The Power of Hijrah

Dhika Satria
Karya Dhika Satria Kategori Agama
dipublikasikan 06 Juli 2016
The Power of Hijrah

Terkadang ada ya, orang yang pengeeen banget berubah, pengen jadi orang baik, orang sholeh, pengen kenal Tuhannya, pengen belajar agama, pokoknya pengen hijrah lah ke arah kebaikan. Tapi dia seperti dibatasi oleh keadaan. Gak punya waktu lah, sibuk sama pekerjaan lah, lingkungannya gak baik lah,temen-temennya ngajakin buat gaul terus lah, pokoknya dia dibikin muter-muter aja sama dunia.

Di sisi lain ada juga orang yang punya waktu banyak, kerjanya enak, punya banyak kesempatan dan waktu luang, tapi malah hanyut dalam kesantaian dan kelalaian. Seakan Allah gak peduli dan gak ngasih hidayah buat orang itu.

Nah disaat manusia udah ngrasa bosen dengan rutinitasnya, mulai galau, gak tenang, mulai banyak masalah, di hatinya seakan mencari sesuatu sandaran yang bisa menolongnya. Mencari suatu tujuan yang kekal, serta kebahagiaan dan ketenangan yang haqiqi. Karna selama ini, ia selalu gak pernah puas dengan apa yang sudah dicapai.


Bahkan, terkadang juga muncul pertanyaan-pertanyaan di hatinya. Sebenarnya kita ini hidup di dunia buat apa si? Udah bener belum si yang udah kita lakuin ini? Apa iya mau kaya gini terus? de es te...

Kalo kita peka, mungkin itu yang namanya call soul atau panggilan jiwa, hehe. 

Karna pada hakikatnya, hati kita akan selalu mengarahkan kembali kepada Pemiliknya. Jadi, kalo udah timbul niat dari dalam diri kita. Pengin mencari kebenaran. Pengin nyari Tuhannya. Pkoknya pengin banget berubah jadi lebih baik, tapi kita baru sadar, posisi kita belum mendukung buat berubah. Terus apa yang bisa kita lakuin? Mau pasrah aja atau mau pasrah beuud? Hehe

Pertama, apapun yang terjadi, Alhamdulillah dulu donk!!!
Syukuri dulu nikmat yang Allah kasih ke kita. Nikmat hidup, nikmat sehat, nikmat hidayah islam. Kenapa? Yaa kita udah dilahirkan dalam keadaan islam aja, itu udah nikmat yang gak ada harganya lah. Gak perlu lagi kan harus nyari-nyari agama atau keyakinan yang bener yang mana.
Teruuss, yakin aja kalo semua yang Allah takdirkan ke kita pasti baik. Kan Allah tidak akan menguji melebihi kemampuan hambanya, begitupun ketika Allah menempatkan kita pada suatu keadaan, pasti udah Allah ukur sesuai dengan kapasitas dan spek kita masing-masing.
Jadi dimanapun kita, mau profesi apapun juga, tinggal kitanya sendiri yang bisa memanfaatkan atau tidak. Karna ilmu Allah itu luas. Gak kebayang ma kita, cara Allah mendidik hambanya. Gak sebatas ilmu yang ada di pesantren aja.

*) Tafakkuri dosa-dosa kita yang lalu, terus minta ampun dan banyak taubat. Minta ke Allah jangan sampai dosa dan keburukan kita ini, menjadi penghalang langkah kita menuju Allah. Dan supaya Allah mau menyingkapkan seluruh hijab dan membersihkan kotoran-kotoran dari dalam diri kita.

*) Hidayah itu seperti cahaya matahari, saat kita berada di dalam rumah.
Jadi bukan Allah tidak pernah memberi hidayah, tapi kita sendiri yang kadang menutup pintu dan jendela rumah kita dari cahaya. Kita sendirilah yang membuat diri kita terhijab oleh hidayah.

*) Hidayah itu mahal.
kenapa? Karna itu bener-bener hak prerogatif Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri, yang udah mendoakan dan menasehati pamannya, gak bisa menjamin pamannya abu thalib, bisa mengucapkan syahadat diakhir hayatnya.

*) Hidayah itu harus dicari dan dikejar.
Allah tau gak niat kita pengen berubah? Nah orang yang gak punya niat aja Allah kasih hidayah, kasih jalan, masa kita yang udah punya niat pengen menuju Allah, Allah gak kasih jalan?
Yang penting lurusin dulu niat kita kalo bener-bener pengen ke Allah. Istilahnya mah yakinin Allah dengan ikhtiar kita, "Ini lho ya Allah lihat hamba bener-bener sedang berjuang menuju Engkau."

Dalam hadist qudsi, Allah sendiri berfirman:
"Jika hamba-Ku mendekati-Ku satu jengkal maka Aku akan mendekatinya satu hasta, dan jika dia mendekati-Ku satu hasta, Aku akan mendekatinya satu depa. Jika dia datang pada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berlari (HR. Bukhari)

Nah lho! Jadi hidayah harus terus diburu kan? Bukan diem aja. Sedikit ikhtiar aja kalo emang niatnya lurus, Allah sendiri yang janji bakal ngejar kita.

Jadi walopun lingkungan belum mendukung, ikhtiar tetep donk. Cari celah yang bisa kita masuki. Yang kecil-kecil, misalnya biasain dulu bangun malem. Udah bisa belum ngorbanin waktu tidur kita buat sholat malem? Mencurahkan segala masalah dan keinginan kita ke Allah. Karna tahajjud itu salah satu pintu masuknya kedekatan kita dengan Allah. Kan mustahil Allah gak denger doa dan keinginan kita. Apalagi pas sepertiga malem terakhir.

*) Hidayah itu bisa mudah hilang.
Jadi manfaatkan waktu sebaik mungkin. Jangan sampe hilang sdikitpun. Biasanya kalo udah nyante, ya bakal kebablasen. Ntar muncul penyakit yang namanya "nanti dulu lah", mau berbuat baik jadi ketunda-tunda.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: "bersegeralah beramal sebelum datangnya fitnah seperti malam yang gelap gulita. Di pagi hari seorang laki-laki dalam keadaan mukmin, lalu kafir di sore harinya. Di sore hari seorang laki-laki dalam keadaan mukmin, lalu kafir dipagi harinya. Dia menjual agamanya dengan barang kenikmatan dunia." (HR. Muslim).

*) Meminimalisir resiko kesia-siaan.
Pokoknya cari celah yang bisa jadi manfaat. Sekalipun lagi kerja, lagi di jalan, lagi maen hp, kan bisa tuh buat sambil dengerin ceramah, buat baca qur'an, baca status atau berita yang islami. dll, Pertanyakan dalam diri setiap melakukan sesuatu. Ini ada manfaatnya atau gak?

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ”Salah satu tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat.”(HR At-Tirmidzi)

Dari Ibnu Umar radhiallohu ‘anhuma beliau berkata: Rosululloh shollallohu
‘alaihi wa sallam pernah memegang kedua pundakku seraya bersabda, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir.” Ibnu Umar berkata: “Jika engkau berada di sore hari jangan menunggu datangnya pagi dan jika engkau berada pada waktu pagi hari jangan menunggu datangnya sore. Pergunakanlah masa sehatmu sebelum sakit dan masa hidupmu sebelum mati.” (HR. Bukhori)

*) Bentengi diri dengan keimanan.
Minta perlindungan, penjagaan dan pemeliharaan Allah agar kuat dan kokoh iman kita. Karna mungkin, akan ada yang bertolak belakang dengan perubahan kita, gak suka kita berubah, akan dikatain sok alim, sok suci, sok bener lah, dsb. Bukan juga memandang mereka buruk, intinya mah iman kita gak goyah, tapi tetep mendoakan kebaikan juga buat mereka.

Yang terakhir kesimpulannya, kalo kita emang bener-bener mau hijrah menuju Allah, jangan terpaku pada lingkungan yang gak mendukung, tapi bergeraklah, dari langkah-langkah kecil, dari celah waktu-waktu yang kita punya, dari kebaikan sekecil apapun yang bisa kita lakukan. Karna Allah sendiri melihat dari niat dan perjuangan kita, pengorbanan kita sekecil apapun asal kita niatkan untuk Allah, InsyaAllah, kelak Allah yang akan ngasih jalan, ngasih lingkungan, dan mempertemukan kita dengan orang-orang yang satu tujuan, yaitu sama-sama menuju Allah.

*) Pake rumus "keep calm tapi ikhtiar ngegasss".
Di hadapan manusia kita mah biasa aja, tetep aja kerja kaya biasanya. Tapi dihadapan Allah, kita sedang berjuang sekuat tenaga memperbaiki diri, menjadi hamba yang dicintai Allah. Aamiin.

So gimana? Siap buat berhijrah? Masih takut kalo Allah gak ngasih jalan?
Gak lagi kan?
Karna intinya perubahan itu dari diri kita sendiri.

".... Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri, ...." [QS. 13:11]

Selamat berhijrah ...

  • view 439