A Copy of My Mind (review)

Dhanang Adi
Karya Dhanang Adi Kategori Lainnya
dipublikasikan 13 Februari 2016
A Copy of My Mind (review)

A Copy of My Mind, judul film terbaru karya Joko Anwar yang dibintangi Chicco Jerikho dan Tara Basro. Film ini baru saja memenangkan 3 penghargaan di FFI (termasuk sutradara terbaik), dan telah ditayangkan di berbagai festival film internasional. Karena sejumlah prestasi itulah, membuat saya tertarik untuk menonton film ini.

A Copy of My Mind bercerita tentang Sari (Tara Basro), seorang pegawai facial salon yang memiliki hobi menonton DVD film bajakan, dan bercita-cita memiliki home theatre. Sari adalah potret wanita pinggiran Jakarta yang mesti bekerja keras demi bertahan hidup. Di sisi lain, Alek (Chicco Jerikho) adalah sosok pria pinggiran Jakarta yang bekerja sebagai penerjemah subtitle untuk DVD film bajakan. Keterkaitan antara hobi Sari dan profesi Alek akhirnya mempertemukan mereka berdua. Latar kehidupan Sari dan Alek yang sama-sama berasal dari kaum pinggiran membuat hubungan mereka semakin dekat, bahkan kemudian menjadi sepasang kekasih.

Permasalahan bermula ketika Sari mesti memberi perawatan facial bagi seorang narapidana wanita di sebuah penjara. Saat hendak pulang, tangan jahil Sari mencuri sekeping DVD milik kliennya. Alangkah terkejutnya Sari, ketika menonton DVD tersebut bersama Alek, isinya ternyata rekaman video untuk sebuah kasus besar. Yup, film ini memang bukan sekedar kisah cinta kaum pinggiran, namun juga mengandung sindiran politik terhadap kondisi bangsa Indonesia saat ini. Kecerobohan Sari menjadi bumerang bagi dirinya sendiri, bahkan juga ikut menyeret Alek ke dalam bahaya. Bagaimana Alek dan Sari menghadapi kesulitan ini? Silahkan tonton sendiri. Hehehe?..

Paruh awal film ini berjalan lambat. Belum jelas konfliknya mau dibawa ke mana. Bagian awal film ingin lebih menonjolkan karakter Sari dan Alek, baik sebagai individu maupun ketika mereka sedang bersama. Saya rasa karakter Sari dan Alek cukup sukses diperankan para pemainnya, terutama karakter Sari. Tidak heran Tara Basro bisa menang di FFI untuk kategori pemeran utama wanita terbaik. Setting film ini patut diacungi jempol dengan ditunjang sinematografi yang bagus. A Copy of My Mind sukses menggambarkan daerah pinggiran Jakarta yang selama ini mungkin lebih sering tertutupi oleh gemerlapnya Jakarta. Detailnya pun cukup diperhatikan, contohnya setting rumah kos pinggiran yang kondisinya semrawut, terlihat seperti nyata. Dialog yang terjadi pun sangat natural, lebih mirip dengan dialog sehari-hari dibandingkan dialog sebuah film. Saya hampir tak mendengar kata-kata romantis yang terjalin antara Sari dan Alek, sebagaimana yang terjadi di kebanyakan film drama percintaan.

Ketika konflik sudah dibuka di film ini, saya merasakan alurnya menjadi lebih cepat. Bahkan menjadi sangat cepat menjelang akhir film. Tak perlu adegan demi adegan yang mendetail untuk menjelaskan endingnya. Saya sebagai penonton merasa tak cukup waktu untuk menarik kesimpulan dari endingnya, untuk kemudian dihubung-hubungkan dengan bagian-bagian yang lebih awal. Saya baru bisa merangkum secara utuh semua adegan saat sudah di luar bioskop, itupun mesti berdiskusi dengan penonton lain. Saya jadi teringat film Joko Anwar sebelumnya yang berjudul Modus Anomali. Situasi yang saya rasakan kurang lebih sama. Di sepanjang film, terutama menjelang endingnya, saya sibuk mikir apa yang sebenarnya terjadi di film itu. Baru kemudian saat sudah di luar bioskop, saya bisa mendapatkan jawabannya. Itupun mungkin belum tentu benar. Apakah memang karakter film Joko Anwar yang demikian, atau saya saja yang agak lambat loadingnya? Hmm.

Kalau ditanya apa yang paling mengejutkan di A Copy of My Mind, jujur saja saya menjawab adegan syur yang ada di film ini. Saya terkejut karena ada beberapa kali adegan ranjang yang lumayan syur (untuk ukuran film bioskop Indonesia) ternyata tidak disensor. Dari poster filmnya saja sebenarnya sudah terlihat sih, namun saya tak menyangka kalau sampai sejauh itu. Untuk pertama kalinya saya melihat adegan semacam itu di layar bioskop Indonesia. Jadi ya, walaupun film ini banyak penghargaannya, namun tidak cocok untuk penonton di bawah umur. Mungkin karena baru dua hari penayangan, jadi belum ada kontra soal adegan-adegan itu. Kita lihat saja beberapa hari ke depan, apakah film ini bakal menuai protes karenanya. Entahlah. Mungkin sayanya saja yang kurang gaul jadi belum pernah melihat adegan seperti itu di film bioskop Indonesia. Atau mungkin saya kurang kekinian, jadi rasanya tidak biasa. Yang jelas, A Copy of My Mind akan menjadi film yang sangat sulit untuk dilupakan, karena banyak kejutan yang ditawarkan di dalamnya.

  • view 248