KurinduITD - MENATA KEMBALI INTEGRITAS NASIONAL MELALUI MANUSIA PANCASILA

Dhiesta Rahma
Karya Dhiesta Rahma Kategori Agama
dipublikasikan 20 November 2016
KurinduITD - MENATA KEMBALI INTEGRITAS NASIONAL MELALUI MANUSIA PANCASILA

“MENATA KEMBALI INTEGRITAS NASIONAL MELALUI MANUSIA PANCASILA”

Oleh : Dhiesta Rahma H.

 

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan wilayahnya yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, disertai pula dengan populasi penduduk yang lebih dari 258 juta jiwa tercatat pada tahun 2016 membuat Indonesia memiliki berbagai keanekaragaman mulai dari penduduknya dengan berbagai bahasa, agama, budaya, ras, dan suku bangsa hingga pada flora dan faunanya. Hal ini tercermin pada semboyan bangsa Indonesia, yakni BHINNEKA TUNGGAL IKA yang terukir pada lambang negara Indonesia, Burung Garuda. Keanekaragaman merupakan suatu hal yang tidak akan dapat lepas setiap kali kita membicarakan Indonesia. Keanekaragaman yang dimiliki bangsa Indonesia adalah harta yang tak ternilai harganya. Hal ini merupakan aset berharga yang dapat membawa Indonesia menuju peradaban yang lebih maju di waktu yang akan datang apabila terus dijaga dan dipertahankan.

Dengan banyaknya populasi penduduk dan keberagaman yang dimiliki, Indonesia memerlukan sebuah alat pemersatu yang dapat dijadikan pedoman demi terwujudnya integritas nasional sebagai wujud keutuhan bangsa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Seperti yang tertera pada UUD 1945 pasal 36A yang menyebutkan bahwa lambang negara ialah Garuda Pancasila dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika juga membuktikan bahwa setiap perbedaan di bumi Indonesia merupakan satu kesatuan utuh yang dinaungi serta dilindungi oleh Pancasila dan UUD 1945. Dengan kata lain, setiap agama hingga suku bangsa yang ada di Indonesia mendapat perlakuan, pengakuan, perlindungan serta kedudukan yang sama dihadapan hukum tanpa memerdulikan identitas sosialnya sehingga menjadikan Pancasila dan UUD 1945 sebagai alat pemersatu bangsa yang akan melindungi Indonesia dari perpecahan dan konflik yang berpotensi terjadi di tengah-tengah lapisan masyarakat. Begitu bahagia membayangkan kehidupan bangsa Indonesia apabila berjalan sesuai dengan tujuan negara Indonesia yang termaktub dalam UUD 1945. Hanya saja terkadang realita berbeda dengan apa yang kita harapkan. Ironinya meski Indonesia telah merdeka selama tujuh puluh satu tahun, diskriminasi terhadap kaum minoritas masih merupakan masalah aktual di Indonesia. Perbedaan agama atau paham agama ikut serta menjadi penyebabnya. Pebedaan yang dulunya merupakan kekayaan bagi bangsa Indonesia kini berubah makna menjadi alasan perpecahan. Konflik antar umat beragama pun masih terjadi di beberapa tempat dan mengakibatkan jatuhnya korban dengan jumlah yang tidak sedikit. Seharusnya hal ini tidak terjadi lagi mengingat dalam masa reformasi ini telah diadakan Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia. Selain itu, sejak masa Presiden Habibie hingga Susilo Bambang Yudhoyono, pemerintah telah mengeluarkan Inpres yang menghapus peraturan-peraturan pemerintah sebelumnya yang bersifat diskriminatif terhadap kebudayaan minoritas, dalam arti adat istiadat, agama, dan beberapa suku bangsa minoritas di tanah air. Lalu mengapa fenomena ini masih terjadi?

Adapun pengertian dari diskriminasi adalah perilaku menerima atau menolak seseorang semata-mata berdasarkan keanggotaannya dalam kelompok (Sears, Freedman & Peplau, 1999). Selain itu, diskriminasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2011, halaman 100) adalah pembedaan perlakuan terhadap sesama warga negara berdasarkan warna kulit, golongan, suku, agama, dll. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa diskriminasi merupakan fenomena sosial yang menimpa bangsa Indonesia saat ini dan dapat dilakukan oleh kelompok etnis, ras, agama, jenis kelamin, ideologi, dan budaya.

Sekitar 15 tahun setelah Reformasi, tingkat kekerasan dan diskriminasi telah berada dalam taraf mengkhawatirkan. Sejak tahun 1998, tercatat 2.398 kasus kekerasan yang mengebabkan lebih dari 10.000 korban jiwa. Dari kasus-kasus tersebut perlu diperhatikan bahwa kekerasan yang mendominasi adalah kekerasan yang disebabkan oleh perbedaan identitas, terutama isu agama atau paham agama dan etnis yang mengambil peran sebanyak 65% dari 2.398 kasus kekerasan yang terjadi. Artinya, mayoritas kasus diskriminasi tersebut disebabkan oleh adanya perbedaan paham agama. Parahnya, jumlah kasus diskriminasi terhadap perbedaan paham agama tersebut terus meningkat setiap tahunnya.

Berdasarkan hasil penelitian Wahid Institute, telah terjadi sekitar 34 kasus pelanggaran kebebasan beragama pada tahun 2009. Jumlah ini meningkat menjadi 63 kasus pada tahun 2010 dan naik lagi menjadi 93 kasus pada tahun 2011. Beberapa diantaranya adalah konflik yang terjadi antara Muslim versus Kristen di Maluku, antara Muslim Sunni versus Ahmadiyah di Mataram dan Cikeusik, antara Muslim Sunni dan Syiah di Sampang hingga pada aksi demo 4 November 2016 atas kasus penistaan agama yang menyebabkan satu korban jiwa dan beberapa diantaranya mengalami luka tembak. Hal ini menggambarkan bahwa anarkis sudah menjadi budaya baru di bumi Indonesia. Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah kemana perginya budaya demokasi serta kebebasan berpendapat yang dimiliki bangsa Indonesia? Bagaimana pula dengan budaya saling menghargai dan menghormati satu sama lain? Tentunya fenomena tersebut merupakan sebuah tragedi yang mengancam keutuhan dan juga identitas bangsa Indonesia saat ini.

Seperti ulasan yang penulis kutip dari seorang konsultan politik yang aktif di media sosial dan sering menulis dengan tema seputar sosial dan politik di Indonesia bahwa Air mata tak henti menetes. Hidup di pengungsian tak tertahankan. Namun jangan minta kami menyerah. Agama tak ingin kami kompromikan. Berapa lama lagi kami harus mengungsi? Terusir dari tanah kami yang syah hanya karena paham agama. Syiah di Sampang, Ahmadiyah di Mataram, Muslim di Ambon, Kristen di Poso, Kaharingan di Kalimantan Tengah, Hindu di Lampung (Denny J.A., 28 Oktober 2012). Kutipan tersebut seharusnya dapat mengingatkan kita bahwa saat ini kita, bangsa Indonesia sedang mengalami krisis rasa toleransi terhadap keanekaragaman. Salah satu buktinya adalah konflik antar agama hingga demonstrasi besar-besaran yang bahkan merenggut korban jiwa terjadi di bumi Indonesia beberapa waktu yang lalu. Jika fenomena itu terus terjadi, maka bangsa Indonesia perlahan-lahan berpotensi kehilangan nilai-nilai persatuan yang terdapat dalam Pancasila dan UUD 1945 dan pada akhirnya akan merusak persatuan dan perdamaian di bumi Indonesia. Pada kutipan tersebut beberapa kali menjelaskan tentang persoalan agama sehingga dapat dimaknai bahwa agama merupakan persoalan yang sensitif dan sangat berpotensi menciptakan konflik yang dilatarbelakangi diskriminasi. Jika hal ini terus dibiarkan terjadi, apa yang akan terjadi pada Indonesia di masa yang akan datang? Akankah Indonesia tetap berdiri utuh? Ataukah Indonesia akan terpecah belah menjadi bermacam-macam negara kecil yang berdiri masing-masing? Satu hal yang pasti adalah apabila keberagaman tetap tidak dapat diterima di dalam kehidupan bangsa Indonesia, maka Indonesia akan mengalami perpecahan dan kehancuran.

Di masa lalu, para pahlawan berjuang mati-matian untuk memperoleh kemerdekaan Indonesia sekalipun mempertaruhkan nyawa mereka. Tanpa mengenal kata takut dan menyerah, para pahlawan berani menyerahkan jiwa dan raga mereka demi negeri yang dicintainya. Para pendiri negara juga telah memilih bentuk negara kesatuan untuk menyatukan Indonesia yang beragam. Keberagaman ini meyakinkan pejuang bangsa bahwa nantinya Indonesia akan menjadi negara yang kaya dan makmur. Tapi, saat ini fakta yang ada sangat berlawanan dengan apa yang diharapkan oleh pahlawan dan juga pendiri bangsa Indonesia. Keberagaman yang dimiliki berbalik arah dan membuat bangsa Indonesia terjajah oleh diskriminasi. Kekacauan dan pertikaian terus menerus terjadi. Lalu bagaimana dengan tanggung jawab yang dimiliki oleh setiap insan bangsa untuk tetap menjaga persatuan dan kedamaian di bumi Indonesia? Apakah persatuan bangsa hanyalah mimpi yang tak dapat diraih bangsa Indonesia? Tidak, cita-cita bangsa untuk menjadikan Indonesia yang utuh dalam keberagaman bukan hanya sebuah mimpi, namun tujuan yang harus diraih bersama. Untuk mewujudkan hal tersebut, Indonesia yang beragam memerlukan kesadaran dari bangsa Indonesia itu sendiri, apapun agamanya maupun identitas sosialnya, diskriminasi merupakan suatu hal yang terlarang. Kita perlu membangkitkan kembali semangat dan rasa persatuan yang pernah dimiliki para pahlawan bangsa dahulu. Kita harus membawa bangsa Indonesia menuju masa jayanya kembali di mana hanya ada ketentraman tanpa adanya diskriminasi dan mewujudkan cita-cita dan mimpi para pejuang bangsa dengan mempertahankan integritas nasional dalam mempersatukan dan menjaga perdamaian di bumi Indonesia.

Dengan meningkatnya kasus berlatarbelakang diskriminasi ini, selain membutuhkan kesadaran dari bangsa Indonesia juga menuntut pemerintah untuk segera dapat mengambil langkah ataupun kebijakan yang mampu mengatasi permasalahan ini. Untuk itu, hal yang perlu dimiliki oleh pemerintah adalah sebuah komitmen, yaitu kepemimpinan, bukan hanya sekadar menduduki jabatan tertentu dan memerintah orang sesuka hati. Fakta ini memberikan pembelajaran bagi generasi masa kini dan mendatang bahwa kepemimpinan bukanlah sebuah aktivitas yang semata-mata berhubungan dengan setelan jas atau penampilan yang rapi layaknya CEO ternama. Kepemimpinan yang baik adalah ketika dapat menyalakan kembali jiwa dan semangat serta kemampuan untuk menyatukan, memotivasi, dan menggerakkan rakyatnya.

Demi terwujudnya Indonesia tanpa diskriminasi, bangsa Indonesia juga dapat mengambil pembelajaran dari pengalaman negara lain seperti Amerika dan Eropa dalam menghapus diskriminasi. Salah satu contohnya adalah fenomena penganut Katolik dan Protestan yang hidup damai berdampingan setelah berperang ratusan tahun yang menelan korban tewas jutaan orang. Banyak elemen yang menjadi penggerak perjuangan antidiskriminasi tersebut dan telah banyak pula mereka membangun infrastruktur sosial sebagai fondasi yang kuat untuk menganggap bahwa setiap manusia sama tanpa peduli etnik maupun agama mereka.

Setelah memahami pembelajaran dari pengalaman negara lain dalam memerangi diskriminasi, kita dapat memulai upaya menghilangkan diskriminasi di bumi Indonesia. Layaknya sebuah bangunan agar dapat berdiri kokoh maka diperlukan fondasi yang juga kokoh dan kuat untuk membantu menopang bangunan tersebut untuk tetap berdiri tegak, begitu pula dengan Indonesia. Untuk memerangi diskriminasi yang ada, perlu dibangun kembali rasa persatuan bangsa Indonesia untuk mewujudkan integritas nasional sebagimana seharusnya. Banyak hal yang dapat dilakukan dengan tujuan untuk membangun kembali rasa persatuan bangsa. Salah satunya adalah dengan mengadakan suatu kegiatan yang melibatkan dimana seluruh warga negara Indonesia yang berminat dapat turut berpartisipasi tanpa terkecuali. Misalnya diadakan pagelaran seni ataupun pameran seni, baik seni musik, tari, lukis, dan lain-lain yang melibatkan berbagai etnis maupun agama tanpa adanya ketimpangan sosial dalam kegiatan tersebut. Diharapkan dalam kegiatan tersebut warga negara yang berbeda agama akan saling berinteraksi dalam konteks yang positif tanpa memandang perbedaan agama mereka. Selain itu, rasa kebersamaan dan persatuan juga dapat dibangun sejak masa sekolah. Misalnya menghapus keberadaan sekolah khusus agama tertentu sehingga siswa yang berbeda agama akan berbaur selama jam sekolah dan hal itu akan melatih mereka untuk berinteraksi satu sama lain sehingga akan meningkatkan rasa kebersamaan dan persatuan. Tentunya hal ini juga harus didukung oleh beberapa faktor lain. Faktor tersebut diantaranya setiap mata pelajaran agama mendapat fasilitas yang mendukung pembelajaran di sekolah seperti ruang agama, guru pembimbing, dan lain sebagainya dengan syarat tidak ada ketimpangan dalam setiap fasilitas yang disediakan. Contoh upaya lain yang dapat dilakukan adalah menciptakan sebuah komunitas Indonesia antidiskriminasi yang terdiri atas orang-orang yang memiliki etnis dan agama yang berbeda dan memiliki visi atau tujuan yang sama, yaitu untuk menciptakan Indonesia tanpa diskriminasi. Metode yang dapat dilakukan komunitas inipun tergantung kepada kreativitas anggota komunitas tersebut dalam menyerukan semangat persatuan. Upaya-upaya yang dapat dilakukan misalnya melalui melalui karya sastra yang menggambarkan betapa pentingnya persatuan bangsa, aksi peduli antidiskriminasi seperti mengadakan sosialisasi pentingnya saling menghargai dan menghormati sesama, dan masih banyak lagi. Dalam keluargapun orang tua dapat menanamkan pentingnya menghargai dan menghormati perbedaan kepada si kecil. Selain itu, kepada sang buah hati juga diajarkan bahwa sudah sepantasnya setiap warga negara Indonesia mencintai keberagaman yang dimiliki Indonesia sehingga di masa depan akan terbentuk pribadi yang memiliki semangat persatuan yang mencintai tanah airnya serta akan membawa Indonesia menuju masa keemasaannya tanpa diskriminasi.

Seperti yang penulis kutip dari Denny Januar Ali yang mengatakan bahwa “kamu mungkin berhasil menyebarkan teror tapi kamu tak pernah bisa menghapus warna warni indonesia", sehingga dapat ditarik makna bahwa bangsa Indonesia perlu merakit kembali pola pikir yang sedikit keliru mengenai perbedaan yang ada. “Kamu” yang dimaksud oleh Denny Januar Ali atau yang kerap disapa Denny J.A. ini tidak lain merupakan diskriminasi itu sendiri. Diskriminasi yang berpotensi memecah belah bangsa Indonesia, namun pecayalah bangsa Indonesia akan terbebas dari diskriminasi apabila terjalin jiwa kebersamaan dan menghilangkan segala niat maupun pikiran negatif mengenai perbedaan yang kita miliki. Seluruh proses yang akan ditempuh bangsa Indonesia untuk mewujudkan Indonesia tanpa diskriminasi tidak akan mudah sehingga setiap proses yang terjadi akan memberikan warna tersendiri bagi sejarah Indonesia nantinya.

Ingatlah bahwa kita adalah bangsa Indonesia, golongan manusia yang terikat oleh identitas seni dan budaya, penuh dengan keberagaman dengan perekat unsur ketuhanan karena keberagaman ada atas kehendak Sang Pencipta. Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang memiliki integritas dengan pedoman yang mampu menyeragamkan pandangannya, Pancasila. Kita adalah manusia pancasila yang tak pernah takut mempertahankan haknya dengan generasi anti diskriminasi, anti kekerasan, generasi hebat yang membangun bangsa. Kita adalah manusia pancasila yang berpegang teguh untuk menyelaraskan pandangannya, bersatu demi Indonesia jaya. Maka dari itu mulailah merevolusi pemikiran bangsa ini, bangsa Indonesia tidak akan mengizinkan tanah air ini diinjak-injak oleh perbedaan. Perbedaan yang ada merupakan kekayaan bangsa yang harus senantiasa kita jaga dan pelihara dengan segenap jiwa dan raga.

Bangsa Indonesia akan berjalan beriringan menuju Indonesia jaya suatu hari nanti, di saat pada bumi Indonesia tak lagi terjadi diskriminasi. Kesadaran mengenai pentingnya persamaan hak seluruh warga Indonesia tanpa adanya ketimpangan sangat diperlukan demi terjaganya keutuhan bangsa Indonesia sehingga Indonesia tanpa diskriminasi bukan hanya mimpi atau angan-angan belaka, melainkan salah satu tujuan bangsa yang harus kita raih bersama. Demi terwujudnya kembali integritas nasional dan juga negara Indonesia tanpa diskriminasi. Semoga***

 

DAFTAR PUSTAKA

 

   Santoso Az, Lukman. PARA MARTIR REVOLUSI DUNIA. 2014. Jakarta Selatan: Penerbit Palapa

      Januar Ali, Denny. Menjadi Indonesia Tanpa Diskriminasi Data, Teori, dan Solusi. 2014. Jakarta: Inspirasi.co

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Indonesia

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Denny_Januar_Ali

www.psikologiku.com/pengertian-diskriminasi-menurut-para-ahli-dan-contohnya/

Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: 2011

  • view 417