Menanti Kebangkitan Bulutangkis Indonesia di Tahun 2016

Dhanang Adi
Karya Dhanang Adi Kategori Lainnya
dipublikasikan 19 April 2016
Menanti Kebangkitan Bulutangkis Indonesia di Tahun 2016

Turnamen bulutangkis kelas super series telah menyelesaikan 4 dari 13 seri yang akan dipertandingkan di tahun 2016 ini. Ada fakta yang menarik dan cukup menggembirakan. Indonesia untuk sementara memimpin perolehan gelar juara dengan 5 gelar, disusul dengan Tiongkok dan Jepang yang sama-sama mengoleksi 4 gelar. Kelima gelar bagi Indonesia diraih merata di seluruh turnamen, Praven/Debby di All England, Kevin/Gideon di India, Tontowi/Lilyana di Malaysia, Sony Dwi Kuncoro dan Greysia/Nitya di Singapura. Sektor tunggal putri merupakan satu-satunya nomor yang belum mampu menyumbangkan gelar. Kualitas tunggal putri Indonesia memang masih jauh dari negara-negara pesaing kuat di nomor ini. Jangankan di level super series, untuk berjaya di level GPG/GP saja sangat berat bagi pemain tunggal putri Indonesia.

Saya teringat prestasi bulutangkis Indonesia di sekitar periode 2011-2012. Kala itu, praktis kita hanya mengandalkan Tontowi/Lilyana untuk meraih gelar super series. Tak jarang Indonesia hanya menyisakan mereka untuk bertahan di babak semifinal hingga menjadi juara di level super series. Sempat muncul nama Simon Santoso yang menjadi kampiun di Indonesia Open Super Series Premier 2012. Selain itu, hampir tak ada pemain Indonesia yang memiliki gelar prestisius. Puncaknya adalah di olimpiade London 2012. Beratnya beban yang harus ditanggung Tontowi/Lilyana sebagai tumpuan utama untuk meraih medali emas akhirnya berdampak buruk. Mereka bahkan gagal untuk sekedar meraih perunggu, sekaligus menjadi olimpiade pertama dimana bulutangkis Indonesia tak mampu meraih 1 medali pun.

Di periode 2013-2014, beban Tontowi/Lilyana mulai berkurang dengan munculnya pasangan ganda putra Ahsan/Hendra. Mereka bahu-membahu bergantian meraih gelar super series untuk Indonesia, termasuk sama-sama menjadi juara dunia 2013. Selain mereka, Simon Santoso sempat tampil mengejutkan dengan meraih gelar Singapore Open Super Series. Lantas ada Tommy Sugiarto & pasangan Kido/Gideon yang juga meraih gelar super series pertama mereka di periode ini. Perolehan masing-masing 1 gelar super series yang mereka raih tentu masih di bawah prestasi Tontowi/Lilyana dan Ahsan/Hendra yang menjadi penyumbang gelar terbanyak bagi Indonesia. Di akhir 2014 juga muncul ganda putri Greysia/Nitya yang meraih emas Asian Games, sekaligus menjadi harapan baru Indonesia untuk kompetisi di tahun 2015.

Greysia/Nitya pun akhirnya meraih gelar super series pertama mereka di Korea Open Super Series 2015. Sebelumnya, ada pasangan Ricky/Angga yang merebut gelar super series pertamanya di Singapura. Ahsan/Hendra tetap menjadi penyumbang gelar terbanyak, sementara Tontowi/Lilyana justru terpuruk dengan tidak meraih satu pun gelar super series di tahun 2015

*

Persaingan turnamen level super series di awal 2016 sangatlah ketat, terutama karena mendekati batas akhir pengumpulan poin olimpiade Rio 2016. Praveen/Debby yang tengah berjuang mengamankan keikutsertaan mereka di Rio berhasil tampil perkasa di awal tahun dengan memenangkan gelar bergengsi All England 2016. Sebuah gelar prestisius sekaligus gelar super series pertama di sepanjang karier Praveen/Debby. Pemain muda Indonesia lainnya yang berhasil meraih gelar super series perdana mereka di tahun 2016 adalah pasangan Kevin/Gideon yang menjadi juara di India. Bagi Gideon sendiri, ini adalah gelar super series keduanya setelah dulu pernah juara bersama Markis Kido. Greysia/Nitya kembali menunjukkan konsistensinya sebagai ganda putri papan atas dunia dengan merebut gelar super series kedua mereka di Singapura.

Yang cukup melegakan di awal 2016 ini adalah kembalinya Tontowi/Lilyana di track juara. Setelah sekian lama tanpa gelar super series, mereka berhasil kembali meraihnya di Malaysia Open Super Series Premier. Kemenangan mereka sekaligus mengembalikan harapan masyarakat kepada mereka untuk berbuat banyak di Rio 2016. Diantara semua gelar super series yang sudah diraih Indonesia di 2016, kemenangan Sony Dwi Kuncoro di Singapura adalah yang paling mengejutkan. Bagaimana tidak, Sony harus merangkak dari babak kualifikasi hingga akhirnya bisa menjadi juara. Ia membuktikan masih bisa berprestasi meski tidak lagi di pelatnas, dan banyak yang meragukannya karena cedera panjang yang pernah dialaminya. Gelar ini merupakan gelar super series pertamanya sejak 2010 silam, atau gelar super series kelima sepanjang kariernya.

Saya cukup senang melihat daftar pemain Indonesia yang berhasil juara super series sampai April 2016 ini. Nama-namanya merupakan komposisi antara pemain senior – pemain muda, serta pemain pelatnas – non pelatnas. Siapapun yang menjadi juara tidak menjadi masalah karena mereka sama-sama membawa nama Indonesia. Walau disini saya berharap lebih banyak lagi pemain muda Indonesia yang bisa merasakan juara super series. Itu tidak mudah mengingat persaingan di 2016 ini saya perkirakan bakal sangat ketat. Lihat saja Tiongkok. Biasanya mereka mendominasi jumlah gelar yang diraih, jauh lebih banyak daripada negara-negara lain. Siapa yang menyangka jika sementara ini justru Indonesia sedikit berada di atas Tiongkok. Beberapa tahun lalu mungkin gelar tunggal dan ganda putri sudah hampir dipastikan disegel oleh Tiongkok. Namun di tahun 2016 ini, mereka belum meraih gelar di tunggal putri, dan baru 1 gelar di ganda putri. Di ketiga nomor lainnya pun menjanjikan persaingan yang ketat, dimana tidak ada satu negara pun yang benar-benar mendominasi di sebuah nomor.

Target utama semua negara bulutangkis di 2016 ini adalah olimpiade Rio. Tak terkecuali Indonesia yang menjadikan olimpiade Rio sebagai sasaran utama, apalagi mengingat keterpurukan Indonesia di olimpiade sebelumnya. Mudah-mudahan prestasi atlet Indonesia di awal tahun ini merupakan indikasi baik untuk prestasi di Rio nantinya. Semoga pula ini merupakan pertanda kebangkitan bulutangkis Indonesia yang cukup lama terpuruk dalam beberapa tahun terakhir. Selamat bertanding atlet-atlet Indonesia, jayalah terus bulutangkis Indonesia.

Dilihat 749

  • Eny Wulandari
    Eny Wulandari
    1 tahun yang lalu.
    Seneng nemu inspirator yang mencintai dunia tepok bulu seperti saya, hehe. Sebelumnya salam kenal mas. Saya intinya sepakat dengan isi tulisan ini. Optimistis menatap Olimpiade Rio tahun ini. Terharu bgt minggu lalu liat Sony juara di Singapura, dari babak kualifikasi dan ngalahin Lin Dan pulak.. Dan ya, ikut lega Owi/Butet menang lagi. Intinya, banyak andalan skrg. PravDeb, Nitya/Grey juga oke, hehe. Maaf kalo terkesan sotoy... Salam olahraga!