Inteligensi Embun Pagi (Review)

Dhanang Adi
Karya Dhanang Adi Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 08 Maret 2016
Inteligensi Embun Pagi (Review)

Sebelumnya mohon maaf ya kalau ternyata ada yang sudah pernah posting review buku IEP disini....

?

Setelah 15 tahun, serial Supernova akhirnya sampai pada buku keenam berjudul ?Inteligensi Embun Pagi? (IEP) yang merupakan episode terakhir. Kurun waktu yang rasanya cukup lama bagi mereka yang mengikuti Supernova sejak awal kemunculannya. Saya sendiri baru mulai membaca Supernova saat terbit buku keempatnya (Partikel). Tentu saja, sebelum membaca ?Partikel?, saya mesti marathon membaca tiga seri terdahulunya ; KPBJ, Akar, dan Petir. Dilanjut kemudian ?Gelombang?, dan yang terakhir ?IEP? ini.

Oke, langsung saja membahas buku IEP. Karena ini merupakan buku pamungkas, yang ada di benak saya adalah para tokoh utama di buku-buku sebelumnya akan berkumpul menjadi satu. Diva, Bodhi, Elektra, Zarah, Alfa, plus Gio yang selalu muncul di setiap edisi Supernova. Sudah kebayang bagaimana serunya jika tokoh-tokoh dengan kelebihannya masing-masing bakal muncul bersama. Sayangnya tidak demikian. Diva, tokoh sentral di Supernova pertama justru sangat minim diceritakan. Bisa dibilang kemunculannya antara ada dan tiada di IEP ini. Padahal mungkin saja banyak pembaca yang merindukan sosoknya karena dialah tokoh yang paling lama tidak muncul secara penuh.

Sebelum hadirnya IEP, saya tidak terlalu hafal secara detail tentang semua tokoh yang pernah muncul di Supernova. Di beberapa alur cerita pun saya kurang menangkap maksudnya. Misalnya saja di buku ?Gelombang?. Di akhir cerita muncul tokoh ?Kell?. Saya waktu itu membatin kayaknya Kell pernah muncul di buku Supernova sebelumnya deh. Antara yakin dan tidak yakin, saya menebak Kell adalah salah satu tokoh di ?Akar?. Nah, di IEP ini menjawab berbagai keraguan saya soal para tokoh dan alur cerita yang telah saya lupakan ataupun kurang saya pahami sebelumnya. Tidak hanya Kell. Ternyata ada beberapa nama lain yang muncul di lebih dari satu judul Supernova namun tidak saya sadari.

Garis besar cerita Supernova adalah tentang sekelompok orang dari masa lalu yang disebut sebagai Peretas. Mereka datang untuk menjalankan sebuah misi di bumi. Jujur saja, sampai sekarang saya belum mengerti sepenuhnya apa sebenarnya misi mereka turun ke bumi. Lho? Misi itu tidak mudah karena mereka selalu diburu oleh Sarvara, sebuah kelompok jahat yang juga mempunyai misi tersendiri. Para Peretas dibantu oleh para Infiltran untuk menjalankan misinya sekaligus melawan Sarvara. Di dalam Supernova ada kelompok Peretas, Infiltran, dan Sarvara. Belum termasuk manusia-manusia biasa di luar kelompok-kelompok itu. Bisa dipastikan, tokoh dalam keseluruhan cerita Supernova akan berjumlah banyak. Sang penulis mesti bekerja keras untuk menempatkan tokoh-tokohnya secara tepat agar alur cerita tetap enak dinikmati. Saya biasanya menyukai cerita yang jumlah tokoh utamanya lumayan banyak serta kaya karakter. Keragaman itulah yang membuat cerita makin menarik. Namun di IEP ini, permainan karakter para tokoh utamanya menurut saya terlalu acak, kurang fokus.

Pertama, tokoh Diva yang sangat menggebrak di KPBJ ternyata nyaris tidak ada gaungnya di IEP ini. Cerita tentang Diva seakan berakhir di episode pertama, berbeda dengan tokoh-tokoh utama lain yang ceritanya tetap berlanjut sampai ke IEP. Lantas karakter Infiltran, dari awal hingga akhir cerita, keberadaannya sangat dominan bersanding dengan para Peretas. Berbeda dengan buku-buku sebelumnya yang terasa jelas mana peran utama dan mana peran pendukung. Keterlibatan Infiltran dalam cerita IEP terlalu banyak, seolah sejajar dengan para Peretas sebagai tokoh utama cerita. Ada pula tokoh yang di buku sebelumnya hanyalah orang biasa, mendadak menjadi tokoh yang sangat vital di IEP. Saya bahkan tidak ingat pernah ada orang ini di buku sebelumnya. Ah, mungkin memang saya saja yang terlalu pelupa. Perubahan dari orang biasa sampai akhirnya ketahuan menjadi Peretas penting menurut saya terlalu drastis. Mungkin sengaja diceritakan demikian oleh penulisnya agar jalan ceritanya tidak mudah tertebak. Tapi bagi saya jadinya agak aneh. Entahlah. Selera orang berbeda-beda dalam menanggapi sebuah cerita.

Terlepas dari yang saya kemukakan di atas, IEP tetaplah menjadi sebuah karya yang saya sukai. Kriteria saya tidaklah macam-macam. Selama saya bisa menyelesaikan membaca dengan cepat, ataupun ingin segera menyelesaikannya, berarti karya tersebut berhasil bagi saya. Rata-rata saya menyelesaikan bacaan selama seminggu, atau terkadang bahkan sampai sebulan. Yang pasti tergantung jalan ceritanya. Semakin saya tidak tertarik, akan semakin lama pula menyelesaikannya. Buku IEP ini saya selesaikan selama kurang dari 24 jam. 700an halaman pula. Itu sudah cukup mengindikasikan bahwa saya menyukai buku IEP ini.

Saya selalu menyukai gaya menulis Mbak Dewi Lestari, baik di Supernova ataupun non Supernova. Meskipun ada yang bilang gaya menulisnya mulai berubah sejak ?Perahu Kertas?, bagi saya tidak menjadi masalah. Tulisannya selalu berhasil membuat saya bermain dalam imajinasi sendiri tentang cerita yang ditulisnya. Rasanya tak ingin berhenti membaca sebelum selesai sampai akhir. Jadi, kalau misal serial-serial di Supernova mau dibikin film, sang pembuatnya mesti benar-benar bekerja keras, karena saya yakin para pembacanya sudah memiliki imajinasinya masing-masing terhadap cerita ini. Terbukti di KPBJ yang sudah dibuat filmnya, banyak pembaca yang kecewa berat karena tidak sesuai ekspektasi. O iya, ada beberapa bagian di IEP ini yang sengaja saya lewatkan untuk dibaca. Yang pertama adalah puisi-puisinya. Bukan karena puisinya tidak bagus, tapi saya memang tidak hobby dengan puisi, jadi akan sulit menikmati. Ada juga dialog-dialog ataupun deskripsi cerita yang berkaitan dengan sains, lantas disampaikan dengan bahasa yang cukup berat. Aduh, kepala saya mendadak pusing. Pasti akan saya baca sambil lalu kalau ketemu paragraf-paragraf semacam itu. Atau, ini hanya alasan saja karena otak saya tidak mampu menerimanya dengan baik?

Kalau kita membaca ending ceritanya, sebenarnya masih sangat terbuka untuk dibuat kelanjutannya. Tapi, Supernova dari awal direncanakan cuma sampai 6 buku. Mungkin endingnya sengaja dibuat demikian agar para pembaca berimajinasi sendiri. Atau mungkin juga akan ditulis lanjutannya dengan judul baru. Entahlah. Saya sendiri juga tidak tahu persis. Yang pasti, Supernova telah menjadi bagian penting dalam perkembangan sastra Indonesia. Saya yakin karya-karya di serial Supernova akan terus dibaca sampai ke generasi-generasi mendatang. Terima kasih sudah mewarnai dunia sastra Indonesia selama 15 tahun ini. Sukses selalu.

  • view 326