my dearest husband

my dearest husband

dewi juita
Karya dewi juita Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 November 2017
my dearest husband

Aku Eirin 20 tahun jurusan Ilmu Komunikasi di salah satu Universitas Swasta Jakarta. aku mengikuti berbagai organisasi. Disinilah awal kisah cintaku. Galih 21 tahun jurusan Ilmu Pemerintahan. Dialah laki-laki yang mampu  mengubah jalan hidupku.

Kisah cinta kami tak begitu sulit, Galih yang waktu itu menjabat sebagai ketua BEM dan aku sebagai wakilnya membuatku semakin dekat dengannya. Rapat demi rapat, acara demi acara, pertemuan dan lain sebagainya. hampir 12 jam kuhabiskan bersama dengannya hingga berakhir pada tumbuhnya rasa yang tak biasa diantara kita. Namun setelah 6 bulan berlalu, rasa yang menghantuiku, mengangguku dan bahkan menyapu seluruh hatiku tidak diberi kepastian olehnya. Dan akhirnya timbullah rasa cangung saat bersama dengannya.

Dua bulan setelah rasa cangung yang bergejolak dalam jiwaku, Galih memberikan sebuah kertas kecil yang menghujani seluruh wajahku

“aku 7 bulan terakhir ini menyukaimu, tapi aku tak berani mengatakannya, sebab aku tak mau buru-buru, ku pastikan rasa ini. Yah memang benar aku menyukaimu, ku katakan kepada orang tuaku dan mereka merestui. Eirin aku tak ingin pacaran, Eirin maukah kamu menikah denganku?”

Setelah membaca surat itu, aku merasa menjadi wanita yang paling beruntung didunia ini, aku takut, senang, sedih semua bercampur jadi satu. Ini nyata tapi aku tak percaya, bagaimana mungkin laki-laki yang selalu menjadi buah bibir para kaum hawa melamarku?, ku tatap wajahnya, dia tersenyum manis, semakin meleburkan jiwaku

“Galih, apa kamu serius, kita masih muda?” ku tanyakan padanya

“atas restu Tuhan semua akan menjadi baik”

Satu bulan pun berlalu, kami menikah,  kuliah lancar bahkan semakin mudah, karena hari-hari ku habiskan bersamanya, rasa cintaku padanya semakin hari semakin bergejolak, rasa kagumku padanya semakin hari semakin bertambah. Galih yang kini menjadi suamiku tidak pernah meninggikan suaranya saat berbicara denganku, dia selalu tersenyum bahkan jika menolak dia selalu berkata dengan lembut. Ah tapi setiap keputusanku jarang di tolak olehnya.

Satu tahun, dua tahun, sampai lulus kuliah, aku dan Galih memiliki 2 pangeran kecil yang semakin melengkapi hari-hari kami, Dino dan Dion mereka kembar, wajahnya mirip seperti Galih, senyumnya semunya mendominasi pada Ayahnya.

Aku bekerja disebuah perusahaan asing dan Galih bekerja sebagai dosen di salah satu Universitas Negri Jakarta. kisah cinta kami semakin hari semakin baik hingga saat itu, aku bertemu dengan rekan kerjaku Abdi yang usianya 3 tahun diatasku. Dia baik, dia banyak mengajarkanku pengalaman kerjanya.

Awalnya aku sering chat dengannya menanyakan seputar pekerjaan, lama-kelamaan aku menganggapnya sebagai kakak ku, dan aku mengaguminya, kini bukan hanya menanyakan soal kerja, tapi juga menanyakan keadaan keluarga sampai mengirimkan fotoku, juga sering menelponnya. Ku katakan kepada Galih, dia hanya tersenyum seperti biasa. (tidak ada niat selingkuh dengan Abdi. Tidak aku sangat mencintai Galih).

Tiga Tahun berlalu, aku panggil Abdi kakak dan dia mengenalkanku pada saudara serta keluarganya sebagai adik angkatnya (respon keluarga Abdi tidak begitu baik padaku mungkin karena aku yang berstatus istri orang dengan dua orang anak sedangkan Abdi belum menikah)

Waktu itu aku duduk disopa sambil menonton TV, tiba-tiba sebuah kertas diletakkan didepanku, ku pandangi dia, ternyata Galih suamiku, ku buka kertas itu lalu kubaca kata perkata. Sentak hatiku remuk seketika “TALAK 3”. Ku pandangi dia. Galih menangis sambil berkata

“ini berat bagiku, tapi aku tak mampu lagi menahan rasa cemburu yang semakin hari semakin menyiksa batinku”

“sayang” hanya itu yang mampu kuucapkan

“karena aku menyanyangimu, ku bebaskan kau dengan orang yang lebih kamu sayangi”

Tanpa berkata apapun galih meninggalkanku, dan kedua anakku. Satu bulan kemudian kini aku dan Galih telah resmi bercerai. Aku menyesal sangat menyesal, karena aku telah kehilangan permataku, telah kehilangan imamku, telah kehilangan kekasihku, tapi apalah dayaku, semua salahku, aku tak mengerti arti senyumnya, arti diamnya dan aku tak mengerti gejolak batinnya.

Hubunganku dengan Abdi pun ku putuskan, aku keluar dari kantor dan melajutkan hidupku hanya bertiga dengan putraku. Galih, aku sungguh menyesal…

 

  • view 193