Surat Cinta untuk Kartini (Review Film)

Dhanang Adi
Karya Dhanang Adi Kategori Lainnya
dipublikasikan 24 April 2016
Surat Cinta untuk Kartini (Review Film)

“Surat Cinta untuk Kartini” adalah film karya sutradara Azhar Kinoi Lubis dengan pemeran utama Chicco Jerikho dan Rania Putri Sari. Dilihat dari judulnya, sudah jelas film ini diputar untuk menyambut momen peringatan Hari Kartini. Ibu Kartini disebut-sebut sebagai pahlawan wanita peletak cikal bakal emansipasi wanita di Indonesia. Namun beberapa tahun terakhir ini, saya sering membaca pro kontra soal perjuangan Kartini setiap menjelang peringatan Hari Kartini. Banyak yang mempertanyakan, kenapa harus Kartini yang diperingati secara khusus? Bagaimana dengan Cut Nyak Dien, Dewi Sartika, serta pahlawan wanita Indonesia lainnya? Disini saya tidak akan membahas masalah tersebut, karena saya bukan ahli sejarah yang tahu detail perjuangan mereka, dan saya juga bukan saksi sejarah yang sudah lahir di jaman penjajahan. Jadi, mari fokus ke filmnya saja ya!

“Surat Cinta untuk Kartini” adalah film fiksi berlatar belakang sejarah di awal abad 20. Sebagian kehidupan pribadi Kartini yang ditampilkan di film bukanlah kisah yang sebenarnya. Tapi setidaknya, kita bisa melihat situasi yang pernah terjadi dalam kurun waktu itu. Mungkin banyak yang belum tahu karakter keseharian Kartini seperti apa. Kalau melihat dari deretan foto pahlawan nasional yang ada di sekolah-sekolah, sepintas saya berpikir Kartini orangnya tenang dan pendiam. Padahal tidak seperti itu. Justru sebaliknya, Kartini adalah pribadi yang periang dan banyak tertawa. Karakter inilah yang coba dibawa Rania Putri Sari sebagai pemeran Kartini. Senyum dan tawa lebar yang dimiliki Rania sangat mendukung karakter yang diinginkan, walau secara keseluruhan saya menilai kualitas akting Rania belum terlalu bagus dan natural.

Di bagian awal film, saya merasa kurang sreg dengan alur yang dibuat. Cerita dalam film adalah kisah yang disampaikan seorang guru kepada murid-muridnya yang berusia 7 tahun. Sementara setengah dari kisahnya sendiri adalah tentang percintaan, bahkan ada kawin paksa segala. Kurang cocok sebagai bahan pembelajaran untuk anak-anak seusia itu, meski sifatnya hanya sebagai pemanis cerita. Menurut saya lebih baik langsung masuk ke cerita saja, tak perlu adegan guru dan murid-muridnya di dalam kelas sebagai pengantar. Ya, tapi mungkin ini masalah selera saja sih.

*

Diceritakan, Kartini adalah sosok wanita ningrat keturunan bupati Jepara yang mencoba memberontak atas nasib yang dialaminya. Status ningrat yang ia sandang justru membuatnya merasa terkekang. Kartini sulit bertindak apapun yang ia mau karena terbentur dengan segala aturan yang mesti ia patuhi sebagai keturunan ningrat. Ibarat harimau, ia adalah harimau yang terkurung dalam kandang. Cita-cita utamanya adalah membuat sekolah untuk kaum bumiputera, terutama bagi wanita pribumi yang kala itu hampir tak tersentuh dengan yang namanya pendidikan. Banyak tantangan yang harus ia hadapi untuk mewujudkan keinginannya.

Kecerdasan dan kecantikan yang dimiliki Kartini berbanding terbalik dengan kehidupan asmaranya. Ada sesosok laki-laki yang sangat mengaguminya. Namanya Sarwadi (Chicco Jerikho), duda beranak 1 yang berprofesi sebagai tukang pos. Awal mula Sarwadi mengenal Kartini adalah ketika ia mesti mengantarkan surat-surat yang dialamatkan ke rumah Kartini. Sarwadi sudah jatuh cinta saat pertama kali melihat sosoknya. Kekaguman Sarwadi semakin bertambah tatkala mendengar cita-cita Kartini yang ingin memberikan pendidikan bagi kaum bumiputera. Sarwadi juga lah orang pertama yang membantu Kartini menjalankan pendidikan bagi anak-anak perempuan di kampungnya. Sampai pada suatu hari, timbul keberanian dari Sarwadi untuk menulis surat cinta kepada Kartini. Tentu saja, tidak mudah bagi Sarwadi mendapat cinta Kartini. Status sosial yang jauh berbeda, serta adanya perjodohan antara Kartini dengan seorang pejabat Rembang, membuat Sarwadi dalam posisi yang sulit. Kartini pun seolah tak kuasa melawan segala nasib yang sudah digariskan untuknya. Bagaimana akhir dari kisah Sarwadi dan Kartini, nonton sendiri saja ya. Hehehe.

*

Cukup menarik ketika aktor Chicco Jerikho adalah yang dipilih memerankan Sarwadi. Chicco setahu saya bukan keturunan Jawa (mohon koreksi bila salah), namun mesti memainkan karakter pria kampung yang harus berlogat Jawa sangat kental. Alhasil di sepanjang film, Chicco mesti berdialog dengan nada bicara yang medok. Menurut saya, sebagian sudah berhasil, namun terkadang terasa kurang natural. Ada juga yang rasanya agak berlebihan, hingga karakter Sarwadi ini malah sempat mengingatkan saya pada karakter Cecep yang sempat ngetop diperankan Anjasmara di sinetron jaman dulu. But, its okay. Chicco sudah berusaha yang terbaik. Setidaknya semakin membuktikan eksistensinya di dunia akting dengan berani memainkan segala macam karakter. Peran yang cukup sukses menurut saya justru ada di karakter pendukungnya, yaitu Mujur dan budhe. Mujur adalah sahabat Sarwadi yang senantiasa meledek Sarwadi, namun sesungguhnya ia baik dan setia. Sementara budhe adalah pembantu Kartini yang sering memarahi Sarwadi saat Sarwadi mencoba mendekati Kartini. Kehadiran tokoh Mujur dan budhe membuat film ini menjadi lebih segar dan menghibur.

Secara setting, tidak banyak hal-hal spesifik yang menunjukkan jika film ini berlatar awal abad 20. Settingnya sebagian besar di pedesaan, dimana jaman sekarang pun masih bisa dijumpai situasi yang demikian. Yang membedakan hanyalah properti-properti pendukungnya, seperti pakaian, kendaraan, perabotan, dsb. Cukup detail menurut saya. Tapi saya juga tak bisa menilai terlalu jauh karena tidak tahu persis kondisi waktu itu seperti apa. Overall, film “Surat Cinta untuk Kartini” cukup layak untuk ditonton karena sarat dengan pengetahuan sejarah yang akan membuka mata kita. Media film ini juga bisa menjadi media alternatif pembelajaran bagi generasi sekarang yang mungkin merasa bosan hanya dengan belajar sejarah di dalam kelas. Film bertema sejarah ini sekaligus semakin memperkaya tema perfilman nasional di tahun 2016 ini. So, maju terus perfilman Indonesia!

  • view 210