanya dan dimana rumahmu. rupa-rupa wangi menjadi musibah hidung besar penjaga toko di tepi jalan. Apalagi yang bisa ditawarkan selain pecah belah dari ketidak pedulian mereka yang tidak sempat memandang kaca.

Ayunan tua dan bangku taman yang duduk sendiri. Pudar dijilati siang yang kehausan. Atau bila malam ia meringis digigit gerimis yang kelaparan. Malam di taman ini seperti sedang ditimpa kuatir yang sangat besar, cemas bila dersik tiba tiba berbisik tentang dunia atau hanya fana. Barangkali keduanya bermakna sama. Bila harus diurai satu persatu aku takut kemalaman.

Pukul dua di depan toko, terbaring seorang saudara kandung dari adik perempuan yang cacat. Siang tadi terlalu lelah untuk bicara mengiba nasib. Malam adalah kasur ketika saudara yang lain menangis dalam tidur. Namun siapa yang peduli? Kata itu hilang dari manusia yang bergegas atau mungkin ketinggalan di atas sofa kulit kiriman tetangga?

Mereka yang bergegas ialah kau yang pelupa. Dirimu bukan siapa. Bukan rupawan apalagi dermawan. Dirimu kosong maka di saku tebalmu keselipkan coretan ini agar kau pulang. Memang tidak mesti harus selalu mengeluh dan melulu persoalkan neraka, tapi dari nafas, lirih keangkuhan sudah tercium pelan-pelan.

Bila kau baca tulisan ini dan kau tak mengerti, sama halnya seperti adik yang sulit menghitung langkah kakimu yang begitu cepat.
Kadangkala aksara tak cukup hebat menanggung beban kebutaan. Namun setidaknya rasakan bagaimana malam dan siang tercipta bergantian agar kau peduli.

 

Gambar: ervakurniawan

  • view 138