Air mata puisi

Dhilla Erizal
Karya Dhilla Erizal Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 15 Mei 2016
Air mata puisi

Puisi terlahir yatim piatu. Setiap kata yang tercipta ialah rengekan sendiri yang diramal tanda tanya. Diksi berupa laki-laki malang dan kucing belang di atas loteng yang sudah lama tidur atau jangan-jangan mati. Memang tak sempat menyusun abjad ketika adzan dilafazkan ditelinganya. Siapa yang peduli menanyakan namanya selain aku? Tiada.
Jeda hanyalah senyum sesekali selepas malaam yang disambut embun kadang-kadang. Namun malam ini dingin, sangat dingin. Menggigil tulangnya memanggil ibu. Lihatlah anakmu ibu, memeluk tangan sendiri kuat-kuat, tiada selimutkah yang pernah kau rajut untuknya? yang sudi memeluk tubuh kumuh dan kepiluan tanpa suara.

Dari syurga, puisi mendengar; Peluklah kesedihan dan bayang-bayang cahaya lilin yang meredup, diantaranya terdapat aku. Doa membelai lembut hatimu yang kokoh. Jangan menangis sayang, jangan menangis. Kenallah tuhan kenanglah Tuhan. DariNya, sungguh setiap cinta mengekal. Apa kau masih merasa dingin?

Tiba-tiba biji mataku panas, kerongkongan tercekik.
Airmata puisi.


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    1 tahun yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Terkadang tak perlu tulisan panjang untuk menyuarakan jeritan hati. Tulisan ini membuktikan pemilihan kata yang dalam, metafora yang tepat dan teknik penulisan yang apik sanggup menghasilkan karya yang sangat menyentuh. Penderitaan fisik dan psikis tertangkap dengan sangat baik lewat karya ini. Derita sang anak akibat tidak memperoleh kasih sayang dan perlindungan sang ibu menjadi inti tulisan ini. Walau demikian, keyakinan akan Tuhan membuatnya tetap bertahan menjalani semuanya. Sungguh impresif, Dhilla!

  • Polisi Bahasa
    Polisi Bahasa
    1 tahun yang lalu.
    adzan => azan
    lafazkan => lafalkan

    • Lihat 4 Respon