Si Kuli dan Arsitek Cantik

Dhanang Adi
Karya Dhanang Adi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 15 Februari 2016
Si Kuli dan Arsitek Cantik

Dalam posisi membungkuk, Tejo berupaya merapikan hasil pekerjaannya. Keramik-keramik yang ia pasang tak boleh terlihat cacat, atau murka sang mandor akan Tejo terima. Berusaha ikhlas menjalani, walau jauh di dasar hatinya Tejo ingin sekali berontak. Orang dengan tampang sekeren Tejo mestinya kurang pantas menjadi kuli. Tapi beginilah nasib. Bisa berlaku kejam tanpa memandang rupa. 

Segetir apapun Tejo menjalani hidup, setidaknya ada satu waktu dalam seminggu yang membuat batinnya menari untuk sesaat. Satu waktu itu adalah senin siang. Orang kantoran boleh membenci senin, tapi Tejo sebaliknya. Jam 12 siang nanti sang mandor akan memanggilnya untuk memberi upah mingguan. Yah, walaupun Tejo sadar betul jumlahnya kurang layak, namun tetap ia syukuri. Tepat satu jam sebelumnya, sekitar jam 11 siang, adalah saat lain yang ditunggu-tunggu Tejo. Ia akan melihat bidadari pujaan hatinya melintas.

Kuli-kuli di proyek, termasuk Tejo, tak terlalu mengerti jabatan arsitek, engineer sipil, mekanikal, elektrikal, dan sebagainya. Yang mereka tahu, setiap ada rombongan orang kantoran berpakaian rapi berkeliling proyek, mereka menyebutnya sebagai orang manajemen. Namun Tejo memiliki satu pengecualian terhadap satu sosok perempuan dari kumpulan orang manajemen itu. Namanya Rasty. Tejo tahu dari security jika Rasty adalah arsitek dari proyek yang sedang ia kerjakan. Dari security juga, Tejo bisa tahu jika orang-orang manajemen berkeliling proyek tiap senin untuk mengecek progres kerja mingguan.

Detik-detik yang dinanti Tejo semakin dekat. Detak jantungnya semakin cepat. Suara langkah-langkah sepatu yang sudah dihafal Tejo sebagai sepatu-sepatu orang manajemen sudah terdengar. Barisan depan biasanya diisi sejumlah lelaki. Tejo tak pernah peduli dengan para lelaki itu, walau terdapat direktur sekalipun. Yang Tejo nanti adalah barisan tengah. Di situlah biasanya terselip Rasty. Wajah dan senyumnya terlihat paling bersinar. Setiap minggunya, Tejo berharap senyum itu akan diberikan secara khusus dari Rasty untuknya. Bukan sekedar melihat senyum Rasty yang diberikan untuk orang lain. Tejo cukup tahu diri. Dirinya tidak ada apa-apanya dibanding para lelaki yang ada di rombongan manajemen. Mereka lebih rapi dan berduit, lebih berhak atas senyuman Rasty. Seganteng-gantengnya kuli seperti dirinya tidak akan mampu bersaing dengan pria-pria kantoran berbaju rapi. Tejo yakin sebenarnya ia bisa terlihat lebih keren daripada para lelaki itu jika diberi kesempatan yang sama memakai baju-baju bagus. Tejo pun kerap menyalahkan dirinya sendiri. Semua karena ia hanya seorang kuli.

Kini Rasty tak jauh di hadapannya. Posisi badan Tejo membungkuk sambil meneruskan pekerjaan memasang keramik. Saat Rasty tepat melintas di depannya, Tejo mengangkat pandangannya menuju Rasty. Seperti biasa, Rasty terlibat diskusi dengan orang-orang di sebelahnya, sambil diselingi senyum dan tawa. Tak sedikitpun perhatian Rasty mengarah ke Tejo. Sampai akhirnya Rasty perlahan mulai menjauh dari pandangan Tejo. Masih sama dengan senin-senin sebelumnya, belum ada senyuman dari Rasty untuknya. Tejo mesti menunggu tujuh hari lagi untuk kesempatan yang sama. Ia menikmati masa-masa menunggu untuk kembali melihat Rasty, dan selalu bersabar untuk sebuah senyuman.

*

Hari sabtu ini Tejo bekerja setengah hari. Ia ingin segera pulang ke rumah untuk beristirahat. Dalam perjalanan menuju pintu keluar proyek, Tejo merasakan ada yang mengganjal di kakinya. Sebuah dompet perempuan tak sengaja terinjak olehnya. Tejo buru-buru mengambil, memasukkan di balik baju, lantas berlari menuju toilet. Jantungnya deg-degan tak karuan membuka dompet berisi sejumlah lembaran uang, yang dihitung-hitung sekitar 2 jutaan. Lebih dari upahnya sebulan. Tejo merasa menjadi orang paling beruntung sedunia hari ini, mendapat rejeki nomplok. Lantas dilihatnya segepok kartu pengenal yang sedari tadi Tejo cuekin karena matanya lebih tertuju pada uang. Tatapannya menjadi kosong seketika. Pemilik semua ini adalah Rasty.

Astaghfirullah. Tejo beristighfar dalam hati. Semua yang ditemukannya bukanlah haknya. Meski bukan Rasty sebagai pemiliknya, Tejo sadar ia tetap harus mengembalikannya. Akhirnya diputuskan ia tidak akan mengambil uang dalam dompet itu. Tejo tersenyum-senyum sendiri. Uang memang tidak ia dapatkan, tapi senyuman Rasty akan segera ia dapatkan. Tejo pun bergegas menuju kantor orang-orang manajemen. Kini ia punya alasan kuat untuk bertemu Rasty.

Dompet sudah berada di tangan security. Ia meminta Tejo untuk menunggu sembari ia memanggil Rasty. Angan-angan Tejo sudah melayang tinggi. Tak lama lagi ia akan berkenalan dengan Rasty. Mendapatkan senyumannya, dan kalau beruntung akan saling menjabat tangan. Belum lagi puji-pujian karena dirinya adalah kuli yang jujur. Oh, indahnya. Derap langkah security bersama sebuah derap langkah lain, -yang tak diragukan Tejo sebagai suara langkah Rasty-, didengarnya semakin mendekat. Tejo sudah tak sabar. Ia mencoba menenangkan diri dan berpikir sebentar. Dan tiba-tiba, Tejo memutuskan untuk pergi dari tempat itu sebelum security dan Rasty tiba.

*

Senin kembali datang. Diantara senin-senin sebelumnya, senin inilah yang paling Tejo nanti-nanti. Rombongan orang manajemen sudah mulai melintas di depannya. Seperti biasa, ia tak mempedulikan barisan terdepan. Tejo langsung mencari sosok Rasty di barisan tengah. Tak berhasil ditemukannya. Mungkin hari ini Rasty sedang ingin berada di barisan belakang. Tejo sabar menanti hingga orang-orang di ujung belakang barisan melintasinya. Namun wajah Rasty yang sudah 7 hari dinantinya tak ditemukannya juga. Hah, dimana Rasty hari ini? Tejo menjadi gelisah. Ia mesti menanti hingga jam 12 nanti untuk mendapat informasi dari security.

*

“Pak, Ibu Rasty hari tidak masuk kerja ya? Tumben tadi tidak terlihat bersama rombongan.” tanya Tejo tanpa basa-basi ke security.

“Ibu Rasty mulai hari ini dipindah proyek dari Jakarta ke proyek di Bali. Oh iya, kemarin kamu kemana, Jo? Ibu Rasty kemarin nyariin kamu.”

“Pindah ke Bali? Jauh sekali ya pak pindahnya.”

Tejo tercekat. Wajahnya mendadak pucat. Segala angan manisnya yang sudah tertanam di otak sejak sabtu lalu, akhirnya runtuh seketika dengan sebuah kalimat dari security. Padahal Tejo sudah membayangkan hari senin ini Rasty akan sengaja mencari dirinya untuk berterima kasih. Rasanya akan lebih heroik apabila Rasty yang mencarinya, bukan ia yang sengaja menunggu.

“Ya jauh. Ibu Rasty kemarin ingin mengucapkan terima kasih sama kamu. Eh, malah kamunya sudah ngilang.”

“Jauh banget ya pak, Jakarta – Bali itu?”

“Kamu nggak apa-apa kan, Jo? Sehat?” Security mulai menangkap gelagat aneh dari Tejo

“Kemarin Ibu Rasty juga menitipkan ini sama saya, katanya buat kamu. Sebagai ucapan terima kasih karena mengembalikan dompetnya.” Security menyerahkan dua lembar uang ratusan ribu ke Tejo.

“Terima kasih, pak.” Tejo menerimanya dengan tatapan kosong.

Penantian panjang Tejo selama ini hanya berujung dua ratus ribu rupiah. Senyum yang ia tunggu-tunggu selama ini, tak akan pernah ia dapatkan. Tejo sudah mendapat kesempatan itu, namun ia sia-siakan. Tejo berjalan melangkah gontai bersama para kuli lainnya menuju tempat sang mandor. Bahkan upah mingguan yang akan diberikan sang mandor siang ini, tetap tak bisa menghapus kekecewaan Tejo karena kehilangan senyum Rasty.

  • view 241