Putus Asa

Dewi Masyithoh
Karya Dewi Masyithoh Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 15 Juni 2016
Putus Asa

 “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu”.

 

Firman Tuhan diatas yang selalu menyadarkanku ketika sedang berputus asa. Haha, iya. Dalam banyak hal. Sering sekali rasa itu menyerangku ketika aku gagal atau tertinggal dalam mencapai mimpiku dibanding orang lain. Rasanya sungguh benar-benar ingin menyerah. Tapi, aku selalu berpikir berulang kali tentang tiga suku kata itu: me-nye-rah. Keputusan yang berpengaruh besar sekali nantinya. Resiko dan alternatif pilihan lain setelah melaksanakan tiga-suku-kata itu harus benar-benar dipersiapkan secara matang. Bukan sesuatu yang mudah. Seakan-akan melanggar takdirNya, mengingkari nikmatNya.

 

Rasa putus asa pastilah pernah menyerang setiap insan di muka bumi ini. Tapi tergantung pada masing-masing individu. Apakah ia akan bertahan atau menyerah? Apakah ia akan bersabar atau mendahulukan emosi sesaatnya? Refleksikan dengan iman yang ada pada diri. Apakabar imanmu? Iman yang sedang baik (naik) tak akan mengenal kata menyerah!  Putus asa tak ada dalam kamusnya. Berserah diri dan bersabar adalah kuncinya. Ini realita. Cobalah renungkan sejenak.

 

Bicara soal keimanan, pastilah tak ada manusia yang imannya lurus dan naik terus-menerus. Apalagi hanya manusia biasa seperti kita ini. Iman manusia itu layaknya ombak di lautan atau roller coaster, naik-turun terus, jarang bisa benar-benar berhenti dan lurus-lurus saja. Apa yang harus dilakukan? Ingatlah selalu pada Yang Maha Menciptakan, Yang Maha Membolak-balikkan Hati. Sulit memang disaat iman kita sedang turun dan kita sedang menikmati kehidupan yang fana ini. Namun teruslah ingat padaNya. Terserah bagaimana caranya. Agar disaat kenikmatan itu diambil, kita tidak sungkan kembali padaNya. Agar tidak terlalu sakit merasakan kehilangan.

 

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Percayalah. Tuhan adalah penulis skenario terbaik. Semua sudah diatur sedemikian rupa agar kehidupanmu baik-baik saja. Tinggal bagaimana kamu berusaha dan mensyukuri semua yang ada di naskah kehidupanmu saja. Semangat! 

 

Dewi Masyithoh | Sabtu, 5 Desember 2015

  • view 111