Puisi di kotamu

Dhilla Erizal
Karya Dhilla Erizal Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 13 Mei 2016
Puisi di kotamu

Di kotamu, puisi adalah kekasih. Yang rela disandera lelehan jarak, meski percepatan mengiring kata untuk menunggu di dalam ruang yang membeku. aku yang singgah di kotamu tahun lalu, masih malu mengenang langkah langkah kaki di sepanjang trotoar menuju pulang, denganmu. Gerakmu, sedikit kaku, apalagi aku. Ragu pula aku menyapa dahulu senyummu, meski sudah ku letak baik di isi jantung.

Di kotamu, puisi adalah malam panjang. Yang menidurkan kegelapan dan menghidupkan lampu lampu kota hingga subuh kembali. Aku tidak butuh hiburan meski lengang, tapi jangan maatikan lampu tiba tiba. Kamu yang aku beri kabar malam ini lewat udara yang bermudik ke kotamu. sebab tidak ada surat yang bisa dituliskan dengan pantas, tulisan ku mengigau, pun kantor pos sudah tertidur pulas di dalam kamar. Kapan terakhir kita berbincang seyakin dulu? Meski nyatanya aku kalangkabut mengatur jeda dan tanda koma. Sedang kita cuma butuh titik.

Di kotamu, puisi adalah kopi tanpa gula. Yang membuat mata dan mimpi susah mengantuk. Inginku selalu menepi dalam harap segera pulang. Sebab katamu, segelas kopi akan sama sama kita sedu sebelum duduk di sofa ruang baca. apa tiada lain kutemukan yang lebih pekat selain di tempat itu? lalu,apa ada yang lebih nikmat selain rindu? Secangkir rindu di dalam kopi yang penuh, sudah kenyangkan pikiran.

Di kotamu, selalu ingin aku singgah, selalu ingin aku rindu.
Di jogjamu, jua di hatimu, kekasih.

  • view 457