Kisah Kento Momota, Ketika Sebuah Prestasi Besar Tak Mampu Menolongnya

Dhanang Adi
Karya Dhanang Adi Kategori Tokoh
dipublikasikan 25 April 2016
Kisah Kento Momota, Ketika Sebuah Prestasi Besar Tak Mampu Menolongnya

Perbulutangkisan dunia bulan ini dikejutkan dengan berita ditangkapnya Kento Momota oleh pihak kepolisian Jepang. Momota mesti kembali ke Jepang saat masih bertanding di Malaysia Open Super Series Premier untuk memenuhi panggilan polisi, sekaligus memaksanya mundur dari turnamen. Pebulutangkis peringkat 4 dunia berusia 21 tahun itu terbukti telah berjudi di sebuah kasino Jepang. Yang menjadi pertanyaan awal saya adalah, apakah judi dilarang di Jepang? Inilah yang mesti juga diluruskan. Menurut saya agak aneh bila negara seperti Jepang melarang keras perjudian. Setelah saya cari-cari informasi, Jepang ternyata memang melarang keras adanya kasino. Berjudi di kasino dianggap sebagai tindakan melanggar hukum. Sementara sejumlah bentuk judi lain selain kasino tetap dinyatakan legal oleh pemerintah Jepang.

Kento Momota tidak sendiri. Dia ditangkap bersama Kenichi Tago yang tidak lain adalah seniornya di tim bulutangkis Jepang. Bahkan Tago pun mengakui jika dialah yang mengajak Momota untuk berjudi di kasino ilegal. Keduanya dilaporkan telah menghabiskan banyak uang di kasino. Tago tercatat berjudi sebanyak 60 kali sejak dua tahun lalu, sementara Momota 6 kali. Awalnya mereka berjudi di kasino di luar Jepang. Kenekatan mereka untuk mencoba berjudi di kasino ilegal di negaranya akhirnya harus mereka bayar mahal. Kini keduanya harus siap menerima tuntutan hukum, yang sekaligus mengancam kelangsungan karier mereka sebagai atlet bulutangkis.

Untuk Kenichi Tago, mungkin publik sudah tak terlalu menaruh perhatian besar terhadapnya. Mantan pebulutangkis peringkat 2 dunia itu kini prestasinya merosot jauh akibat cedera yang kerap menghantuinya. Dari peringkat 2 dunia, sekarang Tago sudah terlempar dari 50 besar dunia, yang berarti membuatnya tidak berhak tampil di olimpiade Rio 2016. Kondisi ini jelas berbalik dengan Momota. Kento Momota pada masa ini berada dalam kondisi terbaik, dan disebut-sebut sebagai ancaman terkuat bagi Chen Long, Lee Chong Wei, dan Lin Dan untuk saling memperebutkan medali emas Rio 2016.

Sampai sekarang belum diputuskan secara pasti, sampai kapan Momota akan dilarang bertanding. Yang jelas, asosiasi bulutangkis Jepang telah memutuskan Momota tidak berhak tampil di olimpiade Rio 2016. Atlet yang melakukan pelanggaran hukum tidaklah pantas menjadi role model bagi masyarakat Jepang. Ketua asosiasi bulutangkis Jepang menyampaikannya di depan pers sambil menangis. Dia sebenarnya tidak ingin mengambil keputusan seperti itu, namun demi hukum, dia harus melakukannya. Kenichi Tago pun menunjukkan penyesalan yang mendalam. Ia mengatakan rela dihukum seberat-seberatnya termasuk bila harus mengakhiri karier bulutangkisnya, namun ia berharap Momota tetap diberi kesempatan tampil di Rio. Publik pun lalu beramai-ramai menyalahkan Tago karena dianggap membawa pengaruh negatif kepada Momota. Selayaknya habis manis sepah dibuang, mereka seolah lupa jika Tago dan Momota adalah pahlawan Jepang saat pertama kali merebut Thomas Cup 2014. Begitulah hidup, saat kita berada di atas, maka kita harus bersiap bila suatu saat nanti berada di posisi terbawah. Momota pun harus merelakan tempatnya di tim Thomas Cup Jepang bulan Mei nanti, yang berarti membuat peluang Jepang mempertahankan gelarnya menjadi tipis. Dalam acara jumpa pers itu, Momota mengutarakan penyesalannya yang begitu mendalam. Ia pun meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang selama ini telah membesarkannya hingga menjadi seperti sekarang.

Cita-cita masa kecil Momota untuk bisa berlaga di olimpiade yang sudah di depan mata, kini sirna sudah. Atau mungkin hanya tertunda, jika beberapa tahun ke depan Momota sudah terlepas dari segala masalah hukum sehingga bisa kembali berkompetisi. Saya pun membayangkan, jika Momota adalah atlet Indonesia, apakah bakal seperti ini juga? Kemungkinan besar adalah tidak. Jika dilihat secara mendalam, pelanggaran yang dilakukan Momota sebenarnya relatif tidak merugikan orang lain. Momota berjudi hanya untuk kesenangan pribadi dengan uang yang dimilikinya sendiri. Berbeda dengan cerita-cerita di sinetron Indonesia dimana orang mesti mencuri perhiasan ataupun akte tanah untuk dijual sebagai modal judi, yang pada akhirnya merugikan satu keturunan. Kalaupun di Indonesia juga dikenakan sanksi, mungkin tidak akan seberat di Jepang. Publik ataupun negara akan lebih memaafkan demi sebuah prestasi yang nantinya bakal membanggakan bangsa. Inilah bedanya Jepang dan Indonesia. Di Jepang, attitude adalah di atas segala-galanya. Tak peduli siapapun dia, apapun prestasi dan sumbangsih yang sudah diberikan untuk negara, jika sudah melanggar hukum tetap akan mendapat perlakuan yang sama dengan warga biasa sesuai aturan yang berlaku.

Dari kasus Kento Momota ini, ada beberapa pelajaran yang bisa diambil. Kelalaian Momota jangan sampai terjadi juga kepada para pebulutangkis muda Indonesia. Mereka mesti lebih hati-hati bertindak. Seperti kita ketahui, Momota masih tergolong sebagai atlet berusia muda, dimana pada usia-usia itu akan rentan untuk menerima pengaruh negatif yang datang dari luar. Kasus ini juga sebagai pembelajaran bagi bangsa Indonesia untuk belajar dari Jepang soal penegakan hukum. Tidak heran Jepang bisa menjadi negara maju karena mereka begitu tegas dalam menegakkan hukum. Perkembangan terakhir dari kasus ini, ada satu atlet Jepang lagi yang juga ditangkap untuk kasus serupa, yakni Kenta Nishimoto. Dia terbukti mengunjungi kasino sebanyak 2 kali, namun tidak ikut bertaruh. Kenta Nishimoto adalah juga anggota tim Jepang di Thomas Cup 2016 nanti. Seperti Momota, ia pun harus melepaskan tempatnya di tim nasional gara-gara kasus ini. Semoga segala permasalahan yang menimpa sejumlah pemain Jepang segera selesai. Karena bagaimanapun juga, persaingan bulutangkis dunia menjadi berkurang tanpa kehadiran mereka, terutama dengan ketiadaan Kento Momota.


  • ingrid setya nirmala
    ingrid setya nirmala
    1 tahun yang lalu.
    "usianya lebih muda dari Momota". Coba kalo mau share tulisan, ceki-ceki dulu datanya. Thanks

    • Lihat 1 Respon

  • Mochamad Syahrizal
    Mochamad Syahrizal
    1 tahun yang lalu.
    Mungkin Jepang melakukan hal itu karena jika Bulu tangkis merosot, Jepang tidak akan rugi-rugi amat #CumaOpini

    • Lihat 2 Respon

  • Pemimpin Bayangan III
    Pemimpin Bayangan III
    1 tahun yang lalu.
    Tulisan bagus nan kontemplatif, layak promo... ^_

  • Irfan Kriyaku.com
    Irfan Kriyaku.com
    1 tahun yang lalu.
    "Di Jepang, attitude adalah di atas segala-galanya. Tak peduli siapapun dia, apapun prestasi dan sumbangsih yang sudah diberikan untuk negara, jika sudah melanggar hukum tetap akan mendapat perlakuan yang sama dengan warga biasa sesuai aturan yang berlaku."

    • Lihat 2 Respon

  • Eny Wulandari
    Eny Wulandari
    1 tahun yang lalu.
    Sedaaappp.. Seneng ada yang suka nulis badminton seperti mas nya ini. Iya, sayang banget. Padahal Kento lumayan menjanjikan. Dia pemain yang berkualitas tetapi ya apa daya....

    • Lihat 3 Respon