Perempuan Perangkai Mimpi

Widi Yulianti
Karya Widi Yulianti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 20 Agustus 2016
Perempuan Perangkai Mimpi

Bulan merah darah bersinar terang laksana bohlam raksasa yang menyilaukan mata. Sinarnya yang kemerahan mengusir wajah pucat yang selalu memantulkan siluet ibu sedang menggendong anak, berganti bayangan bercak darah yang terpantul di setiap jengkal tanah Gunung Olduvai Lengai. Bias rembulan semerah darah menembus pepohonan tua yang akar dan daunnya saling jalin menjalin seolah membentuk dunia asing. Sebuah dunia berselimut kabut pekat. Kabut yang mengusir orang-orang penakut untuk menapaki Olduvai Lengai yang dipercaya sebagai rumah bagi para arwah. Tempat di mana kehidupan kekal disusun.  

Joshua berjalan di bawah naungan sinar bulan yang menebarkan aura misterius ke penjuru Olduvai Lengai. Sesekali dia mengatur napas untuk mengusir penat dan keraguan yang sedari tadi bersarang di tubuhnya. Sudah seharian ini tubuh ringkihnya menapaki Olduvai Lengai demi mencapai persemayaman Perempuan Perangkai Mimpi. Perempuan itu dipercaya tinggal di Pohon Baobab terakhir sebelum mencapai puncak Olduvai Lengai. Kisah Perempuan Perangkai Mimpi sebetulnya sudah hilang sejak para penyebar agama menyentuh daratan Tanzania. Namun, kisah itu tetap hidup dalam benak Joshua yang sejak kecil memberi tempat di hatinya bagi kisah-kisah legenda. Hari itu, dengan bantuan tongkat lusuhnya, Joshua memberanikan diri mendaki Olduvai Lengai. Sesuatu yang bukanlah perkara mudah bagi penderita Congenital Tapalipes Equino Varus (CTEV), kelainan otot kaki dimana kaki memanjang tidak sama antara bagian belakang dan depan sehingga harus mengandalkan mata kakinya untuk berjalan.

Orang-orang di desanya menyebut kelainan itu sebagai kutukan. Orang-orang terkutuk menurut mereka harus diberikan nama. Mereka memanggilnya Si Pincang. Orang-orang terkutuk harus diperlakukan dengan tidak adil karena membawa sial ke dunia. Agar terhindar dari kutukan, mereka sering melempari Joshua dengan batu. Olok-olokan itu membuat Joshua semakin membenci dirinya. Kebencian itu menggunung setiap hari. Dia sering bertanya mengapa harus tercipta di dunia. Kaki yang pincang, tanda hitam sebesar telapak tangan di wajahnya, dan kemiskinan menjadi keluhannya setiap hari. Joshua selalu berpikir mungkin Sang Maha Agung sedang muram ketika menciptakannya sehingga lupa bagaimana membentuk kaki dan wajah yang sempurna. Dia juga lupa menaruhnya di rahim perempuan kaya. 

Perempuan Perangkai Mimpi menjadi harapannya untuk memaki hidup. Perempuan itu tercipta dari kisah yang dihidupkan ribuan tahun lalu. Tetapi sebenarnya, mungkin perempuan itu tercipta dari keinginan orang-orang yang menyerah kepada kehidupan. Orang-orang yang memandang hidup sebagai perjalanan palsu sehingga melupakan makna berjuang. Joshua percaya dengan kekuatan semesta. Ada ruang di semesta yang menawarkan kekuatan bagi mereka yang lemah. Kali ini, Joshua ingin menguji seberapa besar kekuatan dari dunia asing. Dunia yang berkabut yang menjadi rahasia Olduvai Lengai.

Joshua meletakkan tongkat lusuhnya di tanah lalu menyandarkan tubuh ringkihnya ke Pohon Baobab kramat. Bibir tebalnya merapal mantra pemanggil Perempuan Perangkai Mimpi. Mantra itu diajarkan seorang peramal desa kepadanya. Peramal itu juga yang menyuruhnya mendaki Olduvai Lengai ketika bulan merah darah. “Saat bulan merah darah, kekuatan semesta berada di puncaknya dan kau bisa memanggil siapapun dari masa lalu,” peramal itu berujar.

Joshua menutup kedua matanya sementara bibirnya terus merapal mantra. Tiba-tiba, angin kencang berhembus mengguncang dedaunan. Seorang perempuan dengan Shuka (kain tradisional Masaai) muncul di hadapannya. Kulit perempuan itu hitam namun berkilatan di bawah sinar rembulan yang semakin memerah. Rambut keritingnya yang terkepang berhiaskan manik-manik Suku Masaai. Perempuan itu terlihat cantik meski tanpa bola mata.

‘’Kenapa kau memanggilku?’’ perempuan itu bersuara. Joshua membuka kedua mata yang sedari tadi ditutupnya rapat-rapat. Bibir tipis Joshua melengkungkan senyum yang memancarkan kebahagiaan. Dia yakin keinginannya bisa diwujudkan perempuan itu. Tanpa takut karena sudah memanggil sesuatu dari dimensi lain.

Sejenak, pikiran Joshua melayang pada legenda Perempuan Perangkai Mimpi yang dikisahkan sebagai putri seorang penguasa gaib Olduvai Lengai. Sang putri jatuh cinta kepada seorang lelaki manusia. Namun, asmaranya terhalang karena manusia dan sesuatu yang bukan berasal dari dunia kasat mata tidak boleh bersanding. Begitu aturan semesta. Jika dilanggar, akan terlahir ketidakseimbangan yang mengacaukan dua alam. Perempuan yang dimabuk cinta itu memilih memanfaatkan mimpi untuk menjalin kasih dengan lelaki pilihannya. Sayangnya, perempuan itu tidak mengetahui jika mimpi memiliki jiwa. Ketika asyik bermain dengan mimpi, sang mimpi mempermainkannya. Mengurungnya dalam dimensi mimpi hingga pada suatu hari perempuan itu bermimpi memberikan kedua bola matanya yang indah kepada sang kekasih sebagai bukti cinta mereka.

Angin dingin yang menyapu wajahnya melenyapkan lamunan Joshua akan kisah masa lalu. Lelaki itu pun menceritakan semua keinginan sekaligus keluhannya. Perempuan itu berjanji akan memenuhi permintaan Joshua asalkan dia mau memberikan jiwanya.

Keesokan pagi, Joshua kembali ke desanya. Sejak saat itu, Perempuan Perangkai Mimpi mempengaruhi mimpi setiap orang sehingga keesokan pagi ketika terbangun mereka memandang Joshua dengan sikap berbeda. Tidak ada lagi si manusia terkutuk. Kini, yang ada hanya Joshua yang berwajah sempurna, gagah, dan dapat berjalan tegak. Perempuan Perangkai Mimpi juga mengusik akal budi setiap orang sehingga sudi memberikan pekerjaan yang layak bagi lelaki itu. Joshua menjelma sebagai lelaki terhormat. Perlahan, kehidupan berpihak kepada lelaki itu. Namun, hatinya tahu itu hanya kehidupan palsu.

Bulan kembali berwarna merah darah. Sama seperti sepuluh tahun lalu ketika dia menginjakkan kaki untuk pertama kali di Olduvai Lengai. Kali ini kecemasan dan ketakutan menyatu dalam aliran darahnya. Ada ketidakrelaan di sorot matanya yang letih. Namun, dia tidak bisa mengulang waktu. Angin kencang berhembus menusuk tulang pemuda itu. Tiba-tiba sekumpulan asap muncul di hadapannya. Seorang perempuan bermata bolong menyunggingkan senyum terbaiknya. Perempuan itu mengulurkan kedua tangannya menjemput si pemuda. Bersama dengan lolongan serigala yang kian kencang, pemuda itu hilang bersama sang perempuan.

  • view 214