Toleransi, Natal Dan Masa Kecilku

Dewie DeAn
Karya Dewie DeAn Kategori Renungan
dipublikasikan 25 Desember 2016
Toleransi, Natal Dan Masa Kecilku

Hidup dengan keluarga yang beragam agama begitu menyenangkan. Dalam keluargaku ada yang islam dan kristian. Saat aku kecil, hari natal adalah hari yang membahagiakan pula bagiku. Karena sepupu dan tetanggaku akan merayakan hari kebesaran mereka. Saat aku kecil kegiatan ibadah mereka aku juga hafal, dari liturgi kegiatan menghafal ayat-ayat alkitab yang dibawakan oleh anak-anak TK dan SD secara bergantian dan sambung menyambung. Acara kebaktian muda-mudi dengan lagu-lagu rohaninya. Aku jadi penonton setia mereka latihan. Bahkan beberapa lagu rohani mereka aku juga hafal.

Tidak hanya itu saja. Bahkan kakak sepupuku yang pernah tinggal bersama keluargaku juga seorang kristian yang taat. Setiap hari minggu juga dia aktif ke gereja untuk beribadah. Kami sekeluarga tidak pernah menghalanginya untuk beribadah. Sesekali aku juga ikut membaca Alkitabnya. Bahkan ada beberapa ayat alkitab yang sempat aku hafal meskipun sekarang sudah lupa. Mertua sepupuku juga ada yang kristian. Kami memanggilnya opung (panggilan nenek atau kakek untuk suku batak). Opung selalu datang ke rumah kami. Beliau sangat suka main ke rumah. Opung suka melihat orang muslim saat beribadah beliau pernah berkata "orang muslim kalau beribadah marlopes-lopes" (orang islam kalau ibadah lepes-lepes/sederhana dengan sarung dan peci atau telekung saja).

Tiba saat tahun baru. Tahun baru merupakan hari raya bagi saudaraku yang kristiani. Mereka menyediakan kue dan masakan layaknya idul fitri. Setiap acara itu pula mereka mengantarkan kue dan makanan ke rumahku. Tapi, mereka memang menyediakan kue dan masakan untuk orang muslim yang ditempah langsung dari pembuat kue dan rumah makan muslim. Mereka faham kalau muslim tidak boleh makan sembarangan dan lebih penting mengutamakan halal toyyiban.

Terlebih lagi ibuku. Dari kecil tinggal perkampungan mayoritas kristian. Muka, belakang, samping kanan, kiri gereja tinggi. Tapi, ibu tetap berteman baik dengan para tetangga. Ada marga simbolon, sitanggang, sihombing, pasaribu, rumahpea, siburian. Mereka berteman akrab meskipun hanya ibu seorang yang muslim. Saat ibu pindah dari kampung itu mereka juga sedih dan merasa kehilangan.

Kami sekeluarga tidak pernah mengucapkan natal kepada sepupu atau opung yang beragama kristian. Pernah suatu hari opung bertanya " kenapa kalian tidak pernah mau mengucapkan natal kepadaku?" Saat itu Ayah ku yang menjawab dengan tegas dan penuh kehati-hatian agar tidak salah tafsir. Akhirnya opung mengerti semenjak itu dia paham. Saat idul fitri pula. Sepupu dan opung yang selalu jadi tamu terheboh. Mereka datang dengan dandanan dan makeup seperti mau beribadah ke gereja. Mereka menyantap hidangan dengan suka cita. Kami pun bahagia.

Begitulah toleransi yang tercipta di keluargaku. Tidak saling memaksa untuk mengikuti apa yang kami percayai begitupun dengan mereka yang beragama berbeda. Tidak pernah menghalangi mereka beribadah meskipun sepupu yang kristian tinggal bersama kami. Alhamdulillah sepupu yang kristian kini sudah menjadi muslimah yang taat dan syari dalam keseharian. Allah yang maha membolak-balikan hati. Dan toleransi di keluarga kami "bagiku agamaku dan bagimu agamamu." Tanpa memaksa untuk mengikuti agama kepercayaan masing-masing. Kami hanya saling mendoakan dalam keheningan. 

  • view 249