Menjadi Istri

Dhanika Prd
Karya Dhanika Prd Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 26 Oktober 2016
Menjadi Istri

Duhai para suami.

Ketika istrimu meminta sesuatu hal, sesepele apa pun itu dengarkan lah. Kalau punya rejeki lebih, boleh lah dipenuhi. Jangan sampai ada pikiran, “Yaudah sih, kamu kan juga sudah ku kasih duit, beli sendiri lah.” atau “Nggak usah lah nunggu aku, kan berangkat sendiri bisa?”

Bukan masalah bisa berangkat sendiri atau bisa belanja pakai uang sendiri. Tapi ada nilai lain yang bernama kepedulian dan kebahagiaan. Buat saya, kebahagiaan tersendiri bila tiba-tiba suami saya pulang kerja membelikan saya martabak. Buat saya, ada nilai kepedulian yang tersampaikan ketika suatu ketika suami mengantar saya untuk membeli sesuatu yang saya inginkan. Rasanya, lelah setelah bertarung dengan debu-debu di rumah hilang seketika.

Mungkin beberapa laki-laki melakukan itu ketika pendekatan, pacaran, tapi ketika menikah lambat laun menghilang. pikirnya, “halah, udah nikah ini ngapain pake begituan?” lho justru karena sudah menikah lah, maka perlakukan istrimu layaknya ratu.

ketika pacaran sering kali memberikan bunga pada pasangannya, namun ketika menikah justru makin jarang memberi bunga. Alasannya klasik, nggak ada momen penting. Lho, kami memasak juga nggak harus nunggu momen penting kan? Kenapa? Masak jadi kewajiban kami? Bukannya membahagiakan istri juga menjadi kewajibanmu?

Percayalah, ada buncah kebahagiaan tersendiri bagi kami, para istri, bila suami bisa peduli pada kami.

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sebaik-baiknya kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya” (HR Tirmidzi)

Gambar diambil dari sini

  • view 178