Mr. K dan Barang Dagangannya

Dhanang Adi
Karya Dhanang Adi Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 28 April 2016
Mr. K dan Barang Dagangannya

Kejadian ini sering saya alami saat dulu masih berpergian ke kantor dengan naik bus patas AC dalam kota Jakarta. Bagi sebagian besar orang, -termasuk saya-, bus kota hanyalah sebuah alat transportasi yang akan mengantar ke tempat tujuan. Yang biasa saya lakukan dalam perjalanan tidak jauh-jauh dari aktivitas ; bengong, tidur, membaca, ngobrol dengan orang sebelah, menerawang ke luar jendela, mengamati tingkah dan perilaku penumpang lain, atau sekedar online di HP. Apapun aktivitasnya, tidak ada kegiatan yang sifatnya bernilai ekonomi bagi penumpang biasa seperti saya. Sementara bagi sebagian kecil orang lainnya, -selain sopir bus dan kondektur-, bus adalah tempat yang menjadi sumber utama mata pencaharian. Dulu hanya ada pedagang dan pengamen yang mencari duit di dalam bus kota, -selain para pencopet tentunya-. Namun kini, jenis profesi yang yang menjadikan bus kota sebagai ladang penghasilan semakin meluas, terutama di Jakarta. Saya pernah melihat pendongeng, pembaca puisi, penceramah, hingga pemakan silet yang beratraksi di dalam bus.

Bahkan para pengamen dan pedagang pun sudah sangat beragam. Pengamen tidak hanya seragam sekedar bernyanyi sambil memainkan gitar, tapi sekarang lebih variatif. Ada yang bernyanyi dengan gaya ala rapper, ada yang membawa seperangkat instrumen lengkap ala grup band, ada yang bernyanyi solo sambil memainkan gitar dan harmonika sekaligus, ada yang bermain biola, dsb. Mereka dituntut untuk kreatif agar bisa bertahan diantara pengamen-pengamen lain yang jumlahnya semakin bertambah. Ironis, di saat kreatifitas bermunculan, saya masih juga melihat pengamen dengan peralatan sangat seadanya. Dengan kecapi kecil, dengan rangkaian tutup botol bekas yang ditusuk-tusuk layaknya sate, hingga pengamen bertangan kosong karena hanya diiringi tepuk tangannya sendiri. Ini belum termasuk pengamen yang menjual keprihatinan untuk menarik belas kasihan penumpang. Saya sempat tercengang saat melihat pengamen berusia balita menyanyikan lagu-lagu orang dewasa, suaranya melengking tinggi, seakan lehernya sedang tercekik dan dipaksa berteriak. Atau ketika saya mendapati pengamen berusia SD yang berusaha keras mengucap kata demi kata, padahal dia adalah tuna wicara. Kehidupan di Jakarta memang keras, bahkan sesama pengamen jalanan pun, mereka harus bersaing satu sama lainnya.

Tak hanya pengamen, para pedagang di dalam bus pun kini semakin bervariasi. Dulu mungkin saya hanya mengenal pedagang asongan ataupun koran. Tapi kini, aneka macam barang bisa hadir di tengah keramaian penumpang dalam bus. Dari jualan buah kurma, kamus Bahasa Inggris, sandal kesehatan, alat pijat, hingga peta busway Jakarta. Bagi saya, kehadiran mereka (pengamen dan pedagang) di dalam bus tidaklah menjadi masalah. Mereka tentu takkan melakukannya jika bukan terdesak faktor ekonomi. Apa yang mereka lakukan jauh lebih baik dibanding sekedar meminta-minta, apalagi bertindak kriminal. Selama mereka tidak mengusik kenyamanan, saya sangat bisa menerimanya. Sampai pada suatu hari, akhirnya saya bertemu penjual yang barang dagangannya cukup mengganggu kenyamanan.

Sebut saja namanya “Mr. K”. Saya masih ingat betul wajahnya, biasanya dia mengamen di dalam bus. Ada yang berbeda di hari itu. Dia masuk bus dengan menanggalkan gitarnya, dan berganti dengan sebuah tas ukuran sedang yang bergantung manja di pundaknya. Dia sudah siap beraksi, penuh percaya diri menghadap ke semua penumpang. Kali ini bukan untuk berdendang, melainkan menawarkan sebuah barang. Saya memperhatikannya dengan santai dari singgasana tempat saya duduk. Tanpa basa-basi lagi, Mr. K mengeluarkan dagangan dari tasnya, berupa botol kecil yang isinya diklaim sebagai minyak hasil rebusan kayu mulia dari Papua.

Harus saya akui, kalimat demi kalimat mengalir begitu lancar dari bibirnya. Dia berorasi penuh semangat. Lorong sempit di dalam bus seakan menjadi panggung orkestra megah miliknya. Tak bisa dipungkiri, cara penyampaiannya cukup berbeda dengan pedagang-pedagang lain. Durasinya dalam menawarkan barang jauh lebih lama dibanding rata-rata pedagang biasa. Sepertinya dia memang sudah mempersiapkan semacam skenario khusus sebelum beraksi. Dugaan saya benar. Beberapa hari setelah itu, ada pedagang-pedagang lain yang menawarkan barang serupa, dengan kalimat-kalimat hampir sama dengan yang diucapkannya. Mungkin sebelum mereka berjualan di bus, mereka sempat mendapat semacam pelatihan dari orang yang sama. Tapi saya bisa pastikan jumlahnya masih terbatas, tak sebanyak pedagang-pedagang asongan biasa.

Sebagian besar yang disampaikannya pastilah berkaitan dengan produk yang dijualnya. Di luar itu, ada kalimat-kalimat khas yang selalu mengiringi saat menjual produknya. Sebenarnya bukan kalimat-kalimat yang luar biasa. Namun karena selalu diucapkan setiap barang itu dipasarkan di dalam bus, akhirnya menjadi quotes khas para pedagang minyak rebusan kayu mulia itu. Saya pun masih bisa mengingat beberapa diantaranya.

Di bagian-bagian awal, yang selalu terngiang di telinga saya adalah ;

“…orang Jawa bilang, alon-alon asal kelakon…”

“…saya tidak pernah mengharap rejeki dari anda, rejeki saya sudah ada yang mengatur…”

“…apalah arti uang Rp 5000,00, buat sekali jajan ke warteg juga habis…”

“…sangat pas buat oleh-oleh keluarga tercinta…”


Lalu memasuki bagian pertengahan, saat dimana bagian paling menyebalkan makin dekat ;

“…jangan malu untuk mencoba, yang malu itu kalau anda mencuri..”

“…mas, kalau saya mencoba, apakah nanti disuruh bayar? Anda gak usah takut, mencoba saja tidak perlu bayar…”

Selesai berorasi tentang produknya dan berbagi sejumlah quotes, Mr. K melanjutkan aksinya. Kali ini ia akan berkeliling ke seluruh penumpang dan mempersilahkan untuk mencobanya. Dia bergerak dari depan ke belakang, mengoleskan sedikit minyak ke telapak tangan para penumpang yang sudah siap untuk menengadah. Namanya juga gratisan, tawarannya pun disambut sangat baik oleh para penumpang yang kala itu didominasi kaum bapak-bapak dan ibu-ibu. Saya sendiri tidaklah tertarik dengan jualannya, karena dari dulu memang tidak suka dengan bau-bauan minyak angin, apapun itu. Saya terpaksa menolak tawarannya dengan halus.

Para penumpang yang riang gembira karena mendapat sedikit olesan minyak gratis tak menunda-nunda lagi untuk memanfaatkannya. Mereka lantas berlomba-lomba mengoleskan ke bagian tubuh yang mereka inginkan, dari leher, perut, tangan, hingga kaki. Dan yang terjadi selanjutnya, tanpa saya perhitungkan sebelumnya, aroma di dalam bus pun berubah menjadi aroma minyak angin. Whattt?? Tadi saya sengaja menolaknya karena tak menyukai bau minyak angin, namun dengan kondisi yang demikian, saya tak bisa lagi menghindari baunya. Bau minyak angin itu begitu kuat dan menyebar cepat di dalam bus, apalagi di dalam bus ber-AC yang ditutup rapat seperti ini. Benar-benar merusak udara pagi, batin saya. Tapi saya tidak bisa berbuat banyak, hanya bisa pasrah ikut menghirup aroma minyak rebusan kayu mulia itu…rrrrhhhhh….

Kejutan yang diberikan Mr. K belum usai. Setelah sukses meracuni seisi ruangan bus dengan aroma minyak dagangannya, ia kembali berorasi. Lagi-lagi, ia mengucap kalimat-kalimat yang belum pernah saya dengar dari pedagang-pedagang lain di bus.

“…sabar dulu ya, pak! Lihat, bapak yang di belakang sana sudah mengangkat tangannya, tak sabar ingin segera membeli…”. Di tengah-tengah orasinya, tiba-tiba ia berbicara demikian, seolah-olah ada penumpang yang berusaha memotong pidatonya. Apa yang diucapkannya jelas sebuah kebohongan publik. Ia sengaja berkata demikian agar lebih meyakinkan para penumpang. Bodohnya kala itu, saya terpengaruh ikut menoleh ke belakang mencari orang yang dimaksud.

“…cara berjualan saya berbeda dengan pedagang lain. Kalau nanti saya sudah di sampai di belakang, dan anda yang di depan memanggil saya kembali, mohon maaf bila tidak saya layani. Bukan bermaksud sombong, tapi saya anggap anda kurang yakin membeli produk ini…”. Gilee, gaya amat nih pedagang. Jadi penasaran, sesekali saya pingin mencoba beli produknya saat dia sudah bergerak ke belakang. Tapi malas ah, gak penting juga!

Begitulah cara ia menjual. Menurut saya terlalu ribet untuk sekedar berjualan minyak angin di dalam bus kota. Namanya juga usaha, mungkin dengan cara demikian, ia bisa meraup rejeki lebih banyak. Tapi, saya tetap tidak suka dengan caranya menabur aroma minyak ke seisi ruangan bus.

*

Di lain hari, saya kembali melihat melihat Mr. K di dalam bus. Seperti biasa, tiap kali melihatnya, -juga saat melihat pedagang-pedagang lain yang menawarkan barang serupa-, saya sudah merasa bete duluan. Pagi saya serasa ternoda bila harus mengawali hari dengan aroma terapi minyak angin di dalam bus. Mood dan semangat untuk bekerja menjadi hilang karenanya. Sesaat setelah berada di dalam bus, ia tak menunggu lama untuk melakoni aktivitasnya berjualan. Surprise!! Hari itu ia tidak menjajakan minyak angin seperti biasanya, melainkan sebuah obat kumur yang berbentuk kristal. Apapun jenis barang baru dijualnya, setidaknya tidak akan merusak udara pagi di dalam bus.

Cara berjualan beserta kata-kata yang diucapkannya tidaklah berbeda dengan saat ia berjualan minyak angin. Yang berbeda hanyalah di bagian penjelasan produknya. Kali ini ia ditemani oleh seorang pria, mungkin semacam asistennya. Orang ini membantu Mr. K mempaktekkan langsung cara kerja barang dagangannya. Ia melarutkan alat kumur berbentuk kristal itu ke dalam air. Lantas, Mr. K mempersilakan seorang penumpang untuk berkumur dengan larutan itu, dan bekas kumurnya dimuntahkan ke sebuah mangkok. Mr. K mengklaim jika larutan itu bisa menghilangkan karang gigi beserta kotoran-kotoran di mulut apabila rajin digunakan. Yang selanjutnya terjadi benar-benar di luar dugaan. Untuk membuktikan betapa berkhasiatnya larutan tersebut, sang asisten mengedarkan mangkok kecil berisi bekas kumuran ke seluruh penumpang. Ia ingin memperlihatkan betapa banyaknya karang gigi ataupun kotoran yang berhasil dibersihkan oleh larutan. Sang asisten pun dengan antusiasnya menunjukkan mangkok itu dekat-dekat ke setiap penumpang. HIYEKKKKK!!! Bekas kumuran menjijikkan kayak gini dipamer-pamerin, untung saya gak sampai muntah-muntah!!

*

Rupa-rupa saja jaman sekarang orang mencari uang. Saya percaya, mereka melakukan itu bukan karena mereka memang ingin melakukannya. Kalau bisa memilih, mereka pasti tidak ingin menjalani peran sebagai pedagang di bus. Tapi mestinya mereka bisa memilih cara berjualan yang lebih baik, setidaknya jangan terlalu mengganggu kenyamanan orang lain. Mungkin ukuran kenyamanan yang digunakan antar orang bisa saja berbeda. Apa yang saya anggap tidak nyaman, belum tentu dianggap tidak nyaman juga bagi orang lain. Ah, saya tidak mau terlalu memusingkannya. Ada hal lain yang lebih penting yang bisa saya ambil. Seringnya melihat mereka, membuat saya lebih bersyukur, bahwa saya tidak perlu menjalani kehidupan seperti yang mereka jalani. Saya merasa lebih beruntung karena bisa menjemput rezeki dengan cara yang lain.

Namun, setelah saya berpikir lagi, mungkin opini saya tentang mereka bisa saja salah. Saya menganggap mereka kurang beruntung, tapi saya tak pernah tahu pasti bagaimana tanggapan mereka terhadap diri mereka sendiri. Tidak menutup kemungkinan jika mereka justru berbahagia dan sangat bersyukur dengan apa yang mereka jalani. Seperti ukuran kenyamanan tadi, rasa bersyukur dari tiap orang pun berbeda. Kapan mereka merasa bersyukur, tiap orang memiliki waktunya masing-masing. Ada yang benar-benar bisa bersyukur secara ikhlas tanpa sebuah alasan apapun. Sementara di sisi lain, ada yang bersyukur setelah diingatkan, ataupun setelah melihat sesuatu di sekitar yang menurutnya tidak lebih baik dari yang ia dapatkan.

  • view 277

  • Eny Wulandari
    Eny Wulandari
    1 tahun yang lalu.
    Aduh, saya suka ceritanya. Balada pengguna kendaraan umum. Saya juga sering menjumpai aneka pedagang di kendaraan umum tapi belum pernah seperti Mr. K. Jijay juga sih kalau sampai ketemu, hehe. Tapi ya namanya mencari nafkah. Kita pun harus memakluminya....

    • Lihat 2 Respon