Menjadi Istri (2)

Dhanika Prd
Karya Dhanika Prd Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 28 Oktober 2016
Menjadi Istri (2)

Sebelum saya menikah, saya pernah mendengarkan tausiyah. Ustadah yang mengisi tausiyah tersebut mengatakan bahwa sesungguhnya wanita itu jauh lebih kuat dari laki-laki, lebih tidak mudah lelah dibanding laki-laki. "Coba bayangkan, seorang laki-laki kalau misal sepulang kerja capek, ya sudah inginnya istirahat, tiduran. Tapi tidak dengan wanita, meskipun sama-sama bekerja namun ketika sampai rumah, kita sebagai istri masih kuat bila harus menyiapkan makan malam, lalu cuci piring setelahnya. Belum lagi kalau ada makanan yang bercecer, kita pulalah yang membersihkan. Memangnya mau siapa lagi?" 

Karena pada saat itu, posisi saya belum menikah. Ya saya anggap biasa aja. Saya masih terlalu sombong kalau suami saya kelak adalah orang yang mau diajak bekerja sama untuk urusan kebersihan rumah. 

Dan jeng jeng, ketika menikah saya mulai merasakan apa yang disampaikan ustadah pada tausiyah tersebut. Awal menikah suami saya masih mau lah bagian cuci piring setelah makan. Suami saya masih mau lah dimintai tolong jemur pakaian setelah dicuci. Tapi entah mengapa lambat laun, hampir semua pekerjaan rumah saya yang kerjakan, yaaaa alhamdulillah beliau masih mau lah bantu sekali-kali, hahahaha

Ketika kami sama-sama bekerja, kami berangkat sangat pagi karena kantor suami jauh dan bila terlambat sedikit saja maka kami akan terjebak macet yang luar biasa. Lalu pulang juga sudah petang. Saya sangat paham bila suami saya mengeluh capek, lelah, lemes, dan lain-lainnya. Sehingga sepulang kantor beliau inginnya tiduran, peluk-pelukan,  nonton film, dan lain-lain. Unyu ya? hahaha. Tampaknya sih begitu, tapi kalau setiap hari begitu, lalu siapa yang akan membereskan rumah dengan segala debunya. 

Dengan alasan itu, yang awalnya saya bekerja full time, tetapi makin lama pekerjaan di rumah makin membludak rasanya, energi dan konsentrasi saya terpecah. Belum lagi saya mempunya manajemen waktu yang kurang baik. Akhirnya kami berdua memutuskan agar saya menjadi pegawai freelance. Nggak masalah sih buat saya, karena saya merasa peran utama saya adalah sebagai istri bukan sebagai karyawan. 

Keputusan menjadi pegawai freelance awalnya menjadi berita menggembirakan. Bagaimana tidak? Saya bisa memiliki me-time selagi suami berada di kantor. Ternyata itu hanyalah angan-angan semu. Pekerjaan rumah rasanya memang tidak ada habisnya, dari urusan memasak sarapan-makan siang-makan malam, menyapu, mengepel, cuci piring, cuci baju, jemur baju, angkat jemuran, kasih makan hewan peliharaan, bersihkan pupup hewan peliharaan, semuanya saya. Belum lagi kalau suami datang, harus menyiapkan minum, masakkan sudah harus siap, baju ganti sudah diambilkan, dan lain-lain. 

Itu suami saya yang mengharuskan seperti itu? Engga lah! Suami saya bukan penjajah belanda yang membuat saya harus kerja rodi. Saya sadar diri, saya ini istri, tugas saya mencari ridho suami, biar besok bisa dapet tiket terusan ke surga dari ridho suami. Saya berusaha melayani suami semaksimal mungkin, meskipun saya merasa ini masih jauh dari sempurna. Tapi alhamdulillah suami saya sangat pengertian. Artinya, ya kalau saya nggak sempet masak, ya beli aja; kalau capek nyapu sekarang ya besok aja; tapi sekali lagi saya ingin sadar diri. 

Makanya, makin ke sini makin sungkan kalau beres-beres rumah di depan beliau, karena beliau nggak suka lihat saya kerja sendiri, tapi juga nggak kuat kalau harus bantu. Beliau benci kalau lihat saya kecapekan. Makanya saya lebih memilih beres-beres rumah kalau suami lagi nggak di rumah. Dan alasan selanjutnya, biar saya nggak mangkel juga, kalau saya beres-beres sementara beliau enak-enakan nonton youtube, hahaha! 

Kan saya sudah bilang, saya ini cuma istri biasa, bukan malaikat. Kalau ada kejadian saya sibuk beberes rumah sementara suami nonton/ main game ya bisa aja saya ini gondok atau sebel. Nah, kalau sudah gini yang saya inget dua: yang pertama, isi tausiyah yang mengatakan bahwa wanita itu lebih kuat, jujur ini memotivasi saya; dan yang kedua, ini sangat memotivasi, yaitu tiket terusan ke surga. InsyaAllah. 

Gambar diambil dari sini.

Dilihat 207