Seberapa Pantas?

Dhanika Prd
Karya Dhanika Prd Kategori Inspiratif
dipublikasikan 13 Juni 2016
Seberapa Pantas?

Saya selalu merasa bahwa saya ini adalah manusia yang selalu terlambat dibanding dengan orang-orang di sekitar saya. Perasaan ini semakin menguat ketika saya berada di semester akhir kuliah. Teman-teman saya mulai menyusun BAB per BAB skripsi, sementara saya baru mulai mengulang nilai D-E agar IPK saya nggak buruk-buruk amat.

Teman-teman saya mulai menjalani sidang dan wisuda, sementara saya masih ngglibet cari judul untuk skripsi saya. Teman-teman saya mulai bercerita susahnya cari kerja, sementara saya masih bercerita susahnya cari jadwal dosen pembimbing.

Teman-teman saya mulai check-in di tempat kerjanya yang baru dengan caption ‘Bismillah’, sementara saya baru mulai menghadiri job fair.

Orang di sekitar saya mulai pamer foto pre-wedding bahkan wedding-nya. Saya masih gontok-gontokan dengan pacar saya mau makan di mana dan saya menjawab terserah.

Teman-teman saya mulai pamer foto sonogram their first baby, sekalinya saya sonogram mau melihat diameter kista yang ada di rahim saya. They took baby bump picture, what I had is kista bump.

Teman-teman saya sudah menikmati jalan-jalan dan upload foto dengan anaknya, saya masih berkutat foto hewan peliharaan saya.

Berkali-kali saya berusaha mengejar keterlambatan, berkali-kali pula saya merasa tertinggal.  

Dan berkali-kali saya mempertanyakan ‘mengapa?’ dan jawabannya,

“...karena Allah masih sayang sama saya...”

Dan saya justru mempertanyakan kasih sayang allah dengan kurangnya bersyukur. Kurang bersyukur sudah diberi kesempatan kuliah di jurusan yang disenangi, di mana teman-teman lain masih ada yang kuliah dengan terpaksa. Kurang bersyukur karena dosen pembimbing saya adalah orang hebat sehingga sebenarnya saya bisa mengambil banyak pelajaran dari beliau. Kurang bersyukur ketika diberi penyakit, karena bisa saja penyakit itu dikirimkan untuk menggugurkan dosa-dosa saya. Kurang bersyukur ada orang-orang sekitar lain yang nggak pernah mempertanyakaan status keduniawian saya. Kurang bersyukur memiliki ibu, suami, adek, dan orang-orang yang selalu mendoakan yang terbaik untuk saya. Kurang bersyukur memiliki allah yang maha segalanya.

At the end, hidup ini bukanlah perlombaan untuk mengejar duniawi. Kalau pun ada perlombaan adalah tentang kita dengan iman kita. Seberapa tangguh kita menghadapi jaman kita, seberapa sabar kita menghadapi cobaan kita. Seberapa pantas kita bertempat-tinggal di Jannah-Nya.

Gambar dari sini