Selfie di Rooftop Gedung Sudah Menjadi Tren?

Dhanang Adi
Karya Dhanang Adi Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 09 Mei 2016
Selfie di Rooftop Gedung Sudah Menjadi Tren?

Beberapa waktu yang lalu tersiar kabar tentang meninggalnya seorang remaja kelas 1 SMP karena terjatuh dari atap sebuah gedung di daerah Jakarta Utara. Jatuhnya bukan karena sedang berkelahi ataupun disambar petir. Tapi, karena diduga sedang melakukan selfie. Entah gaya selfie apa yang dipakai remaja tersebut sampai akhinya bisa berujung kematian. Sungguh sangat disayangkan, karena penyebabnya adalah hal sepele yang sebenarnya sangat bisa dicegah. Sudah sebegitu pentingkah selfie di atas atap gedung, sehingga nyawa pun jadi taruhannya?

Kebetulan, saya bekerja di sebuah proyek pembangunan highrise building di Jakarta. Bangunannya belum jadi 100%, tapi secara struktural sudah selesai hingga rooftop yang ketinggiannya mencapai lebih dari 200 meter. Bagi saya pribadi, view dari rooftop gedung ini cukup menarik, karena bisa melihat taman, jalan raya, gedung-gedung tinggi lain, perumahan, bahkan juga laut. Semua terasa agak berbeda saat saya melihatnya dari ketinggian. Sejumlah karyawan di sini (termasuk saya) yang kebetulan sedang ada keperluan di area rooftop terkadang juga memanfaatkannya untuk lokasi berfoto. Tentu saja, kami hanya berfoto dengan pose ganteng dan pose cantik dengan dilengkapi helm pengaman, tidak ada pose-pose aneh yang mengandung resiko.

Sekitar dua bulan yang lalu, pihak pengelola kawasan tempat saya bekerja dikejutkan dengan foto-foto yang diupload sebuah akun di instagram. Akun tersebut mengunggah foto-foto pribadinya sedang selfie di berbagai atap gedung tinggi di Jakarta. Beberapa di antaranya diambil dari rooftop gedung tempat saya bekerja. Pihak pengelola kawasan pun terkejut, karena area rooftop di seluruh gedung kawasan sesungguhnya adalah tertutup untuk umum. Masalahnya tidak hanya sebatas penjagaan yang berhasil ditembus, namun karena gaya selfie yang dipakai tergolong ekstrim. Berdiri tanpa pengaman di tepian bibir gedung, memanjat hingga puncak tower crane, adalah beberapa contoh gaya yang bisa dibilang mempertaruhkan nyawa. Bila terpeleset sedikit saja, nyawa akan langsung melayang. Aksinya mengundang bermacam reaksi dari para netizen, dimana sebagian besar menyatakan kagum sekaligus ngeri.

Saya pun termasuk yang kagum dengan hasil foto-fotonya karena secara fotografi sangat enak dinikmati. Tapi, haruskah disertai dengan gaya yang ekstrim? Dan ketika yang menjadi sasaran adalah tempat saya bekerja, rasanya menjadi agak lain. Dari sejumlah berita yang saya dengar, pelaku berhasil naik sampai ke rooftop karena menyamar menjadi tukang. Pihak pengelola gedung pun tidak tinggal diam. Sejak kejadian itu, semua orang yang keluar masuk proyek mesti memakai tanda pengenal. Saya pun kena imbasnya. Nametag saya yang sudah terlihat lusuh harus saya urus lagi demi mendapat nametag baru.

Ternyata semua belum selesai sampai disini. Entah kala itu penjagaannya yang sedang kendur, atau pelakunya terlalu cerdik, proyek kembali dimasuki sejumlah orang yang berniat selfie di rooftop. Namun pada akhirnya mereka tertangkap. Yang pertama adalah sekelompok anak muda berjumlah 8 orang yang mengaku datang dari Ciledug. Jauh-jauh dari Ciledug hanya untuk kegiatan seperti ini? Sampai sekarang saya masih sulit mengerti apa isi pikiran mereka. Mereka ditangkap security saat hendak meninggalkan proyek. Karena curiga melihat penampilannya yang berbeda dengan pekerja kebanyakan, tas mereka pun digeledah, dan ditemukan sejumlah tongsis di dalam tas mereka. Handphone pun juga diperiksa, lantas foto-foto yang baru saja diambil dari lokasi rooftop mesti dihapus saat itu juga. Di hari lain, pernah ditangkap juga dua orang pemuda yang di dalam tasnya ternyata ditemukan tripod. Apa sih yang sebenarnya kalian cari dengan berdiri di ketinggian sana?

*

Tak dipungkiri, berada di ketinggian mampu melahirkan sebuah sensasi tersendiri bagi yang bisa menikmatinya (termasuk saya). Saat berada di puncak gunung, saat berada di dalam pesawat sambil memandang awan, ataupun berdiri di rooftop gedung, semuanya adalah pengalaman mengasyikkan yang tak bisa dialami setiap saat. Jika ingin berada di puncak gunung, maka berusahalah meski harus berlelah-lelah. Jika ingin naik pesawat biar bisa memandangi awan, maka belilah tiket pesawat. Jika ingin ke rooftop gedung, ya kesanalah dengan cara yang benar. Saya pun kalau misalkan tidak bekerja disini, tak akan berminat untuk mencoba berfoto di rooftop. Buat apa juga, tak ada manfaat yang berarti. Cuma karena kebetulan ada kesempatannya, ya dimanfaatkan saja. Hehehe.

Bila pihak pengelola gedung menyatakan bahwa area rooftop adalah tertutup untuk umum, saya kira adalah sangat wajar. Rooftop gedung adalah tempat terdapatnya sejumlah instalasi penting yang berpengaruh ke operasional gedung. Mereka tentu tidak ingin instalasi menjadi rusak (baik sengaja atau tidak sengaja) karena perilaku selfie dari orang-orang yang tak mengerti instalasi. Tidak sedikit pula kita mendengar berita orang bunuh diri dengan terjun dari gedung apartemen ataupun mall. Ditambah lagi perilaku selfie yang kini tak hanya sebatas pose ganteng ataupun pose cantik, tapi sudah merambah ke pose ekstrim nan menantang maut. Jadi sudah jelas, alasan pengelola gedung menutup area rooftop untuk umum adalah untuk mencegah resiko kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi.

Lalu, kenapa sebagian orang rela menempuh bermacam cara agar hanya bisa berfoto di rooftop gedung, padahal mereka tahu tindakannya adalah terlarang? Maraknya dunia sosmed seakan menuntut kita untuk kreatif melakukan hal baru yang belum banyak orang lakukan. Biar kekinian kalau kata orang jaman sekarang. Nah, selfie di rooftop ini mungkin dijadikan sebagai ide alternatif untuk menjaga eksistensi di jagad maya. Lantas publik akan memuji-muji aktivitasnya yang tergolong unik, hingga membuat pelakunya melayang tinggi karena pujian. Mungkin tidak sepenuhnya demi eksistensi, tapi karena yang bersangkutan memang benar-benar merasa asyik dengan aktivitasnya. Saya tidak akan menganggap orang yang hobi dengan kegiatan ini adalah orang yang aneh. Tiap orang memiliki kebiasaannya sendiri-sendiri yang tidak boleh disamaratakan. Seperti jika saya sedang menulis tulisan ini, mungkin akan ada orang yang bilang kegiatan ini adalah membosankan dan hanya buang waktu. Jadi, memang sudah seharusnya jika kita harus saling menghargai pilihan orang lain. Yang ingin saya tekankan disini, apapun pilihan yang sudah ditetapkan, lakukanlah dengan cara yang benar, tidak merugikan orang lain, serta tidak melanggar peraturan.