Belajar Sportivitas dari Negeri Sakura

Dhanang Adi
Karya Dhanang Adi Kategori Lainnya
dipublikasikan 02 Mei 2016
Belajar Sportivitas dari Negeri Sakura

Belum lama kasus Kento Momota bergulir, kini sudah kembali terjadi drama di panggung bulutangkis Jepang. Kali ini tentang pemain ganda putri mereka, dan masih berkaitan dengan olimpiade Rio 2016 mendatang. Sebagaimana aturan yang sudah ditetapkan, setiap negara berhak mengirimkan maksimal 2 wakilnya di nomer ganda (putra, putri, campuran), dengan catatan keduanya masuk di 8 besar dunia. Setiap negara bulutangkis pun berlomba dengan strategi masing-masing untuk bisa meraih tempat sebanyak-banyaknya di olimpiade nanti, tak terkecuali Jepang. Strategi boleh bermacam-macam, dan Jepang telah membuktikan diri sebagai negara yang tetap menjunjung tinggi fairplay untuk meraih target. Bagi mereka, menegakkan sportivitas lebih penting dibanding sekedar kesempatan tampil di olimpiade. Kasus Kento Momota sudah menjadi buktinya. Dan kini, Jepang kembali menunjukkannya di final Kejuaraan Asia di Wuhan – China yang baru berakhir minggu lalu. Sportivitas yang diperlihatkan Jepang seakan menampar sejumlah negara bulutangkis lain yang kerap mengabaikannya demi target prestasi.

Kejuaraan Asia 2016 menjadi sangat krusial karena menjadi turnamen terakhir pengumpulan poin olimpiade Rio 2016. Persaingan di ganda putri adalah yang paling ketat karena belum bisa dipastikan semua kontestannya sebelum usai final Kejuaraan Asia. Jepang dan Korea sudah memastikan masing-masing 1 wakil dengan menempatkan Ayaka/Misaki (Jepang) di rangking 1 dunia, dan Jung/Shin (Korea) di rangking 6 dunia. Mereka berkesempatan mengirim wakil kedua melalui Chang Ye Na/Lee So Hee (Korea) yang berada di rangking 8 dunia, dan Naoko Fukuman/Kurumi Yonao (Jepang) rangking 9 dunia. Selisih poin antara kedua pasangan sangat tipis dan masih mungkin untuk berubah. Sayangnya, hanya 1 pasang diantara mereka yang berhak ke Rio, dan pasangan itu adalah yang nantinya finish di rangking 8 dunia. Kejuaraan Asia 2016 inilah yang menjadi penentu nasib keduanya.

*

Kedua pasangan tampil habis-habisan selama turnamen demi tiket terakhir ke Rio. Pasangan Chang/Lee (Korea) membuat kejutan di babak 8 besar dengan mengalahkan wakil tuan rumah China sang juara olimpiade. Sayangnya, di semifinal mereka terhenti oleh Ayaka/Misaki (Jepang). Naoko/Kurumi (Jepang) pun tak mau kalah. Mereka mengalahkan pasangan China lainnya di babak 8 besar dalam pertandingan marathon selama 2 jam. Puncaknya adalah di semifinal ketika mengalahkan pasangan Greysia/Nitya (Indonesia). Pertandingan Greysia/Nitya vs Naoko/Kurumi memakan durasi 2 jam 41 menit, sekaligus dinobatkan sebagai rekor baru pertandingan bulutangkis terlama sepanjang sejarah. Saya tidak menonton pertandingan boros durasi tersebut karena memang tidak disiarkan di televisi ataupun streaming internet, namun sedikit bisa membayangkan apa yang terjadi. Ganda-ganda Jepang memang dikenal ulet dan memiliki daya tahan fisik luar biasa. Ditambah lagi gaya permainan yang banyak mengandalkan bola-bola lob yang sangat menguras tenaga lawan, tidak heran bila membutuhkan durasi pertandingan berlebih. Hasil pertandingan semifinal akhirnya mempertemukan sesama ganda Jepang di babak final, Ayaka/Misaki vs Naoko/Kurumi. Sampai disini, posisi ke 8 dunia untuk menuju Rio belum dapat ditentukan. Hasilnya mesti menunggu pertandingan final selesai. Naoko/Kurumi harus menjadi juara untuk lolos ke Rio, karena kalah di babak final berarti Chang/Lee (Korea) yang akan lolos.

Sebelum pertandingan final Ayaka/Misaki vs Naoko/Kurumi, muncul banyak spekulasi dari pemerhati bulutangkis, apakah Ayaka/Misaki akan sengaja mengalah demi meloloskan rekan senegaranya ke Rio? Mengingat posisi Ayaka/Misaki sebagi pemegang rangking 1 dunia yang sudah pasti lolos olimpiade, apapun hasil di final tidak akan berpengaruh ke mereka. Beban mereka di olimpiade Rio nanti juga akan sedikit berkurang apabila berjuang dengan ditemani rekan senegara. Sepengetahuan saya, Jepang memang tidak pernah bermain sabun bila terjadi pertandingan satu negara. Namun karena dalam pertandingan ini sifatnya sangat krusial, saya pun sempat menyangka jika kali ini mungkin Jepang akan sedikit “bermain”. Kalau dalam pertandingan dengan situasi normal, Ayaka/Misaki jelas lebih diunggulkan. Gelar sebagai ganda nomor 1 dunia, plus kemenangan dalam pertemuan terakhir melawan Naoko/Kurumi, menjadi alasan bagi Ayaka/Misaki lebih berpeluang juara. Ditambah lagi kondisi fisik Ayaka/Misaki yang lebih bugar karena menyelesaikan seluruh pertandingan sampai ke final dengan straight set, berbeda dengan Naoko/Kurumi yang mesti habis-habisan untuk bisa ke final.

Partai final ganda putri Kejuaraan Asia 2016 pun digelar. Kubu Korea menjadi pihak yang paling dag dig dug menunggu hasilnya. Nasib Chang/Lee ditentukan dari pertandingan Ayaka/Misaki vs Naoko/Kurumi. Mereka tentu sangat berharap Ayaka/Misaki tampil normal melakoni pertandingan. Tanpa disangka, harapan Korea menjadi kenyataan. Ayaka/Misaki tetap tampil all out dan menunjukkan kapasitasnya sebagai ganda putri terbaik dunia. Mereka tak memberi kesempatan meski lawannya adalah teman sendiri yang tengah berjuang lolos ke olimpiade untuk menemaninya. Ayaka/Misaki menang 21-13 21-15, sekaligus memastikan Chang/Lee tetap bertahan di rangking 8 dunia dan lolos ke olimpiade Rio. Naoko/Kurumi tak dapat menahan kesedihan seusai pertandingan. Bahkan Naoko Fukuman terlihat menangis saat penyerahan hadiah di podium juara. Segala kerja keras mereka untuk bisa tampil di Rio kini pupus sudah. Mereka telah bertarung habis-habisan mengalahkan pemain-pemain dari luar Jepang, namun pada akhirnya, upaya mereka digagalkan oleh teman sendiri. Ayaka/Misaki pun terlihat tak terlalu bahagia dengan gelar juaranya kali ini. Posisi mereka memang dilema. Ayaka/Misaki tidak mengalah karena mungkin mereka tidak ingin mengambil resiko terhadap kemungkinan sanksi BWF, atau bahkan sanksi dari asosiasi bulutangkis Jepang yang telah membuktikan ketegasannya dalam kasus Kento Momota. Ayaka/Misaki memilih untuk tetap berjuang meraih kemenangan, walau mereka tahu, kemenangan akan mengubur impian temannya sendiri untuk bisa berlaga di Rio 2016.

Usai pertandingan final, beragam komentar bermunculan. Publik bulutangkis dunia menyatakan kekagumannya terhadap Jepang yang sangat menjunjung tinggi sportivitas. Peluang meloloskan 2 ganda putri di olimpiade sudah di depan mata, namun akhirnya Korea lah yang mendapatkannya. Semua demi menegakkan fairplay. Lantas secara spesifik muncul perbandingan terhadap China. Jika China yang berada dalam posisi ini, mereka pasti akan main sabun. Yup, saya sangat sepakat dengan pendapat ini. Beberapa tahun terakhir, sejumlah tindakan kurang sportif memang kerap dilakukan tim China demi mencapai sebuah target prestasi. China mesti belajar terhadap Jepang soal sportivitas. Tak hanya China, Indonesia dan negara-negara bulutangkis lainnya juga mesti melakukannya untuk membuat kompetisi bulutangkis dunia semakin menarik. Saya sendiri secara pribadi sangat respect terhadap Ayaka/Misaki. Mereka tidak hanya menunjukkan kelasnya sebagai ganda peringkat 1 dunia, tapi juga telah menunjukkan bagaimana seorang atlet ber-attitude. Sekali lagi, Jepang membuktikan bahwa attitude adalah berada di atas segala-galanya.