Jaga Perasaan dengan Menjaga Lisan

Jaga Perasaan dengan Menjaga Lisan

Dewi Suniyah
Karya Dewi Suniyah Kategori Renungan
dipublikasikan 28 November 2017
Jaga Perasaan dengan Menjaga Lisan

Seringnya bertemu dengan beragam orang dan memiliki karakter yang berbeda-beda. Sehingga mengharuskan kita untuk hati-hati dalam berkata dan bersikap. Atau malah sebaliknya, menyiapkan hati yang lapang jika sewaktu-waktu bertemu dengan orang yang dengan mudahnya menggoreskan luka lewat lisannya yang tajam, baik itu sengaja maupun tak sengaja.

Berhati-hati dalam berkata adalah suatu keharusan yang mesti dilakukan. Karena lisan memiliki tingkat ketajaman yang luar biasa. Melebihi tajamnya pisau bahkan samurai. Lisan memang senjata yang sekali melukai, maka akan sulit untuk menghapus bekasnya. Dan jenis lukanya pun adalah luka yang tak kasat mata. Ia ada tapi tak nampak. Ia memang tak mengalirkan darah. Tapi efeknya bisa lebih parah.

Masih lebih baik jika orang itu tipe orang yang menganggap semuanya adalah hal yang biasa dilakukan ketika bertemu dan saling mengobrol. Tentu berbagai candaan atau ungkapan-ungkapan yang biasa didengarnya adalah hal yang sudah lazim didengarnya. Sehingga ia akan memakluminya dan menerimanya dengan kelapangan hatinya. Tapi bagaimana jika orang itu adalah tipe orang dengan karakter yang kecil hatinya dan dia adalah perasa? Tentu ini akan menjadi alarm bagi kita yang senang berkata seenaknya atau ceplas-ceplos tanpa bisa di rem.
Kadangkala dalam sebuah obrolan santai seringkali masing-masing dari kita melemparkan candaan atau saling balas dengan berbagai ungkapan. Entah itu hanya sekedar ungkapan biasa atau ungkapan yang sebenarnya tidak bermaksud apa-apa tapi malah terkesan menyinggung perasaannya.

Disitulah sebenarnya yang perlu diwaspadai. Kita memang tak bermaksud apa-apa, tapi ketika salah berkata, alhasil tersayatlah hatinya. Terutama bagi mereka yang sangat halus perasaannya atau sangat sensitif sekali, tentu saat tak sengaja atau bahkan dengan sengaja mendengarnya, dan itu terasa untuk dia sekali, maka kalimat-kalimat tersebut tak ubahnya seperti racun sianida yang sekali tenggak langsung mematikan dirinya. Meskipun sebenarnya kita sendiri tak sengaja mengatakannya.

Mungkin awalnya kita tak menyadari bahwa kita baru saja menyakiti perasaannya. Tapi sayangnya otak sudah berhasil merekamnya lewat telinga yang mendengarnya dengan jelas. Alhasil setelah obrolan itu usai, rasa nyeri di ulu hati mulai menggejala. Sayatannya sangat tajam bahkan begitu dalam. Perih dan rasanya bergejolak. Ingin membalas tapi sayang momen itu sudah lewat. Dan ia baru menyadarinya saat obrolan itu telah usai.

Akan berbeda lagi case-nya ketika kita bertemu dengan orang yang memiliki karakter tak suka basa-basi, to the point, dan atau ceplas-ceplos. Tentu ini akan lebih merepotkan lagi. Bertemu dengan tipe orang seperti itu harus bersiap untuk terluka kala lisannya tak mampu menahan setiap kalimat yang akan diloloskannya. Bisa jadi ia akan dengan terang-terangan bertanya atau berkata semau dia. Tanpa tembok penghalang, tanpa melewati proses filtrasi, dia akan mengatakannya saat itu juga. Entah nanti bagaimana perasaan orang yang menjadi lawan bicaranya, ia pikirkan nanti saja.

Kewaspadaan dan kelapangan hati sangat diperlukan disana. Meski segala yang ia keluarkan lewat lisannya itu benar, tapi tak seharusnya dia berkata demikian, bukan? Apalagi jika terjadi ruang publik, sungguh itu akan sangat memalukan. Seolah kita baru saja di ‘telanjangi’ lewat kata-kata yang ia lontarkan tanpa berpikir ulang sebelum mengatakannya.

Sulit. Sangat sulit memang menjaga perasaan orang lain agar tak terluka perasaannya karena tajamnya lisan kita. Maka dari itu, jika memang tak mampu untuk berkata baik, lebih baik diam saja. Setidaknya dengan diam, kita tak menambah luka hati seseorang. Selain itu berpikirlah dahulu sebelum ingin berkata suatu hal.

Terkadang beberapa dari kita memilih untuk mengatakannya langsung dan saat itu juga tanpa memikirkan bagaimana perasaan seseorang yang menjadi lawan bicara kita. Tapi perlu diingat pula, bahwa jangan terlalu terbawa oleh perasaannya sendiri ketika ada kalimat yang sebenarnya hanya bermaksud untuk bercanda tapi malah berubah jadi kalimat serius yang berhasil merobek perasaan. Seketika hati penuh sesak dengan ujaran-ujaran yang sebenarnya bisa ditanggapi dengan sikap santai bahkan biasa saja.

Begitulah, karakter orang memang berbeda-beda. Termasuk dalam menerima setiap kalimat yang keluar dari lisan. Tapi alangkah baiknya kita berusaha untuk menjaganya. Setidaknya dengan melakukan penjagaan, akan menghindarkan kita dari lebih banyak menyakiti orang lewat lisan yang terlampau tajam. Luka hatinya memang tak kelihatan. Tapi sekalinya dirasakan, butuh waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk memulihkannya hingga hilang pula bekas lukanya. Kecuali jika sang penawar luka sudah ditumpahkan disana. Mengguyurnya dengan kata sederhana. Sehingga tak butuh waktu lama bahkan hingga bertahun-tahun lamanya untuk bisa sembuh sampai hilang bekasnya. Apa itu penawarnya? Pastilah kawan semua sudah tahu jawabannya. Meski kadang ada yang mengatakannya tak cukup hanya dengan itu saja, tapi setidaknya dengan kata itu kita sudah menyadari apa yang menjadi kesalahan kita.

  • view 206