Bola Kristal

Widi Yulianti
Karya Widi Yulianti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 29 Agustus 2016
Bola Kristal

Sejak lama aku berharap bisa keluar dari ruang itu. Sebuah ruang dengan pantulan kristal yang berkilauan jika terkena cahaya. Ruang yang kerap membuatku merasa asing dengan spektrum warna yang dimilikinya. Untung saja ada sepasang mata indah yang mampu menghiburku. Sepasang mata yang bulat, besar, berkilau. Sepasang mata yang dilindungi bulu mata lentik yang berbaris dengan rapi seperti milik bidadari. Tatapan matanya yang seteduh bidadari itu yang selalu menjadi penyelamatku.

*

                Setiap hari perempuan itu selalu menghampiriku. Memandangiku dengan kegembiraan yang terpancar dari matanya. Seketika itu juga dia membagi kebahagiaannya denganku. Aku suka melihat rona bahagia yang terlukis di wajah bidadarinya. Tapi terkadang, dia datang kepadaku dengan wajah yang muram. Seolah kelam mewarnai harinya. Aku tidak tahu kenapa dia bersedih. Dia tidak pernah mau berbagi cerita padaku. Bila sudah begitu, aku akan berputar-putar sejenak untuk menghilangkan kedukaan di benaknya. Dia sangat suka melihatku berputar. Senyum akan mengembang setelah itu. Melihatnya tersenyum, aku merasa sempurna. Ingin sekali aku berbisik di telinganya dan mengatakan jangan bersedih lagi karena aku selalu ada untuknya.

                Kami hanya berbicara melalui pandangan mata. Tapi, sesekali kami bertukar bahasa lewat senyuman. Hanya itulah yang bisa kami bagi. Sebenarnya, aku berharap bisa melakukan sesuatu yang lebih. Berbicara kepadanya. Ah, pasti akan sangat menyenangkan jika bisa berbincang dengannya. Apalagi jika bisa menyatakan semua rasa yang selama ini bersemayam di hati. Rasa itu hanya tertumpuk dan menanti saat bisa ditumpahkan seperti air di dalam bendungan yang rindu mengaliri anak-anak sungai.

                Sayang, aku hanya bisa menatap matanya. Bermain-main dengan keindahannya. Memuji dalam hati karena keindahan nyata telah mewujud di hadapanku. Aku hanya bisa merindukan bayangannya. Menikmati wajah teduh bidadari yang dihiasi sepasang mata nan cemerlang.

Hari demi hari aku berusaha menyusun keberanian. Aku tidak mau selamanya hanya terkurung dalam keindahan bola matanya. Aku tidak mau tersiksa lagi. Hanya memandang tanpa bicara. Hanya menanti tanpa melangkah. Tanpa berani memperjuangkan perasaanku. Tidak ada yang lebih pengecut daripada seorang pecinta yang memendam rasa cinta sampai mati. Aku tidak mau semalang itu. Aku bukan orang yang malang.

Hari itu, sudah kuputuskan untuk mengungkapkan rasa yang terpendam. Aku menunggunya datang karena aku tidak bisa menghampirinya terlebih dulu. Debaran jantungku tidak menentu saat dia berjalan semakin dekat. Irama jantungku menjelma menjadi fibrilasi atrium (kondisi yang terjadi ketika detak jantung tidak teratur dan tingkat kontraksi jantung meningkat). Tapi, aku tidak mau kalah lagi kali ini. Aku mencoba merangkai kata terbaik untuk memenangkan hatinya sebelum dia berdiri di depanku dan menyiksaku dengan tatapan bidadarinya. “Ini saatnya,” batinku.

Seperti biasa, dia datang kepadaku dengan pandangan mata yang indah membius jiwa. Saat itu, wajah bidadarinya terlihat sangat sumringah. Entah apa yang membuatnya lebih ceria sehingga tampak lebih mempesona. Kebahagiaan tidak hanya terpancar dari kedua matanya tetapi dari seluruh tubuhnya. Menguar begitu saja. Aku semakin terjerat dengan keindahannya. Pandangan mata kami akhirnya kembali bertemu. Aku menghela napas sejenak dan berusaha membuka mulutku. Mengeluarkan semua keberanian yang sudah aku pupuk sedari tadi. Tiba-tiba sayup kudengar ada suara yang memanggil namanya. Perempuan itu menoleh ke asal suara.

Suara itu menjelma menjadi seorang lelaki berwajah tirus. Perempuan itu memperkenalkan aku kepada sang lelaki. Kedua mata lelaki itu memandangiku dengan penuh curiga. Dia mengamatiku lekat-lekat. Seperti seorang pencemburu. Ah, betapa menyebalkan!

Aku tersenyum kikuk. Jujur, aku takut kalau kedua matanya yang tajam menangkap semua rasa yang aku simpan kepada perempuan itu. Pandangannya kini berubah seperti mengejek. Aku benci ditatap seperti itu. Aku harap perempuan itu membelaku dan memintanya untuk tidak lagi menatapku. Namun, dia malah tertawa melihat tatapan lelaki itu kepadaku. Mereka tertawa dengan sangat bahagia. Aku masih ingat bagaimana tawa itu akhirnya meruntuhkan keberanianku.

Aku kalah! Aku sudah kalah! Aku mematung namun kedua mataku tetap tertuju pada perempuan itu. Aku bisa melihat kebahagiaan ketika lelaki berwajah tirus mengecup keningnya. Segaris senyum indah menghiasi bibir mereka setelah itu. Perlahan, mereka berjalan menjauhiku. Meninggalkan aku sendirian dengan rasa campur aduk yang berkecamuk di dada. Aku mulai menyesali ketakutanku yang dibiarkan hidup sedari dulu.

Kehilangan mengajarkanku untuk semakin mengenali dan menerima duniaku. Aku mulai memandangi ruang yang membosankan. Bola kristal yang menaungi duniaku. Aku berusaha mencari sesuatu yang dapat menghapuskan duka ini. Nihil. Seberkas sinar dari lampu yang menggantung di langit-langit menyapaku. Sinar itu berubah menjadi kilau yang memantul-mantul di atas bola kristal. Ingin aku pecahkan bola kristal ini lalu berlari sejauh mungkin. Sayang, aku tidak sekuat itu.

Sunyi sepi duniaku. Aku hanya seorang diri terkurung di dunia ini. Berdiri tegak di sebuah batu di tengah hamparan salju. Hanya sebuah pohon pinus dan rumah kayu mungil temanku. Sungguh, aku ingin menangis. Tapi kata orang, lelaki sejati tidak pernah mengeluarkan air matanya untuk seorang perempuan. Ah, persetan dengan semua itu! Aku rasakan tetesan air membasahi kedua pipiku. Aku telah kehilangan sosok yang pertama mengenalkanku pada sebuah rasa. Sosok yang pertama mengeluarkan aku dari kegelapan yang mengurungku. Sosok yang pertama memutar jantungku sehingga aku berputar-putar ceria dengan iringan musik yang akan berhenti saat sekrup sudah enggan berdenting. Sungguh ilusi bola kristal ini telah mempermainkanku.