My Teeth My Adventure

Dhanang Adi
Karya Dhanang Adi Kategori Kesehatan
dipublikasikan 16 April 2016
My Teeth My Adventure

Di masa kecil dulu, bisa dibilang sakit gigi adalah penyakit yang paling akrab dengan saya, bersaing ketat dengan pilek, batuk, demam. Budaya di keluarga yang kurang terlalu concern dengan masalah kesehatan gigi, semakin mengakrabkan saya dengan penyakit ini. Saya tidak akan menyalahkan mereka. Saya paham benar kehidupan keluarga-keluarga di kampung. Mereka baru cemas tatkala anak-anaknya mengalami demam berhari-hari. Sementara jika ada yang sakit gigi, ah sebentar lagi paling juga sembuh sendiri. Mudah-mudahan jaman sekarang tidak seperti itu lagi. Dampaknya, setelah belasan hingga puluhan tahun kemudian, sang anak yang sudah beranjak gede dan berpenghasilan, akan berupaya mencari pemecahan masalahnya sendiri. Sudah saatnya untuk menebus masa lalu yang kelam yang pernah terjadi di dalam mulut.

Entah dari mana datangnya, tiba-tiba saya mendapat semacam hidayah untuk mau memeriksakan gigi. Awalnya saya berpikir, tiap tahun di tempat kerja mendapat jatah asuransi kesehatan, namun tak pernah digunakan karena alhamdulillah saya tidak pernah sakit serius yang mesti merujuk ke dokter. Lalu terbersit ide, kenapa gak saya pakai saja untuk periksa gigi? Toh ada yang bayarin ini. Terakhir kali saya ke dokter gigi sudah lebih dari 5 tahun lalu untuk mencabut gigi sekalian membersihkan karang gigi. Kala itu untuk pertama kalinya saya merasakan juga yang namanya pembersihan karang gigi. Sementara untuk gigi-gigi yang bermasalah sejak lama, masih saya biarkan saja. Mungkin karena saya sudah terlanjur muak dengan gigi-gigi itu, jadi sama sekali tidak ada niat untuk membereskannya meski sudah bertemu dokter gigi.

Mumpung kesadaran ini sekarang tiba-tiba muncul, sebaiknya segera saya tindaklanjuti. Kalau ditunda lagi, nanti ujung-ujungnya bakal batal. Sempat cari-cari referensi sebentar, lantas saya menghubungi sebuah klinik. Saya bingung untuk menjawab saat ditanya mau melakukan perawatan apa. Saya tidak tahu kondisi gigi saya sudah sebusuk apa dan mesti diapain. Akhirnya saya bilang konsultasi dulu sama dokter giginya. Terserah, nantinya mau diambil tindakan bagaimana, saya nurut saja. Alias pasrah. Kami pun mengatur jadwal pertemuan, dan sudah sepakat jika beberapa hari lagi saya akan ke klinik.

*

Akhirnya, tiba juga hari H untuk periksa gigi. Jreng jrenggg!

Klinik gigi yang saya tuju ada di daerah Kemang, namanya Royal Smile Dental. Deg-degan rasanya bakal kembali bersentuhan dengan alat-alat perangnya dokter gigi, yang oleh sebagian orang mungkin dianggap mengerikan. Saya pun sudah terbayang dengan bunyi desingan alat-alatnya. Hmm, seingat saya cukup memekikkan telinga. Karena tekad sudah kuat, segala pikiran negatif saya buang jauh-jauh. Percayakan sepenuhnya kepada ahlinya. Jika kita sudah ikhlas mempercayakan segalanya kepada dokter yang menangani, insya allah dokternya juga akan memberikan segala kemampuan terbaiknya.

Interior di dalam klinik didesain full colour. Di beberapa bagian dindingnya ada gambar-gambar kartun. Overall, suasananya lumayan santai. Saking nyamannya, saya malah jadi kepingin bobok siang saat duduk di sofa menunggu dokternya. Konon katanya sengaja dibuat demikian untuk mengurangi rasa takut dari pasien, yang mungkin selama ini menganggap ruang periksa gigi adalah ruangan horor. Bagi saya pribadi yang sudah sarat pengalaman sakit gigi, horor tetaplah horor. Hahaha. Rasa sakit takkan berkurang hanya dengan melihat dinding warna-warni. Tapi bagaimanapun juga, suasana ini cocok bagi pasien anak-anak ataupun yang pertama kali periksa gigi. Setidaknya bisa menciptakan kesan awal yang menyenangkan, yang pada akhirnya mengurangi tingkat kecemasan pasien.

Nama dokter gigi saya drg. Andy, yang ternyata merupakan salah satu dokter seleb di tanah air. Kesan pertama, penampilan dan gaya bicaranya lumayan meyakinkan untuk menjadi seorang dokter. Ya memang harus begitu. Untuk segala penyakit apapun, pasien mesti yakin sejak awal akan kapasitas dokter yang bakal merawatnya. Lantas saya bercerita sejarah panjang gigi saya sejak kecil hingga dewasa, walau saya sendiri sebenarnya kurang yakin dengan apa yang saya sampaikan. Untuk lebih jelasnya, saya pun diminta duduk di kursi pasien. Awalnya rada malu dan ragu saat mesti membuka mulut pertama kali. Bagaimana jika nanti dokter giginya tiba-tiba berkata, “Ampun deh, gigi kok bisa hancur gini!!!”  Nggak mungkin juga kali, walau bisa saja dalam hatinya memang berkata demikian. Diutak-atik sana sini, plus sedikit tanya jawab, akhirnya terkuaklah permasalahannya. Dan ternyata, masalah gigi saya sangat kompleks, pemirsa! 

Gigi saya yang berlubang besar ada dua. Selain itu ada gigi nyempil tinggal seupil yang lebih baik dicabut. Karang gigi sangat tebal karena sudah bertahun-tahun tidak dibersihkan. Satu lagi yang  tidak saya sadari selama ini, ada semacam daging tumbuh (polip) di sekitar gigi berlubang yang bawah. Polip itulah yang ternyata menjadi biang kerok di area gigi kiri bawah sehingga tidak bisa untuk mengunyah ataupun disikat karena nyeri bila ditekan. Sebenarnya saya sudah tahu ada penampakan polip di area tersebut, cuma sebelumnya tidak tahu itu apa. Dan setiap iseng bercermin mengintip area tersebut, buru-buru saya mingkem lagi, karena tidak tega melihat bentuknya yang sudah tidak karuan.

Banyak yang mesti dibereskan, jadi agak bingung harus memulai dari mana. Akhirnya diputuskan untuk pembersihan karang (scaling) terlebih dahulu. Scaling ini bukan scaling biasa karena karang giginya pasti sangat banyak. Terutama di area gigi kiri bawah yang tidak pernah disikat, karang giginya sudah setebal kulit badak. Yang sabar ya dok, ketemu gigi pasien seperti gigi saya. Scaling ini rasanya tidak sakit, cuma rada capek mangap saja. Plus kadang merasa kurang nyaman kalau liurnya sudah terlalu banyak, jadi mesti sering-sering berkumur. Scaling selesai, langsung lanjut ke perawatan selanjutnya. Duh, perjalanan masih panjang. Perawatan berikutnya adalah pemotongan polip. Saya lupa apa istilahnya di dunia medis. Jadi, polip diolesin semacam obat bius, terus langsung dipotong begitu saja. Cepat dan tidak sakit.

Ajaib. Sejak polip itu dipotong, saya bisa mengunyah makanan dengan gigi kiri saya. Walaupun terbatas pada makanan lunak dan masih sering nyangkut di lubang gigi, tapi bagi saya itu sudah kemajuan besar. Rasanya seperti terlahir kembali. Hahaha. Permasalahan selama puluhan tahun terselesaikan hanya dalam hitungan menit. Saya jadi mikir, kemana saja saya selama ini? Gak papa lah, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. O iya, sewaktu kunjungan pertama ini, dokter giginya sempat salah tulis di kwitansi pembayaran, dan baru saya sadari saat sudah tidak di klinik. Berhubung kwitansi itu sangat penting untuk pengurusan asuransi, maka saya hubungi dokternya untuk membuat kwitansi baru. Eh, sama dokternya malah ditawarin untuk sekalian diantarkan kwitansinya ke kantor saya. Wah, baik sekali drg Andy ini. Padahal baru kenal kemarin dan saya bukan siapa-siapa. Jarang-jarang lho ada dokter yang  mau datang ke tempat pasien buat nganterin selembar kertas, apalagi di tengah kesibukan beliau sebagai dokter gigi, dosen, dan (katanya) model iklan juga.

*

Gigi berlubang saya yang pertama diperiksa adalah gigi bawah. Ada dua pilihan, mau dicabut atau dipertahankan. Saya pilih dipertahankan. Untuk ditambal biasa sudah tidak mungkin karena lubangnya sudah terlalu besar dan dalam. Dari hasil konsultasi dengan drg Andy, saya sepakat untuk dipasang crown. Nah, sebelum pemasangan crown ini, mesti melewati proses perawatan saluran akar gigi atau biasa disebut root canal treatment. Root canal treatment memerlukan 4-5 kali kunjungan untuk satu gigi. Waduh, perjalanan bakal tambah panjang lagi. Prosesnya cukup lama karena mesti mencari saluran akar yang jumlahnya 3-4 buah per gigi. Akar-akar itu dibersihkan, lalu diisi dengan semacam zat entah apa namanya. Butuh beberapa kali foto rontgen selama proses root canal treatment tersebut. Sumpah, saya kurang menyukai sesi poto rontgen ini. Bukan karena sakit. Tapi mulut tiba-tiba sering merasa eneg karena di langit-langit tersodok kertas foto. Entah rongga mulut saya yang terlalu sensitif atau mbak-mbak perawatnya kurang pas naruh kertas fotonya, pokoknya saya kurang suka.

Berbekal kesabaran setiap minggunya, termasuk sabar saat menghadapi tragedi ban bocor malam-malam di senayan saat menuju klinik, root canal treatment akhirnya kelar juga. Fyuh! Rasanya nyeri-nyeri sedap. Ada kalanya selama proses itu, gigi merasakan sedikit nyeri saat bersentuhan dengan alat-alat perangnya dokter. Tapi itu jarang kok. Secara keseluruhan masih aman terkendali. Modal saya sebagai pasien cuma sabar, berdoa, dan percaya sepenuhnya pada dokter.

Rencana pemasangan crown akhirnya batal. Menurut drg Andy, setelah dilihat-lihat lagi, sudah tidak ada ruang yang cukup untuk crown gigi. Kalau dipaksakan dipasang akan mengganggu proses pengunyahan gigi-gigi lainnya. Saya pun sebelumnya sempat membayangkan, jika gigi berlubang ini berganti dengan crown seukuran gigi normal, lalu bertemu dengan gigi tepat di atasnya crown, maka gigi-gigi lainnya tidak akan saling bertemu antara bagian atas dan bawahnya. Ini berarti, saya bakal susah mingkem. Lantas muncul pertanyaan, apakah dulu sewaktu masih kecil dan gigi masih utuh, saya susah mingkem? Waduh, kalau benar seperti ini, masa kecil saya jelek sekali dong. Iseng saya tanyakan kepada drg Andy, pernahkah menjumpai pasien lain yang memiliki kondisi gigi serupa dengan gigi saya. Ceritanya, saya mencari teman senasib. Sayangnya jawabannya tidak. Saya pasien pertamanya dengan kondisi gigi tidak lazim seperti ini. Bingung, antara harus sedih atau bangga mendengar kenyataan ini.

Dengan kondisi yang demikian, masalah estetika untuk menyelesaikan permasalahan gigi ini agak dikesampingkan. Toh letaknya di dalam, tidak terlihat dari luar. Yang terpenting adalah fungsi gigi bisa kembali seperti semula. Sebagai ganti dari crown, setelah proses perawatan saluran akar, gigi langsung ditambal permanen. Bentuk tambalannya dimodifikasi agak aneh karena mesti mengikuti susunan gigi lainnya, dan untuk menjaga agar proses pengunyahan tidak terganggu. Dan akhirnya, semua perawatan untuk gigi berlubang yang bawah ini pun selesai. Alhamdulillah. Setengah perjalanan dari seluruh rangkaian perawatan di dalam mulut telah terlewati. Masih ada setengahnya lagi bok. Fyuh.

*

Dari seluruh jenis perawatan gigi, pencabutan gigi adalah jenis perawatan yang paling menyakitkan bagi pasien. Apalagi jika mesti melibatkan pembedahan. Untungnya saya belum pernah merasakan pembedahan. Termasuk dalam episode pencabutan gigi kali ini, masih tergolong pencabutan biasa. Hanya saja agak susah karena bagian gigi yang nampak di luar mungkin cuma tersisa 2 milimeter, dan letaknya terjepit diantara 2 gigi. Saya sendiri malah tidak menyadari bagaimana prosesnya hingga gigi itu menjadi tinggal seupil, dan baru tahu keberadaannya setelah periksa disini.

Benar saja, dokternya agak kesulitan menghadapi gigi seuprit nan bandel ini. Beberapa kali beliau mengganti jenis tang yang dipakai. Saya sih cuma bisa pasrah dan berdoa. Saat gusi disuntik di awal untuk proses pembiusan, rasa nyerinya masih bisa saya tahan. Tapi begitu merasakan tang memuntir-muntir gigi ini, awwwwww!! Rasanya luar biasa. Tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Biarpun sudah dibius, rasa sakitnya tetap ada. Sampai pada titik ini, mendadak semua kenyamanan yang ada di dalam klinik seolah lenyap. Sofa klinik yang empuk, dinding warna-warni nan elok, acara tv kabel di kursi pasien, semua seakan hanya fatamorgana. Hahaha. Tidak ada yang bisa membantu mengurangi rasa sakit. Saya pun tidak bisa menyembunyikan ketegangan. Mata suka merem-merem gak jelas untuk menahan nyeri, tangan keringat dingin, wajah hampir dipastikan pucat. Gelagat ini rupanya tercium oleh mbak-mbak perawat yang sedari tadi membantu drg Andy. Layaknya ibu peri yang senantiasa datang memberikan ketenangan, perawat itu mencoba menenangkan saya. Saya diminta membayangkan hal-hal lain di luar sakit gigi. Tangan saya dipegangin sambil sesekali dielus-elus. Lantas saya diminta menarik nafas panjang, hembuskan, tarik nafas panjang, hembuskan. Lha, saya ini sebenarnya pasien gigi atau ibu hamil mau melahirkan ya?

Detik-detik menegangkan itu akhirnya berlalu. Akar giginya ternyata lumayan panjang, pantas saja susah. Gigi itu pun saya bawa pulang sebagai kenang-kenangan. Beberapa hari setelah pencabutan, saya merasakan ada yang tidak nyaman di area bekas pencabutan. Setelah berkonsultasi dengan drg. Andy, kemungkinan besar itu sariawan. Gusi saya mungkin sensitif, jadi mudah terluka terkena gesekan alat-alat pencabut gigi kemarin. Oleh drg Andy, saya ditawari Kenalog (obat sariawan agak mahal), dengan syarat mengambil sendiri di kampus tempatnya mengajar. Asyikkkk, dapat obat sariawan gratis plus bisa main-main ke kampus. Hahaha. Sudah lama sekali saya tidak merasakan masuk kampus. Sesampai di kampus, saya juga sempat ditraktir makan soto di kantin kampus. Wah, mudah-mudahan saya tidak tergolong pasien durhaka gara-gara banyak dapat gratisan dari dokternya.

*

Rangkaian perawatan gigi saya tinggal selangkah lagi. Tinggal menyisakan gigi berlubang yang atas. Sekarang sudah lebih santai menghadapinya, karena menurut saya, gigi atas ini tidak separah gigi berlubang yang bawah. Root canal treatment gigi atas semestinya bakal lebih simpel dibanding gigi bawah kemarin. Namun ternyata drg Andy berkata lain. Setelah diperiksa, justru gigi atas inilah yang paling parah. Di gigi atas ini juga sudah ada polip yang tumbuh subur. Bedanya dengan gigi yang bawah, polipnya tidak terlihat dari luar karena tumbuh dari dalam gigi, bahkan sudah membelah gigi. Wah, sakti juga nih polip sampai bisa membelah gigi segala.

Untuk dilakukan root canal treatment terhadap gigi ini, prosesnya bakal sulit, atau bahkan hampir tidak mungkin dilakukan. Dokter menyarankan sebaiknya dicabut saja. Waduh, bakal kehilangan gigi lagi nih. Masih terbayang sakitnya cabut gigi sebelumnya, sekarang mesti dicabut lagi. Dan kemungkinan besar akan lebih sakit karena kondisinya lebih parah. Tapi kalau memang ini yang terbaik, ya sudahlah. Pasrah. Berhubung drg Andy bakal berhalangan ke klinik di hari yang sudah saya rencanakan, saya pun dioper ke dokter gigi lain. Namanya drg Ines, yang spesialisasinya memang mencabut gigi  bermasalah tingkat lanjut. Sementara drg Andy sendiri sebenarnya adalah spesialis gigi palsu.

Tiba juga di hari eksekusi. Drg Ines sudah bersiap dengan alat perang dan pasukannya yang terdiri dari 2 perawat. Biasanya dengan drg Andy, cukup 1 perawat. Proses awalnya sama dengan cabut gigi sebelumnya, yaitu suntik bius. Selanjutnya, kalau dokter sudah mulai memegang tang, tahu sendiri lah apa yang bakal terjadi. Puntir sana puntir sini. Aw aww awww!! Sekuat mungkin saya coba menahan rasa sakitnya. Lantas, saya merasakan seperti ada yang sudah tercabut oleh tang. Untuk lebih yakinnya, saya melihat tang yang dipegang oleh drg Ines, dan ia meletakkan sebongkah gigi dari tangnya. Secepat inikah prosesnya? Saya hampir bahagia terharu karena semua telah berakhir. Tapi, kok tangnya masuk mulut lagi? Bukannya giginya sudah tercabut dok? Ternyata yang tercabut baru ¼ bagian. Karena giginya sudah terbelah-belah oleh polip, maka pencabutannya pun juga secara parsial. Oh, begitu. Baiklah, saya akan coba nikmati sisa proses pencabutannya yang masih 3x lipat dari bagian yang pertama. Cepat atau lambat pasti berakhir. Cabut gigi yang ini lebih sulit dan sakit daripada cabut gigi sebelumnya. Biang keroknya, siapa lagi kalau bukan si polip. Huh! Dan akhirnya, setelah berjuang dengan penuh kesabaran, gigi atas ini pun tercabut sempurna. Legaaaaaaaa.

*

Perjalanan bolak-balik ke klinik gigi selama beberapa bulan ini akhirnya membuahkan hasil. Hilang sudah sisi gelap yang menyelimuti kehidupan di dalam mulut selama puluhan tahun. Lagi-lagi saya berpikir, kemana saja saya selama ini? Ah, sudahlah. Ra usah dipikir jero. Saya beruntung karena mendapat dokter gigi yang baik dan klinik gigi yang bagus. O iya, setelah semua perawatan selesai, saya sempat sekali lagi ke kampusnya drg Andy untuk mengurus kwitansi pembayaran. Kalau yang pertama dulu ditraktir soto, kali ini ditraktir tongseng. Hehehe.

Sakit gigi itu sebenarnya salah satu penyakit yang paling bisa dicegah sekaligus paling bisa diobati. Hanya dengan rajin menyikat gigi 2x sehari plus kontrol ke dokter gigi 6 bulan sekali, sudah hampir pasti tidak bakal ada permasalahan gigi. Kalau menyikat gigi pun caranya mesti benar. Seringkali kita mendengar orang rajin menggosok gigi tapi tetap saja giginya bermasalah. Kemungkinan besar ya karena caranya menggosok gigi yang salah. Bila sudah terlanjur terkena sakit gigi, segera periksakan ke dokter gigi. Jangan dibiarkan terlalu lama, apalagi dibiarkan sampai puluhan tahun lamanya sampai giginya membusuk akut seperti gigi saya. 

Dokter gigi yang mempunyai skill tinggi sekarang ini banyak. Bagi saya, ada hal lain yang juga penting disamping sekedar skill, yaitu soal komunikasi. Tidak hanya untuk dokter gigi, tapi juga dokter-dokter lainnya. Bagaimana cara mereka berkomunikasi dengan pasien sangatlah penting. Mesti sabar, informatif, dan positif. Positif dalam artian harus selalu optimis dan jangan membuat pasien merasa takut ataupun tertekan. Bisa dibayangkan seumpama ketika saya kesakitan saat giginya dicabut, tapi dokternya ikutan panik atau malah menakut-nakuti. Yang ada saya bakal pingsan. Pasien yang sudah merasa nyaman akan memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada dokter yang merawatnya. Bagi sang dokter, ini adalah sebuah tanggung jawab yang mesti dibalas dengan memberikan segenap kemampuannya sepenuh hati. Dokter yang tepat, mungkin kurang lengkap jika tidak didukung tempat praktek yang nyaman. Seperti di tempat saya berobat ini, selain nyaman, interior ruangannya pun memiliki estetika. Sangat pas bagi pasien yang kebetulan berjiwa narsis. Jadi setelah selesai perawatan, bisa langsung selfie bareng dokter-dokter keren dengan background dinding yang menarik. Trus, diupload deh ke sosmed. Hehehe.