Surat dari Praha

Dhanang Adi
Karya Dhanang Adi Kategori Lainnya
dipublikasikan 01 Februari 2016
Surat dari Praha

Sebelum membahas film "Surat dari Praha", saya ingin memberikan sedikit pandangan terhadap perfilman nasional. Terkadang saya merasa bersikap tidak adil terhadap film nasional. Yang pertama soal kuantitas. Jumlah film Hollywood yang saya tonton jauh lebih banyak dibanding film nasional, yang dalam setahun mungkin hanya beberapa judul saja yang saya tonton. Bagi saya, keputusan untuk menonton film nasional di bioskop membutuhkan sebuah tekad besar. Jika saya menonton film nasional dan kurang sesuai harapan, biasanya akan terus terbawa. Saat nanti ada film nasional baru, saya akan berpikir ulang untuk menontonnya. Kalau nanti filmnya mengecewakan seperti yang dulu bagaimana? Kan sayang duitnya. Padahal filmnya sudah jelas berbeda. Lain halnya dengan film Hollywood. Bila filmnya terasa kurang memuaskan, lebih gampang "move on". Tidak berpengaruh terhadap film-film Hollywood lain ke depannya. Kalaupun ada film Hollywood baru yang dirasa bagus dan layak ditonton, ya tonton saja, tidak?perlu berpikir panjang.

Sebelum memutuskan menonton film nasional di bioskop, biasanya saya melihat trailernya ataupun membaca sinopsis film. Seringkali dalam hati bilang, wah kayaknya bagus nih, ntar nonton ah. Namun euforia hanyalah tinggal euforia sesaat semata. Semangat berubah menjadi angan-angan. Lantas terlintas di benak, yang namanya film nasional paling gak lama lagi juga tayang di televisi. Tunggu saja saat lebaran atau tahun baru nanti. Inilah mengapa saya sebut menonton film nasional di bioskop membutuhkan tekad yang ekstra. Pada kenyataannya, saya tidak pernah bisa menikmati menonton film di televisi. Kebanyakan iklan, banyak adegan dipotong karena tuntutan durasi, belum lagi kurang fokus karena sambil melakukan aktivitas lain.

Layar lebar masih merupakan pilihan terbaik bagi saya menikmati film, termasuk film nasional sekalipun. Dan di akhir tahun lalu, untuk pertama kalinya saya menonton 3 judul film nasional di bioskop dalam sebulan. Biasanya hanya 1 judul film nasional dalam kurun waktu beberapa bulan. Sebuah rekor baru bagi saya pribadi. Ketiga film nasional tersebut adalah Single, Ngenest, Negeri van Oranje. Cukup menarik, walau belum bisa dibilang "wow" banget buat saya. Kalau saya lihat, belakangan tema-tema film nasional mengalami perubahan trend. Sudah jarang film yang mengangkat tema horor dengan judul yang aneh-aneh yang sempat ramai di bioskop-bioskop. Semoga ke depannya trend perubahan menuju ke arah yang lebih baik.?

Surat dari Praha. Film nasional pertama di tahun 2016 yang saya tonton. Film ini bertemakan drama percintaan dengan latar belakang situasi politik bangsa Indonesia di masa lalu. Disutradarai Angga Dwimas Sasongko, dengan pemeran utama Tio Pakusadewo (Jaya) dan Julie Estelle (Laras). Settingnya di Praha, namun jangan berharap bakal disuguhi gambar-gambar indah yang mengeksplore Praha lebih dalam, sebagaimana film Negeri van Oranje yang memanjakan mata dengan keindahan negeri Belanda. Film ini memang tidak mengutamakan hal semacam itu, namun lebih ingin menonjolkan karakter para tokohnya. Praha dipilih karena kota ini memiliki keterkaitan dengan gejolak politik di Indonesia tahun 1965, yang masa itu sedang marak dengan komunis ataupun awal berdirinya orde baru.

Cerita berawal ketika Laras mesti pergi ke Praha untuk mengantarkan sebuah kotak kepada seseorang bernama Jaya. Tugas itu adalah wasiat dari ibunya Laras, sebagai syarat agar Laras bisa menerima harta warisannya. Laras berhasil menemui Jaya. Namun apa yang diinginkan Laras ternyata tak semudah yang dibayangkannya. Karakter Jaya yang keras, ditambah Laras yang juga sama-sama keras, membuat keadaan menjadi sulit, terutama bagi Laras. Berbagai fakta dan kejadian yang ditemui Laras selama di Praha, akhirnya membuatnya berpikir, bahwa ada hubungan yang tidak biasa yang terjadi antara Jaya dan almarhum ibunya. Sampai akhirnya Laras mengetahui, semua masalah ini berawal dari surat-surat yang dikirimkan Jaya dari Praha kepada ibunya, namun tak sekalipun dibalas oleh ibunya.

Film ini mengajarkan kita untuk mau berdamai dengan masa lalu, walaupun itu pahit dan sulit. Musik-musik dari Glen Fredly banyak terdengar di sepanjang film dan semakin menghidupkan suasana. Kabarnya, Tio Pakusadewo dan Julie Estelle benar-benar menyanyikan sendiri lagu yang mesti mereka bawakan. Penonton yang menyaksikan film ini mungkin akan terbagi menjadi dua kubu, yang ikut hanyut terbawa suasana, atau menjadi ngantuk karena kebosanan. Alhamdulillah saya tidak termasuk golongan orang-orang yang mengantuk, hehehe. Karakter yang dimainkan Tio Pakusadewo dan Julie Estelle cukup sesuai dengan tuntutan jalan cerita. Terutama sekali karakter Jaya, semakin membuktikan kualitas akting Tio Pakusadewo sebagai aktor yang sangat berpengalaman. Ada nama-nama besar lain ikut bermain dalam film ini, seperti Widyawati, Rio Dewanto, Chico Jericho, Jajang C. Noer, namun kehadiran mereka hanya selintas saja, karena dari awal, tokoh Jaya dan Laras lah yang memang sangat dominan di sepanjang film.?Overall, filmnya lumayan, walau belum bagus banget buat saya. Setidaknya tidak membuat kapok untuk kembali menonton film nasional di bioskop. Jayalah terus film Indonesia!!

  • view 269